Syubhat:
SHIAHINDONESIA.COM – Mengapa di dalam ayat 29 surah Al-Baqarah Allah Swt. berfirman, bahwa semua yang ada di muka bumi adalah ciptaan pertama-Nya, lalu Dia menciptakan langit, akan tetapi di dalam ayat 27-33 di dalam surah an-Naziat, Allah berfirman bahwa pertama kali yang Allah ciptakan adalah langit lalu bumi dan seisinya. Bukankah hal ini tampak bertentangan?
Jawab:
Dengan memperhatikan secara teliti, di dalam teks Arab, bahwa ayat dan beberapa kata yang ada di dalam surah-surah tersebut menunjukkan kalau kedua ayat di dalam surah-surah tersebut tidak berbicara soal urutan penciptaan langit dan bumi.
Untuk memahami beberapa ayat di atas (yang secara lahiriah bertentangan), mari kita liat beberapa ayat di bawah ini.
1. Ayat 29 Surah Baqarah:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29).
Di dalam surah ini, salah satu ungkapan yang ada di dalam ayat tersebut adalah ‘istawa ila sama’. Para ahli tafsir, untuk memahami kalimat tersebut, mereka membawakan ungkapan bahasa Arab dari Imam Ali,
كان الأمير يدبر أمر الشام ثم استوى إلى أهل الحجاز
Yang artinya adalah ‘Imam Ali mengatur perkara-perkara yang ada di Syam (Suriah), lalu ia menuju ke Hijaz dan mengatur yang ada di sana.’ Atas dasar ini, makna dari ‘istawa’ adalah mengacu pada pengaturan. Dengan memperhatikan makna tersebut, maka arti di dalam ayat di atas adalah sebagai berikut, “Ia menuju pada langit untuk mengatur”.
Ketika makna ini menjadi sempurna, maka kita perlu sandingkan dengan ayat yang lain di dalam al-Quran, maka akan berbunyi demikian, “Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi.” (QS. As-Sajjad: 5).
Di dalam lanjutan ayat dari surah Al-Baqarah tersebut adalah “…lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit.”
Di dalam bahasa Arab, kata ‘sawwaya’ yang terdapat di dalam kamus bahasa Arab berartikan menggandakan dan menyempurnakan. Kata Sama’ (Langit) di dalam buku-buku kamus bahasa Arab, berasal dari akar kata samawa, yang berarti ketinggian langit di atas segala sesuatu (Mufradat Alfadz-e Quran, Raghib Isfahani, hal. 427).
Dengan penjelasan di atas, maka arti yang benar dari ayat 29 surah Al-Baqarah adalah berbunyi sebagai berikut.
“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29).
Seolah, Allah Swt. untuk mengatur alam dunia, ia mengaturnya dari atas (langit), dalam pengaturan-Nya, ia mengatur tujuh langit yang tersusun, di mana meskipun setiap satu dari ketujuh langit itu adalah bagian kesatuan dari langit yang atas, namun secara hukum langit, ketujuh langit itu memiliki tingkatan yang ada di bawahnya, dan semua itu masih memiliki hubungan dengan (pengaturan-Nya).
Allamah Thaba’thaba’i di dalam tafsir al-Mizan berkata,
“Dari ayat tersebut, tujuannya adalah hendak menjelaskan nikmat-nikmat (Allah) yang telah diberikan kepada manusia. (Kami telah menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk manusia-QS. Al-Baqarah: 29).
Lalu, di dalam terusan ayat tersebut, Allah hendak menjelaskan secara lengkap dari nikmat-nikmat-Nya. Dengan memperhatikan poin ini, kita akan dihantarkan pada sebuah pemahaman, bahwa ketersusunan tingkatkan langit yang ada tujuh tingkatan, adalah untuk manusia dan untuk urusan keberlangsungan hidup manusia. (Tafsir Al-Mizan, jil.1, hal. 113).
Dengan penjelasan di atas, maka sudah jelas, dengan segala takdir yang ada, maka tidak ada satu pun lafaz dari ‘istawa’ dan ‘sawaya’ di dalam ayat di atas yang berarti penciptaan. Kalaupun ada seorang penerjemah yang menerjemahkan lafaz di atas dengan arti penciptaan, maka ia tidak teliti (dalam menerjemahkan).
2. Ayat 27-30 Surah An-Naziat:
أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا
رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا
وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا
وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا
“Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya,” (27)
“Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya,” (28)
Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang,” (29)
“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya,” (30)
Di dalam ayat dari surah tersebut, tidak berbicara tentang urutan dari penciptaan langit dan bumi, lantaran lafaz ‘duhaha’, ayat 30, tidak memiliki arti penciptaan, namun memiliki arti penghamparan.
Dengan memperhatikan hal itu, arti dari lafaz di atas adalah menghamparkan bumi yang kering dan persiapan untuk dijadikan sebagai tempat tinggal. Di mana, hal ini dijelaskan di dalam kitab-kitab kamus al-Quran, seperti kitab Majma’ul Bahrain, jil. 1, hal. 104 dan kitab Nasr Thuba, jil. 1, hal. 253.
Atas dasar ini, sebagaimana yang Anda baca, tidak ada satu pun ayat yang berbicara tentang urutan penciptaan langit dan bumi, sehingga dapat menimbulkan kontradiksi di antara keduanya, karenanya syubhat yang dilontarkan tentang ayat ini tidaklah dapat diterima.





