SHIAHINDONESIA.COM – Di dunia yang dikuasai oleh keberagaman keyakinan dan pandangan, satu pertanyaan terus menggelitik pikiran para muslim adalah, “Apakah Al-Quran hasil karya manusia yang brilian atau pesan ilahi yang suci?”
Di tengah perdebatan yang panas dan penuh emosi, di sini, kita akan mencoba memahami kontroversi ini dengan lebih dalam.
Syubhat:
Dalam menjelaskan keajaiban Al-Quran, seringkali terdapat keraguan tentang kesesuaian bahasa Al-Quran dengan standar bahasa Arab. Beberapa mengklaim bahwa karena beberapa ayat tidak sesuai dengan aturan tata bahasa Arab, maka Al-Quran tidak dapat dianggap sebagai mukjizat dalam aspek bahasanya.
Jadi…. lambat laun, bisa saja dikatakan bahwa Al-Quran adalah kitab buatan manusia. Atau setidaknya, lama-lama, banyak juga yang ragu mengenai apa benar Al-Quran adalah karya Tuhan?
Jawaban:
Sebenarnya, keraguan semacam itu dapat diatasi dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah perkembangan bahasa Arab.
Tinjauan sejarah menunjukkan bahwa aturan tata bahasa Arab muncul setelah penurunan Al-Quran. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan akan aturan-aturan tersebut sebagai respons terhadap kekhawatiran akan kelestarian bahasa Arab dan teks Al-Quran, terutama karena ekspansi dakwah Islam dan interaksi Arab dengan bangsa-bangsa lainnya.
Tidak ada catatan sejarah yang menunjukkan adanya upaya pembentukan aturan tata bahasa Arab sebelum Abu Al-Aswad Al-Du’ali di bawah pengawasan Imam Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhainya) pada masa kekhalifahan beliau.
Pembentukan aturan tata bahasa Arab bukanlah penciptaan baru, melainkan penemuan yang dilakukan oleh sekelompok individu yang tertarik pada urusan bahasa Arab.
Mereka mengamati praktik penggunaan bahasa Arab oleh masyarakat Arab dalam penampilan dan pengucapan saat berbicara. Oleh karena itu, bahasa Arab asli menjadi sumber utama dalam pembentukan kerangka dasar dan perincian aturan tata bahasa.
Al-Quran, sebagai karya bahasa Arab yang paling kokoh dan jelas, menjadi patokan dalam menilai kebenaran aturan tata bahasa Arab. Dalam hal ini, Al-Quran menjadi acuan utama, bukan sebaliknya.
Selain itu, tidak ada catatan sejarah yang menunjukkan adanya kritik atau celaan terhadap kefasihan dan ekspresi Al-Quran dari orang-orang Arab sezaman dengan penurunan Al-Quran.
Meskipun beberapa dari mereka adalah ahli retorika dan fasih dalam berbahasa Arab, mereka justru mengakui kebesaran kefasihan Al-Quran dan terpesona oleh keindahan ekspresinya. Ini menunjukkan betapa dalamnya keyakinan mereka pada kebenaran ekspresi Al-Quran yang mengalir, yang jauh melampaui bentuk retorika dan bahasa yang biasa mereka temui.
Semua ini menegaskan bahwa Al-Quran adalah sumber yang paling sahih dalam pembentukan aturan tata bahasa Arab, dan kesempurnaan bahasa Al-Quran menjadi tolok ukur kebenaran aturan tata bahasa Arab. Oleh karena itu, pemahaman aturan tata bahasa Arab haruslah bersumber dari Al-Quran, bukan sebaliknya.





