[Jawab Syubhat] Benarkah Para Imam Maksum Tak Tahu Soal Kematian Mereka

SHIAHINDONESIA.COM – Bila berbicara tentang kematian, rasanya kita, sebagai muslim, meyakini bahwa waktu kita di dunia telah ditentukan oleh Allah Swt., Sang Khaliq. Artinya, setiap kita akan mengalami kematian, dan satu hal yang sangat lumrah dan ma’ruf di telinga kita bahwa kita tidak mengetahui alias jahil perihal kapan kita meninggal.

Namun, bagaimana dengan para maksumin? Apakah mereka juga tidak tahu kapan ajal menjemput mereka? Ada sebuah syubhat yang menarik yang sempat saya baca, di mana syubhat itu sebagaimana berikut.

Syubhat:

Para imam atau maksumin tidak tahu kapan mereka meninggal, karena yang mengetahui hal itu hanya Allah Swt, dan bila mereka tidak tahu soal itu, artinya mereka tidak pintar dalam segala hal.

Jawab:

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya di sisi Allah ada ilmu tentang Hari Kiamat, Dia menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Tidak ada jiwa yang tahu apa yang diperolehnya besok, dan tanah apa yang akan diisinya. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengetahui” (QS. Lukman: 34).

 إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ } [ الآية 34 من سورة لقمان]

Ayat ini menyiratkan bahwa setiap jiwa tidak mengetahui di mana akan mati, bukan secara pribadi. Namun, tidak masalah jika Allah memberitahukan hal itu kepada sebagian hamba-Nya, baik terkait dengan-Nya atau kehidupan pelayan lainnya.

Riwayat-riwayat mulia menunjukkan bahwa para imam diberikan pilihan mengenai kematiannya. Misalnya, Imam Al-Kadhim memberitahu kelompok bahwa dia akan meminum racun besok. Imam Al-Sajjad memberitahu Imam Al-Baqir tentang kematiannya pada malam dia meninggal. Imam Husein memilih untuk bertemu Tuhan Yang Maha Esa daripada menang.

Ada bukti bahwa Imam Ali diberi pilihan pada malam kesyahidannya, dan Imam As-Sadiq menceritakan bahwa ayahnya jatuh sakit parah.

Suatu riwayat mengatakan bahwa seseorang bertanya kepada Imam Ridha As. apakah Imam (Imam Ridha sendiri atau Imam yang dimaksud dalam pertanyaan tidak dijelaskan dengan jelas) mengetahui kapan dia akan meninggal. Imam Ridha As menjawab bahwa Imam (yang disebutkan dalam pertanyaan) mengajar dan telah maju atau berkembang dalam bidangnya.

Maksudnya adalah bahwa dalam riwayat tersebut, seseorang menanyakan apakah seorang Imam mengetahui waktu kematian mereka. Imam Ridha menjawab bahwa Imam tersebut lebih memilih untuk mengajar dan mengembangkan pengetahuannya daripada memiliki pengetahuan tentang waktu kematian pribadinya.

Ada banyak hadis lain yang mendukung makna ini.

Jawaban ini adalah apa yang saya pahami dari artikel yang ada di https://almerja.com/more.php?idm=67159

Sumber:

(1) Al-Kafi, jilid 1, hal.259.

(2) Al-Kafi, vol.1, hal.259, dan Basa’ir al-Darajat, hal.483.

(3) Al-Kafi, jilid 1, hal. 260, Al-Bahar, jilid 45, hal. 12, dan Al-Lahuf fi Maqtalat al-Tuffuf, hal. 61.

(4) Al-Kafi, vol.1, hal.259, dan Nour al-Thaqalayn, vol.4, hal.221.

(5) Basa’ir al-Darajat, hal. 481, dan al-Bihar, vol. 27, hal. 287.

(6) Basa’ir al-Darajat, hal. 481 dan 483, dan Al-Bihar, vol. 27, hal. 285 dan 286.

(7) Basaer Al-Darajat, hal. 482.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top