Sayyid Khu’i Menjawab Syubhat tentang Tahrif al-Quran

SHIAHINDONESIA.COM – Dari sudut pandang ulama Syiah, tidak ada tahrif (penyimpangan/pengurangan-penambahan ayat) di dalam al-Quran. Dan tidak ada kemungkinan tahrif di dalam al-Quran. Namun, bagi sebagian orang yang mengklaim adanya tahrif di dalam al-Quran, mereka berusaha mencari celah dan merencanakan bahwa di dalam al-Quran terdapat sebuah tahrif.

Oleh karena itu, berpijak pada rencana ini, bahwa al-Quran di-setting oleh mereka (agar memiliki tahrif) sudah menjadi tujuan mereka, maka di sini kami suguhkan salah satu dalil (andalan mereka) yang berpijak pada kemiripan umat Islam dengan umat-umat sebelumnya, yang dinukil dari hadis nabi.

Tidak diragukan lagi, bahwa di dalam Injil dan Taurat terdapat sebuah tahrif. Di dalam sebuah riwayat yang mutawatir, baik yang dinukil dari jalur Syiah maupun Sunni, tentang apapun yang telah terjadi pada umat-umat sebelumnya, maka pasti akan terjadi pula pada umat di zaman ini. Salah satu dari riwayat ini adalah sebuah hadis yang dinukil dari Imam Ja’far Shadiq, dan ia berkata,

کل ما کان فی الأمم السالفه، فإنه یکون فی هذه الأمه

 “Segala sesuatu yang terjadi di umat-umat sebelumnya, maka hal itu akan terjadi pada umat di masa ini..” [1]

Salah satu yang terjadi pada umat sebelumnya adalah tahrif Taurat dan Injil. Oleh karenanya, kesimpulan dari hadis di atas adalah, bahwa di dalam umat Islam juga mestinya terdapat sebuah tahrif di dalam al-Quran mereka. Jika tidak demikian, maka hadis di atas tidaklah benar.

Jawaban Ayatullah Khu’i tentang Syubhat Tahrif Al-Quran:

  1. Riwayat di atas adalah khabar wahid, yang tidak memiliki kebenarannya. Adapun klaim bahwa riwayat di atas merupakan mutawatir adalah pernyataan yang berlebihan, dan tidak memiliki argumentasi  (yang bisa dipertanggungjawabkan), dan di dalam kutubul arba’ah (kitab-kitab rujukan mazhab Syiah), bahwa tidak tercantum riwayat di atas di dalam kitab-kitab tersebut. oleh karenanya, tidak ada keniscayaan bahwa adanya tahrif di dalam Taurat dan Injil mengharuskan adanya tahrif di dalam Al-Quran pula.
  2. Jika seandainya klaim mereka tentang tahrif al-Quran itu benar, maka seharusnya menunjukkan adanya penambahan (ayat/surah) di dalam al-Quran, sebagaimana di dalam Taurat dan Injil yang bertambah, sementara pada saat yang sama tidak ada tambahan di dalam al-Quran adalah perkara yang sudah jelas
  3. Betapa banyak fenomena yang terjadi pada umat zaman dahulu, namun hal serupa justru tidak terjadi pada umat Islam (saat ini), seperti penghambaan pada anak sapi, 40 tahun penentangan Bani Israil, tenggelamnya Fir’aun dan para sahabatnya, kerajaan Nabi Sulaiman untuk jin dan manusia, terbangnya Nabi Isa ke langit dan kejadian yang lainnya. Dan hal ini adalah argumentasi yang cukup jelas tentang tidak adanya kesesuaian riwayat di atas, bahkah hal ini menafikan tentang semua kejadian di umat masa lalu akan terjadi pula pada umat Islam sekarang. [2]

Di dalam sebuah hadis dari Nabi Muhamad Saw (yang telah disinggung di awal tulisan ini)., bahwa umat Islam menyerupai dengan umat sebelumnya, setiap fenomena yang telah terjadi pada umat zaman dahulu, akan terjadi pada umat Islam di zaman sekarang.

Bagi sebagian orang, riwayat ini dijadikan sebagai pijakan (untuk dijadikan sebagai dalil), bahwa terdapat sebuah tahrif di dalam  al-Quran, sementara riwayat tersebug termasuk sebagai riwayat yang tidak memiliki keabsahan dari sisi kemutawatirannya. Jika demikian, riwayat di atas tidak bisa dipertanggungjawakan kebenarannya.

*Artikel ini telah diterjemahkan dari artikel berbahasa Persia Untuk melihat artikel aslinya, silakan kilk di sini.


[1] Uyun Akhbar ar-Ridho, jil. 2, hal. 201

[2] Al-Bayan fi Tafsiril Quran, hal. 221

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top