SHIAIHINDONESIA.COM – Imam Ridho dalam menjawab sebuah pertanyaan dari seseorang tentang bacaan surah Al-Fatihah di dalam salat, ia menjawab demikian.
“Karena, tak ada satu pun di dalam Al-Quran dan ucapan yang di dalamnya berkumpul kebaikan-kebaikan dan hikmah, kecuali berkumpul di dalam surah Al-fatihah.”
Di dalam penjelasan materi ini, dapat dikatakan bahwa surah Al-fatihah, di antara surah-surah yang lain, dari sisi kandungannya memiliki pengaruh terhadap jiwa dan memiliki cahaya yang luar biasa.
Di dalam sebuah riwayat dikatakan, bahwa surah Al-fatihah merupakan pokok daripada al-Quran, dan tak ada satu pun yang menyerupai surah Al-fatihah di dalam kitab Taurat, Injil dan Zabur.
Dengan melihat secara umum tujuan dan kandungan dari surah Al-fatihah, maka akan jelas bahwa terdapat tujuan-tujuan terpenting dari surah yang lain , di dalam surah ini (Al-fatihah), dan hal itu menegaskan akan penghambaan, yang merupakan tujuan asli dari al-Quran.
Kandungan dari surah Al-fatihah merupakan kesimpulan dari sekumpulan al-Quran. Salah satu perihal di surah ini adalah tentang Rabbul Alamin (mengatur alam semesta), Rahman (yang mengasihi), Rahim (yang Menyayangi), dan sebagainya, tentang keesaan dan sifat-sifat Allah.
Satu hal lain, yang terkandung di dalam surah ini adalah tentang petunjuk dan kesesatan, dan mengenalkan manusia pada nikmat Allah yang telah diberikan kepada makhluk-Nya, dan juga menetapkan pada penyimpangan, yaitu untuk orang-orang yang dibenci dan tersesat.
Tidak ada satupun di dalam Al-Quran dan ucapan yang semua kebaikan dan kebijaksanaan berkumpul di dalamnya, kecuali hanya berkumpul di dalam surah Al-fatihah. Oleh karenanya, Allah tetapkan surah pendek ini sebagai interpretasi dari seluruh isi Al-Qur’an, sebagaimana Allah berfirman,
“Kami benar-benar menganugerahkan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.” (QS. Hijr: 87)
Surah Al-fatihah: Hubungan Tanpa Wasilah antara Tuhan dan Manusia
Salam satu keistimewaan yang lain dari surah ini adalah kelunakan hubungan tanpa perantara antara manusia dan Allah. Sebagaimana dalam sebuah penggalan dari surah ini, “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami perlindungan. Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus.”
Ungkapan di atas secara keseluruhan hendak mendekatkan manusia kepada Tuhannya, terlebih manusia (Muslim) yang membacanya setiap hari (di dalam salat), maka hal itu akan lebih memperkuat hubungannyq dengan Allah Swt.
Surah ini pada dasarnya memiliki perbedaan yang cukup kentara dengan surah yang lain, dari sisi gaya pelafalannya. Adapun surah-surah lainnya adalah sebagai Kalam Allah (Allah yang berbicara kepada manusia), namun di dalam surah ini, terjadi sebuah percakapan (munajat) seorang hamba kepada Rab-nya, dengan tujuan Dia tengah menjarkan kepada manusia (dalam bermunajat).
Lantaran salah satu penggalan dari surah ini berkata, ‘Maliki yaumiddin’ , itu memiliki kaitan pada pujian dan rasa syukur serta sifat-sifat Allah, sehingga para hamba mengenal Allah pada ayat pertama dalam surah ini. Setelah itu, manusia diarahkan untuk bermunajat kepada-Nya, hingga akhir surah.
Dengan memperhatikan materi di atas, maka jelaslah urgensi dari perkataan Imam Ali Ar-Ridho,tentang bagaimana seluruh kebaikan dan keberkahan berkumpul di dalam surah Al-fatihah, yang tak terdapat hal serupa di surah-surah manapun.
Sumber:
1. Uyun Akhbar ar-Ridho, Jil. 2, hal. 114
2. Nur As-Tsaqalain, Jil. 1, 3/ Majma’ Al-Bayan, Jil. 1, hal. 87
3. Tafsir Nemuneh, Jil. 1, hal. 2
*Artikel ini hasil terjemahan dari artikel asli berbahasa Persia, yang bisa Anda rujuk di sini





