SHIAHINDONESIA.COM – Salah satu permasalahan yang sangat penting di dalam konsep Tuhan adalah tentang kemustahilan seseorang memahami hakikat dzat-Nya. Secara akal, permasalahan ini dapat diterima oleh akal secara jelas, sebab sesuatu yang terbatas tak dapat memahami sesuatu yang tak terbatas. Ambil contoh, ada sebuah wadah air yang hanya mampu menampung air satu liter, maka wadah tersebut tak akan mampu menampung air dua liter atau yang lebih besar ukurannya dari itu.
Karenanya, berbicara tentang hakikat Tuhan dan mencari tahu tentang hakikat-Nya di tempat yang terbatas, tidaklah mungkin dan mustahil. Dan seseorang yang hendak mengenalkan hakikat Tuhan kepada orang lain, usaha itu hanya akan berujung pada memperlihatkan kebodohan dan kesesatannya.
Mereka berkata: ‘Mereka menanyakan pendapat salah satu ilmuwan ( Einstein) tentang Tuhan, dan dia menjawab sebagai berikut: Jika saya dapat menemukan alat untuk berbicara dengan mikroba kecil yang duduk di atas sehelai rambut kepala manusia, saya akan berbicara dan menanyakan di mana dia melihat dirinya, sehingga dia dapat menjelaskan tempatnya kepada saya, dia akan menjawab:
Saya sekarang berdiri di atas sebuah pohon besar kokoh yang sangat kokoh dan stabil serta tinggi dan Tinggi cabang-cabangnya menjulur ke langit. Jika ada yang ingin memberi tahu mikroba tersebut bahwa yang Anda duduki adalah pohon yang tinggi, bukan pohon kecil atau bibit.
Sebaliknya, sehelai rambut adalah salah satu dari sekian banyak rambut di kepala manusia, dan kepala manusia adalah salah satu bagian tubuhnya, dan ada ribuan juta orang di dunia, dan miliaran orang telah dan pergi selama bertahun-tahun. Bisakah mikroba itu dapat menggambarkan tubuh dan struktur serta sifat-sifat manusia?
Dia tidak pernah bisa membayangkannya. Maka, saya yang jauh lebih kecil dari mikroba ini dibandingkan dengan Tuhan yang maha besar, bagaimana mungkin saya bisa menemukan Tuhan yang melingkupi segalanya, Tuhan yang kekuasaannya tiada habisnya? Dan kehebatannya tidak terbatas.
Di dalam salah satu ayat Al-Qur’an dikatakan, “Tiada yang menyerupai-Nya (Tuhan).” (QS. As-Syuro: 11)
“Segala sesuatu akan musnah, kecuali Dia.” (QS. Qasas: 88).
Tidak ada yang menyerupainya, baik itu materi maupun non-materi.
Manusia yang segala sesuatu (materi) dapat dirasa oleh inderanya, namun hingga detik ini ia tak mampu mengenal hakikat Tuhan. Bahkan, ia pun tak tahu hakikat dirinya. Bagaimana mungkin sesuatu yang tak diketahui hakikatnya, namun dapat diterima dan diimani?
Untuk menjawab pertanyaan tadi, tentu sangat mudah. Kita balik bertanya, bukankah Anda juga menyakini sesuatu yang kalian tak tahu hakikatnya? Bukankah hakikat cahaya, materi dan listrik, hakikat ruh dapat Anda pahami? Hakikat makhluk yang mana, yang Anda dapat ketahui melalui penciptanya?
Apakah Anda mengetahui hakikat air, api dan tanah? Jika Anda tahu akan itu semua, maka kenapa api dapat terbakar dan air tidak terbakar? Ini masih dengan air dan api, dan hingga detik ini kita tak mampu mengetahui hakikatnya.
Manusia yang setiap hari bersentuhan dengan sesuatu yang dapat diindera saja, tidak mengetahui hakikat sesuatu itu sendiri, bahkan hingga detik ini mereka tak mengetahui hakikat dirinya, apalagi hendak mengetahui hakikat Tuhan, maka jelas itu lebih berat bagi mereka.
Sumber: Disadur dari ceramah Ayatullah Safi Gulpaigoni tentang Elohiyat dar Najmul Balagheh (Ketuhanan di Dalam Nahjul Balaghah),






