Tanya Aqidah: Bagaimana Jika Pencipta Alam Ternyata Ganda?

SHIAHINDONESIA.COM – Dalam perjalanan pencarian makna hidup dan eksistensi, seringkali muncul pertanyaan yang kompleks mengenai Tuhan dan penciptaan. Salah satu pertanyaan yang diutarakan oleh seorang yang mencari adalah apakah mungkin Pencipta dunia itu lebih dari satu?

Dalam menjawab tantangan ini, Abu Abdullah memberikan pencerahan yang mendalam, menguraikan aspek-aspek yang kompleks dengan sederhana. Mari kita bersama-sama menjelajahi jawaban yang bijak ini untuk memahami esensi keesaan dan kebijaksanaan Sang Pencipta.

Pertanyaan:

Dalam sebuah riwayat, Hisham bin Hakam bertanya kepada Imam Abi Abdillah (as) (Imam Ja’far Shodiq), “Apakah mungkin ada lebih dari satu pencipta alam semesta?”

Jawaban:

Imam Abi Abdillah (as) menjawab, “Pernyataanmu pada dasarnya menyiratkan bahwa keduanya harus kuat bersama, lemah bersama, atau salah satu kuat dan yang lainnya lemah.

Jika keduanya kuat, kenapa tidak saling menghapuskan dan mengklaim kepemilikan rabbaniyah masing-masing?

Jika kamu berpendapat salah satu kuat dan yang lain lemah, itu menunjukkan bahwa pada dasarnya keduanya satu, dengan pertimbangan ketidakmampuan yang jelas pada yang kedua.

Jika kamu mengklaim bahwa keduanya berbeda, maka tidak terhindarkan bahwa keduanya harus setuju dari segala sudut pandang atau berbeda dalam setiap aspek. Namun, keteraturan alam semesta, gerakan benda langit, perbedaan antara malam dan siang hari, matahari, dan bulan membuktikan bahwa segala sesuatu diatur dengan baik dan diatur oleh Pengatur tunggal yang mendukung eksistensi semesta ini.”

Info tambahan:

(١) Hisham bin Al-Hakam Al-Kindi, yang juga dikenal sebagai Mawla mereka Al-Baghdadi, tinggal di Bani Shayban di Kufa dan lahir di Kufah. Tempat kelahirannya di Wasit, dan dia berdagang di Baghdad, kemudian pindah ke sana pada akhir hidupnya pada tahun sembilan puluh sembilan ratusan. Dikatakan bahwa tahun ini adalah tahun kematiannya.

Dia adalah pemimpin, wajah, juru bicara, dan pendukung Ahlulbait dalam ilmu ushul, dan dia memiliki kisah-kisah unik dan lelucon-lucu dari dialog-dialog dengan mereka yang para ulama kita sepakat tentang keandalannya, serta prestise dan kedudukannya di mata para Imam kita yang maksum.

Dia adalah salah satu yang mendalami pembahasan tentang kepemimpinan (Imamah) dan menyempurnakan doktrin melalui pemikiran. Dia sangat pandai dalam seni bicara, tangkas dalam memberikan jawaban, dan diakui keandalannya dalam meriwayatkan hadis dengan menyelidiki dengan baik dalam masalah ini.

Hisham meriwayatkan dari Imam Abu Abdillah dan Imam Abu Al-Hasan, Alaihima As-Salam. Dia hidup setelah Imam Abu Al-Hasan, dan ketika Hisham meninggal, Imam Ar-Ridha, Alaihis Salam, merahmatinya. Dia meriwayatkan dari Abu Hashim Al-Ja’fari, yang berkata: “Aku berkata kepada Abu Ja’far Muhammad bin Ali Al-Thani, Alaihis Salam, ‘Apa pendapatmu tentang Hisham bin Al-Hakam?’ Dia menjawab, ‘Semoga Allah merahmatinya, dia tidak salah dalam masalah ini.'”

Sumber:

1. Safinatul Bihar, Jilid 2, halaman 719; Rijal Asy-Syaikh, halaman 729; Rijal Al-‘Allamah, halaman 178.

*Artikel diterjemahkan dan diolah dari artikel asli yang bisa dilihat di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top