SHIAHINDONESIA.COM – Dinukil dari putra Ayattullah Amini, bahwa ia bertutur,
Sebagian orang berpikiran, bahwa kitab Al-Gadhir ditulis dengan mudah oleh Ayatullah Amini. Kenyataannya, Ayatullah Amini bekerja keras menulis kitab tersebut (dengan membaca banyak buku).
Di hadapan rumah kami, ada perpustakaan milik Ayatullag Kasyiful Githa’. Selain perpustakaan, ia juga memiliki sekolah yang berada di sisi perpustakaan, yang terdapat sepuluh ruangan.
Perpustakaan itu adalah warisan dari ayahnya, Syekh Ali Kasyiful Githa’, yang kala itu belum dilengkapi fasilitas yang lengkap. Ayatullah Amini selalu pergi ke perpustakaan itu. Biasanya, ia pergi ke perpustakaan sedari pagi hari.
Sangking asyiknya menelaah buku di perpustakaan, sampai membuatnya lupa waktu. Pernah suatu hari, di sore hari, ketika petugas perpustakaan hendak pulang, ia mengunci pintu perpustakaan, di saat yang sama, ia tidak tahu kalau Ayatullah Amini masih membaca buku di dalamnya.
Setelah berlalu sehari, pagi-pagi petugas itu datang lagi ke perpustakaan. Ketika ia masuk ke dalamnya, ia mendapati bahwa Ayatullah Amini masih asyik membaca buku.
Dengan penuh keheranan, ia pun bertanya, “Kapan Anda datang kemari, kok pagi-pagi sudah berada di sini?”
“Dari kemarin aku berada di sini. Bukankah Anda yang mengunci aku di dalam perpustakaan ini?”
Suasana pun menjadi hening.





