SHIAHINDONESIA.COM – Al-Qur’an dengan segenap keagungan dan kemampuan serta kedudukannya, dibungkus dengan deretan huruf dan lafaz serta kalimat-kalimat. Hal ini tak lain adalah kecintaan Allah kepada para manusia, dan melalui kelemahlembutan (kedekatan mereka dengan Al-Qur’an) mereka, maka pemahaman mereka (pada Al-Qur’an) akan semakin dekat.
Seolah Allah mendekatkan Al-Qur’an dengan mereka. Allah sedikit menurunkan kedudukannya untuk menyesuaikan ‘rasa’ (kemampuan mereka untuk memahami Al-Qur’an). Jika tidak begitu, maka makhluk di mana dan Allah di mana. (Jarak keduanya sangat jauh). Maka, di setiap huruf Al-Qur’an terdapat ribuan makna kode..
Pada kenyataannya, dengan turunnya Al-Qur’an Allah memperluas dengan menanam huruf dan lafaz (makna lahir) disertai dengan bebijian makna batin, untuk memancing burung-burung dari langit, di mana bagi setiap burung telah ditetapkan rezekinya masing-masing.
Namun, sebagian orang tak mampu merasakan dan memanfaatkan makanan batiniah ini. Dan mereka tak mampu memahami makna batin dari Al-Qur’an, namun bagi mereka yang hatinya disinari dengan cahaya Al-Qur’an, dan terbebas dari hijab materi, mereka mampu memahami makna batin ayat Al-Qur’an.
Oleh karenanya, Al-Qur’an dengan tuntutan kondisi adalah senjata bagi manusia. Segala jenis rezeki, baik yang bersifat materi maupun non-materi berkumpul menjadi satu di dalamnya.
Setiap ilmu, dari mulai hikmah-himah dan pengetahuan yang merupakan asupan bagi ruh, dan adanya materi lain, yang bersifat materi dan konsep berupa kisah-kisah dan hukum syariat mencakup hukum warisan dan pernikahan dan sebagainya telah tertuang di dalamnya.
Maka, jika dari dalam Al-Qur’an adalah jalan bagi Anda untuk menuju alam malakutiah dan makna batin Al-Qur’an, maka Anda akan paham bahwa penjelasan dari semua sesuatu ada di dalam Al-Qur’an.
Akhir kata, adanya makna batin dari Al-Qur’an itu berdasarkan dalil naqlil, yaitu berupa riwayat terpercaya yang telah mengabarkan hal itu dan tidak jauh dari jangkauan akal, karena itu, berdasarkan keistimewaan dari kitab ini, yang telah dibahas sebelumnya, maka tidak dapat dibatasi hanya dari makna lahirnya saja.
Poin lainnya adalah, pokok pembahasan tentang makna lahir dan batin dari Al-Qur’an dan ‘hidup’ dan keabadiannya dan telah ditekankan oleh Ahlulbait, karena Al-Qur’an adalah mukjizat abadi Rasulullah Saw., di mana keniscayaan itu dapat terpancar oleh kesesuaian Al-Qur’an yang selalu memberikan manfaat di setiap zaman dan fase.
Di mana, salah satunya adalah ayat-ayatnya yang dapat diterapkan di dalam kehidupan nyata. Dan tidaklah benar jika ada orang yang berkata apa manfaat dari ayat Al-Qur’an dengan konteks zaman sekarang, karenanya kita tak boleh melupakan makna batin dari Al-Qur’an, dan kita harus akui bahwa perkataan di atas semata karena kebodohan manusia itu sendiri, bukan karena kekurangan yang ada di dalam Al-Qur’an.
Sumber:
- Mujazat Nabawiyah, Sayyid Ridha, hal. 236
- Al-Kafi, Kulaini, jil. 1, hal. 374
- Nahjul Balaghah, khutbah 158
- Basha’iru Ad-Darajaat, Muhammad Hasan Safar, jil. 1, hal. 195
- Al-Kafi, Kulaini, jil. 8, hal. 312
- Shaduq, jil. 1, hal. 234
- Nahjul Balagahah, khutbah 158
- Basha’iru Ad-Darajaat, jil. 1, hal. 193
- Ma’ani Al-Akhbar, Syekh Shaduq, hal. 259
- Basha’iru Ad-Darajat, jil. 1, hal. 196
- Hikmah Mut’aliyah fil Asfar Al-Arba’ah, Mullah Shadra, jil. 7, hal. 31-46
*Diterjemahkan dari artikel bahasa Persia. Berikut link artikel aslinya





