Kenapa Al-Quran Memiliki Makna Lahir dan Batin? (Bagian 1)

SHIAHINDONESIA.COM – Bagaimana mungkin bahasa Al-Qur’an memiliki makna lahiriah dan batiniah? Bagaimana mungkin Al-Qur’an yang turun untuk manusia dengan pemahamannya dapat berpindah makna menjadi tujuh makna batiniah? Apa yang dimaksud hubungan makna lahiriah dan batiniah di dalam Al-Quran?

Mungkin muncul sebuah kritikan terkait Al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut.

Al-Quran turun dengan bahasa manusia dan turun sesuai dengan pemahaman mereka, namun ia hendak memaparkan makna-makna di balik pemahaman manusia. Maka, di sini tampak kontradiksi. Dengan kata lain, jika Al-Qur’an diturunkan (kepada manusia) sesuai dengan bahasa manusia biasa, ada apa makna di balik itu?

Jawab:

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, maka kita harus berkata,

pertama, adanya makna batin Al-Qur’an di samping makna lahiriah yang dimilikinya, bahwa guru dan penunjuk serta penjelas Al-Qur’an yang sesungguhnya adalah para Imam Ahlulbait.

Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Tidak turun ayat dari Al-Qur’an, kecuali ia memilik (makna) lahir dan batin.” Atau di dalam perkataan lain dari Imam Kadzim As, berbunyi sebagai berikut, “Sungguh, Al-Qur’an memiliki makna lahir dan batin…”

Oleh karena itu, makna batiniah di dalam Al-Quran adalah suatu hal yang jelas. Dan mereka (para Imam Maksum) adalah yang lebih tahu dari orang lain soal makna batiniah di dalam Al-Qur’an.

Kedua, benar bahwa Al-Qur’an diturunkan ke muka bumi ini dengan bahasa manusia, sehingga mereka dapat memahaminya, dan dengan wasilah Al-Qur’an mereka dapat terhidayahi, akan tetapi tidak berarti, setiap manusia memahami manfaat dari seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, sebagaimana pada sebuah buku ilmiah, tidak setiap orang memahaminya, dan butuh pada seorang guru yang dapat menjelaskan materi yang ada di dalamnya.

Masalah lain dari turunnya Al-Qur’an dalam konteks kemampuan manusia dalam memahaminya adalah (sebatas) berkaitan dengan makna lahiriah dari kitab tersebut. Mereka sebatas paham makna secara umum dengan berbekal pada ilmu bahasa Arab, dan sebagian disiplim ilmu terkait atau dengan memperhatikan terjemahan dari ayat Al-Qur’an yang dimaksud.

Seperti makna dari ayat Qul Huwallahu Ahad…( Katakanlah, Dia Allah adalah Esa) dan penggalan ayat yang lain Inna Ma’al Usriyusra (Sungguh bersama kesusahan ada kemudahan) dan sebagainya…

Namun, makna-makna ayat di atas di balik pemahaman manusia biasa, berkaitan dengan makna batiniah dari Al-Qur’an, yang pasti tidak semua orang dapat memahaminya, lantaran seolah-olah di balik lafaz lahiriah ada makna batiniah yang tersembunyi, yang tak tampak dari sisi lahiriahnya.

Pengelasannya begini, bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang Bijaksana, yang memiliki kesempurnaan mutlak, setiap ucapan-Nya adalah sempurna dari beragam sisi.

Lebih jauh lagi, dengan segala keindahan lahiriah dan kefasihan dan kandungan sastra yang memiliki makna tingkat tinggi tanpa kekurangan. Begitu juga, Kalam Allah memiliki beragam dimensi, lantaran ia bersumber dari Dzat yang sempurna, tidak seperti ucapan manusia yang terbatas dan memiliki kekurangan.

Juga perlu diperhatikan, Al-Qur’an adalah kitab penutup, di mana setelahnya tak ada kitab yang turun kepada Nabi, yang bersumber dari Allah Swt. Sebagaimana Allah berfirman dalam surah an-Nahl: 89, yang berkata, “Dan Kami turunkan Al-Qur’an sebagai penjelasan untuk segala sesuatu.”

 Begitu juga Imam Ali as. berkata,

أَلَا إِنَّ فِيهِ عِلْمَ مَا يَأْتِي وَ الْحَدِيثَ عَنِ الْمَاضِي وَ دَوَاءَ دَائِكُمْ وَ نَظْمَ مَا بَيْنَكُم

“Ketahuilah sungguh di dalamnya (Al-Qur’an) ada sebuah ilmu yang hadir, pun juga hadis (kisah) dari masa lalu, juga obat untuk penyakit kalian dan pengatur untuk perkara kalian (perkara dunia dan akhirat).”

Imam Ja’far juga berkata,

فِيهِ خَبَرُ السَّمَاءِ وَ خَبَرُ الْأَرْضِ وَ خَبَرُ مَا يَكُونُ وَ خَبَرُ مَا هُوَ كَائِنٌ، قَالَ اللهُ فِيهِ تِبْيَانُ كُلِّ شَيْ‏ء

“Di dalamnya (Al-Qur’an) terdapat berita dari langit dan bumi dan juga berita tentang apa yang akan terjadi dan yang telah terjadi. Allah berkata bahwa di dalamnya terdapat sebuah penjelasan untuk segala sesuatu.”

Maka, jelaslah bahwa orang-orang ahli kita tidak mampu menyimpulkan dan menentang lafaz-lafaz dan makna lahiriah dari Al-Qur’an, bahkan di balik makna lahiriah, ada makna batiniah yang tak dapat diakses secara mudah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top