Mengabaikan ‘Pangkat’ Demi Umat


SHIAHINDINESIA.COM- Suatu ketika Ayattullah Mirza Syirazi hadir di sebuah majelis, lalu seorang ulama tetiba datang ke majelis tersebut. Ayattullah Mirza Syirazi pun sangat menghormatinya, sehingga membuat para hadirin terheran-heran.

Mereka pun bertanya-tanya siapakah orang tersebut, lalu Ayattullah Mirza menjawab pertanyaan mereka, “Di dalam diri ulama ini terdapat jiwa religius yang luar biasa.”

Aku dan beliau ini (ulama tadi) seperguruan dan kami berdua adalah teman diskusi di masa lalu. Lalu, ketika beliau mencapai pada jenjang Mujtahid yang tinggi, beliau memiliki niat untuk berhijrah ke kampung halamannya, sehingga di sana beliau bisa menjadi tempat rujukan bagi warga sekitar.”

Akan tetapi, di tengah jalan menuju kampung halamannya, beliau menjumpai sekelompok orang yang menuhankan Imam Ali As. Kemudian, ulama tersebut mengambil kesimpulan bahwa wajib hukumnya bagi dirinya untuk tinggal di tempat itu (tempat yang terdapat orang-orang yang menuhankan Imam Ali), sehingga beliau bisa memberi petunjuk (dan mengantarkan mereka ke jalan lurus).”

Atas keputusannya itu, ia meninggalkan derajat tingginya sebagai seorang ulama besar dan beliau tinggal di desa tersebut. Di sebuah masjid beliau mengumumkan kepada banyak orang, bahwa beliau adalah seorang guru yang akan mengajar anak-anak mereka, dan beliau menerima upah dari warga sekita secara sukarela.”

Dengan cara tersebut, beliau berhasil mengumpulkan banyak anak-anak, kemudian beliau pun sibuk mengajar mereka berupa baca-tulis pelajaran akidah tentang pengenalan Tuhan dan beberapa pelajaran Islam lainnya. Dengan usahanya, beliau dapat memetik hasil, di mana sebagian besar dari mereka (menjadi) pribadi yang beriman kepada Allah Swt., dan seluruh warga yang sebelumnya menuhankan Imam Ali As, saat itu juga mereka menjadi pribadi beriman dan meyakini Allah Swt (sebagai Tuhannya).”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top