SHIAHINDONESIA.COM – Imam Ali As suatu hari mengutip sebuah pertanyaan Rasulullah Saw. kepada Allah Swt. tentang ciri-ciri orang yang mencintai dunia. Bagiamana jawaban Allah atas pertanyaan Rasulullah Saw., terkait ciri-ciri pecinta dunia? Mari kita simak bersama riwayat berikut.
صفحه اختصاصي حديث و آيات الإمام عليّ عليه السلام : إنَّ النَّبِي صلي الله عليه و آله سَأَلَ رَبَّهُ سُبحانَهُ لَيلَةَ المِعراجِ فَقالَ : . . . يا رَبِّ ومَن أهلُ الدُّنيا ومَن أهلُ الآخِرَةِ؟
قالَ : أهلُ الدُّنيا مَن كَثُرَ أكلُهُ وضِحكُهُ ونَومُهُ وغَضَبُهُ ، قَليلُ الرِّضا ، لا يَعتَذِرُ إلى مَن أساءَ إلَيهِ ، ولا يَقبَلُ عُذرَ مَنِ اعتَذَرَ إلَيهِ ، كَسلانُ عِندَ الطّاعَةِ ، شُجاعٌ عِندَ المَعصِيَةِ ، أمَلُهُ بَعيدٌ وأجَلُهُ قَريبٌ ، لا يُحاسِبُ نَفسَهُ ، قَليلُ المَنفَعَةِ ، كَثيرُ الكَلامِ ، قَليلُ الخَوفِ ، كَثيرُ الفَرَحِ عِندَ الطَّعامِ ، وإنَّ أهلَ الدُّنيا لا يَشكُرونَ عِندَ الرَّخاءِ ، ولا يَصبِرونَ [ في المصدر «لا يُبصِرون» والأصحّ ما أثبتناه كما في بحار الأنوار . ] عِندَ البَلاءِ ، كَثيرُ النّاسِ عِندَهُم قَليلٌ ، يَحمَدونَ أنفُسَهُم بِما لا يَفعَلونَ ويَدَّعونَ بِما لَيسَ لَهُم ، ويَتَكَلَّمونَ بِما يَتَمَنَّونَ ، ويَذكُرونَ مَساوِئَ النّاسِ ويُخفونَ حَسَناتِهِم .
فَقالَ : يا رَبِّ ، كُلُّ هذَا العَيبِ في أهلِ الدُّنيا؟!
[قالَ:] [ ما بين المعقوفين أثبتناه من بحار الأنوار . ] يا أحمَد ، إنَّ أهلَ الدُّنيا كَثيرٌ فيهِمُ الجَهلُ وَالحُمقُ ، لا يَتَواضَعونَ لِمَن يَتَعَلَّمونَ مِنهُ ، وهُم عِندَ أنفُسِهِم عُقَلاءُ ، وعِندَ العارِفينَ حُمَقاءُ . [ إرشاد القلوب : ص 199 ـ ص 201 ، بحار الأنوار : ج 77 ص 23 ح 6 .
Dari Imam Ali bin Abi Thalib As., ia berkata, “Sesungguhnya Nabi Muhammad Saw., bertanya kepada Allah Swt., pada malam Mi’raj, ‘Wahai Tuhanku, siapakah ahlu dunia (orang yang terikat dengan dunia/pecinta dunia) dan siapakah penghni akhirat?’”
“Ahlu dunia adalah orang yang banyak makan, ketawa, tidur, marah dan sedikit memiliki keridhaan; orang yang tidak memaafkan orang yang berbuat buruk kepadanya; orang yang tidak mau menerima permohanan maaf orang yang meminta maaf kepadanya; bermalas-malasan di dalam ketaatan; pemberani dalam kemaksiatan; angan-angannya jauh, dan kematiannya dekat; tidak bermuhasabah diri (merenungkan dirinya); tidak memiliki kebaikan; banyak berbicara; sedikit memilikir rasa takut, banyak bersenang-senang ketika makan.
Dan sesungguhnya, orang yang terikat dengan dunia tidak bersyukur ketika sedang sejahtera, tidak bersabar (dalam musibah). Banyaknya manusia, di matanya (terlihat) sedikit. Mereka memuji dirinya sendiri atas apa yang tidak mereka lakukan; mengklaim sesuatu yang bukan miliknya; mereka berbicara sesuatu yang diharapkan; membicarakan keburukan manusia dan menutupi kebaikan mereka.”
Rasulullah Saw. bertanya kepada-Nya,
“Wahai Tuhanku, apakah semua aib-aib di atas milik orang-orang yang terikat dengan dunia?”
“Wahai Ahmad, di dunia banyak orang yang bodoh dan tidak menggunakan akalnya. Mereka tidak rendah hati di hadapan orang yang mengajarkan ilmu kepadanya. Mereka membayangkan bahwa diri mereka adalah orang berakal (berilmu), di saat yang sama mereka di mata orang-orang berilmu adalah orang yang tidak menggunakan akalnya (bodoh).”
Sumber:
Biharul Anwar, jil. 77, hal. 23. Hadis 6. /Irsyadul Qulub, hal. 199-201






