SHIAHINDONESIA.COM – Sebuah kisah dikutip dari Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhai keduanya), di mana beliau menyampaikan bahwa sekelompok orang Yahudi mendatangi Rasulullah ﷺ dan bertanya pada beliau tentang beberapa permasalahan agama.
Salah satu yang mereka tanyakan adalah mengapa Allah Swt mewajibkan puasa kepada umatnya selama tiga puluh hari di siang hari, sedangkan Allah telah mewajibkan lebih dari itu kepada umat-umat sebelumnya.
Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan, “Sesungguhnya ketika Nabi Adam AS memakan buah pohon tersebut ( yang dimaksud adalah pohon khuldi ), sisa makanannya tetap berada dalam perutnya selama tiga puluh hari. Maka Allah mewajibkan puasa selama tiga puluh hari – kelaparan, dahaga – kepada keturunannya.
Adapun kebolehan makan di malam hari adalah bentuk karunia Allah yang istimewa bagi mereka. Ketika hal itu berlaku pada Nabi Adam, maka Allah SWT mewajibkan hal tersebut kepada umatku.”
Kemudian, Rasulullah membaca ayat Al-Qur’an,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Dalam kisah tersebut, seorang Yahudi bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ tentang pahala orang yang berpuasa beberapa hari tertentu. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa setiap Muslim yang berpuasa selama bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, Allah akan memberikan padanya tujuh keutamaan atau pahala.
Keutamaan pertama adalah bahwa seseorang akan merasakan sepertiga pencairan dosa saat tubuhnya merasakan panasnya hari. Keutamaan kedua adalah mendekatkan diri kepada rahmat Allah. Keutamaan ketiga adalah bahwa puasa itu bisa menghapus dosa Adam As.
Keutamaan keempat adalah mempermudah proses kematian bagi seorang Muslim. Keutamaan kelima adalah memberikan keamanan dari rasa lapar dan haus di hari Kiamat. Keutamaan keenam adalah memberikan surat kebebasan dari neraka. Dan keutamaan ketujuh adalah merasakan makanan dari surga.
Sumber:
من لا يحضره الفقيه، ج2، ص: 74،ح 1769
Artikel ini adalah artikel terjemahan dari artikel yang tercantum di https://almerja.com/reading.php?idm=211887





