Misteri ‘Jiwa yang Tenang’ dan Pesannya dalam Al-Qur’an

قوله تعالى : {يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ – ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً } [الفجر: 27 -28] .

SHIAHINDONESIA.COM – Berkaitan dengan maksud dari An-Nafsu Mutmainnah dalam ayat suci ini, saya akan mengatakan bahwa terdapat 4 pendapat yang berbicara tentang siapa yang dimaksud dari An-Nafsu Mutmainnah:

Pendapat pertama:

Dikatakan bahwa ayat ini turun untuk Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib As. Furat bin Ibrahim Al-Kufi pernah berkata bahwa telah berbicara kepadaku putra Muhammad Az-Zahari di mana ia berkata, “Telah berbicara kepadaku Ibrahim bin Sulyan dari Hasan bin Gubub dari Abdurrahman bin Salim dari Abi Abidillah Imam Ja’far Shodiq A.S bahwa beliau berpendapat bahwa An-Nafsu Mutmainnah dalam ayat tersebut diturunkan untuk Imam Ali bin Abi Tholib.”

Pendapat kedua:

Dikatakan bahwa ayat ini turun untuk Imam Husain As. dengan dalil sebuah riwayat yang mengatakan bahwa telah berbicara kepada kami Ja’far bin Ahmad, “Telah berbicara kepada kami Abdullah bin Musa dari Hasan bin Ali bin Abi Hamzah dari ayahnya dari Abi Bashir dari Abi Abdillah (Imam Ja’far Shodiq) bahwa maksud dari An-Nafsu Mutmainnah dalam ayat tersebut adalah Imam Husain bin Ali bin Abi Tholib As”

Pendapat ketiga:

Dikatakan bahwa jika potongan An-Nafsu Mutmainnah di atas diturunkan untuk Amirul Mu’minin dan Imam Husain, maka seyogyanya potongan itu juga ditujukan untuk semua imam, termasuk Sayyidah Fatimah Az-Zahra.

Pendapat keempat:

Dikatakan bahwa potongan An-Nafsu Mutmainnah di atas diturunkan untuk kaum mu’min. Saat seorang mukmin menghadapi kematian, terdengar seruan dari Allah, “Wahai jiwa yang tenteram, kembalilah kepada-Ku dalam keadaan telah diridhoi, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” Mereka yang akan menanggapi panggilan tersebut tidak akan memiliki kekhawatiran selain menanggapi seruan tersebut.

Abu Ja’far Muhammad bin Babwayh (semoga Allah merahmatinya) pernah meriwayaktkan dari ayahnya dari Sa’ad bin Abdillah dari Abad bin Sulaiman dari Sadir Ashoyrafi pernah berkata, “Pernah ada yang berkata pada Abi Abidillah (Imam Ja’far Shodiq), “Aku bersumpah demi dirimu, Wahai putra Rasulullah, apakah ketika seorang Mukmin diambil nyawanya, ia dalam kondisi terpaksa?”

Imam pun menjawab, “Tidak. Sesungguhnya ketika malaikat maut mendatangi seorang Mukmin, maka Mukmin itu akan merasa gemetar. Kemudian malaikat maut itu berkata pada Mukmin tersebut, ‘Wahai wali Allah, janganlah kamu bersedih. Demi Tuhan yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, aku bersimpati kepadamu lebih dari seorang ayah yang penyayang kepada anaknya. Buka matamu dan lihatlah.'”

Dikatakan bahwa saat itu, ia mampu melihat Rasulullah, Imam Ali, Sayyidah Fathimah, Imam Hasan, Imam Husain dan para imam yang lain. Malaikat maut pun berkata, “Wahai orang Mukmin, merekalah kekasih-kekasihmu. Mukmin itu pun membuka mata dan melihat manusia-manusia suci itu, lalu terdengar seruan, “Wahai An-Nafsu Mutmainnah, kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan diridhoi dan diselimuti kebaikan, dan masuklah kamu ke golongan hamba-hamba-Ku, yaitu Nabi Muhammad dan Ahlulbaitnya, dan masuklah ke surga-Ku.

Kemudian, terdengar seruan, wahai An-Nafsu Muthmainnah, yang ditujukan pada Nabi Muhammad dan Ahlulbaitnya, masuklah kalian ke surga-Ku, karena tidaklah lebih berharga di sisi-Ku selain seseorang yang mencintai keturunannya dan menanggapi panggilan atau seruan (seruan Allah SWT).

*Artikel ini hasil terjemahan dari artikel berbahasa Arab dengan judul asli ‘Man Hiya Nafsul Muthmainnah?’. Untuk melihat atau membaca artikel aslinya, silakan kilk di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top