Mengapa Mendengar Langsung Kalam Allah Tidak Mencegah Penyimpangan?

SHIAHINDONESIA.COM – Dalam perjalanan spiritual dan pemahaman kitab suci, kita menemui keberatan yang mendalam dari sebagian orang terhadap kata-kata Allah. Ayat-ayat suci yang didengar dan dipahami dengan jelas oleh sebagian orang, malah menjadi landasan bagi penolakan dan penyimpangan.

Artinya, mendengar langsung kalam Allah tidak cukup untuk mencegah mereka dari mengubah makna dan merusak wahyu-Nya. Dan sekarang mari kita telaah lebih jauh fenomena ini dan tinjau bagaimana keberatan tersebut mencerminkan penolakan yang mendalam terhadap petunjuk Ilahi.

Keberatan dalam Mendengar Kata-kata Allah

Allah menyatakan, “Apakah Anda berharap mereka akan beriman kepada Anda, padahal sebagian dari mereka mendengar kata-kata Allah, kemudian mereka memutarbalikkannya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahui?” [QS. Al-Baqarah: 75]

:الآية 75 من سورة البقرة في القرآن تقول

أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Makna Mendengar dalam Konteks Al-Quran

Mendengar dalam konteks “mendengar kata-kata Allah” bisa diartikan mendengar tanpa perantara, seperti yang dialami oleh tujuh puluh orang yang mendampingi Musa As. di gunung Thour.

Ini juga bisa merujuk pada mendengar melalui perantara Rasul Saw, seperti yang diisyaratkan dalam ayat: “Dan jika salah seorang dari orang musyrikin mencari perlindungan kepadamu, berikanlah perlindungan hingga dia mendengar kalam Allah, kemudian bawa dia ke tempat amannya. Itu karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui.” [QS. At-Taubah: 6]

“وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُونَ”

Keterlibatan Orang-orang Yahudi dalam Penyimpangan Kata-kata Allah

Penambahan judul “mendengar” bertujuan untuk menjelaskan bahwa penolakan orang-orang Yahudi telah mencapai titik di mana keterlibatan mereka, baik secara sensorI maupun ilmiah, dalam memahami kata-kata Allah Swt., tidak mencegah mereka untuk merusak wahyu Allah. Meskipun mereka mendengar kata-kata Allah di tingkat persepsi dan memahaminya dengan baik dalam konteks pemikiran, itu tidak menghalangi mereka untuk merusaknya.

Sumber:

[1] راجع تفسير أبي السعود، ج 1، ص 140.

[2] راجع تفسير منهج الصادقين، ج1، ص300 (وهو بالفارسية)؛ وروح المعاني، ج1، ص470؛ وتفسير المنار، ج 1، ص356

[3] راجع تفسير غرائب القرآن ورغائب الفرقان، ج 1، ص316.

Artikel ini adalah hasil terjemahan dari artikel yang ada di https://almerja.com/more.php?idm=207719

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top