Hubungan Antara Turunnya Al-Quran dengan Pengutusan Nabi Muhammad Saw
SHIAHINDONESIA.C0M – Mungkin timbul sebuah pertanyaan, “Bagaimana proses turunnya al-Quran pada malam lailatul qadar di bulan Ramadan, sementara pengutusan Nabi Muhammad Saw—berdasarkan riwayat masyhur—jatuh pada tanggal dua puluh tujuh Rajab?”
Atau dengan pertanyaan lain, “Apakah pengutusan Nabi Saw., berbarengan dengan turunnya al-Quran di bulan Ramadan?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka harus diperjelas terlebih dahulu, bahwa sebelum diutus menjadi nabi, berapakah usia nabi kita kala itu? Ditinjau dari beragam sudut pandang tentang hal ini, maka usia nabi kala itu—menurut banyak riwayat—adalah empat puluh tahun, sebagian riwayat mengatakan kalau usia nabi kala itu adalah empat puluh tiga tahun.
Yang jelas, dengan merujuk pada dalil-dalil, tanda-tanda dan beberapa saksi yang beragam, menunjukkan bahwa usia nabi ketika diutus menjadi nabi adalah empat puluh tahun. Terkait dengan masa turunnya al-Quran, di sini ada tiga kemungkinan, 1). Sebelas dan dua belas Rabiul Awal Tahun Gajah. 2). Dua puluh tujuh Rajab. 3). Bulan Ramadan.
Di tengah riwayat yang ada dikatakan, bahwa bulan Rajab diyakini sebagai bulan pengutusan kenabian Nabi Muhammad Saw. Di dalam riwayat lain juga dikatakan, bahwa terkait dengan bulan Rajab—yang diyakini sebagai bulan pengutusan nabi—terdapat tiga belas riwayat di saat yang sama riwayat tentang bulan Rajab, Rabiul Awal dan Ramadan tidak lebih dari tiga kali tertulis di dalam riwayat.
Riwayat yang berkaitan dengan bulan Rabiul Awal dan bulan Ramadan (tentang pengutusan nabi) terjadi sebuah perselisihan pendapat, sementara riwayat yang disepakati tentang hari pengutusan nabi adalah jatuh pada dua puluh tujuh Rajab.
Secara umum, terkait dengan bersamaan atau tidaknya tentang turunnya al-Quran dan pengutusan Nabi Saw, setidaknya ada dua pendapat di antara para ulama. Sebagian meyakini bahwa pengutusan nabi dimulai dengan turunnya lima ayat pertama dari surah Al-Alaq, oleh karena itu, pengutusan nabi terjadi pada bulan Ramadan
Sebagian yang lain berpendapat, bahwa pada bulan Rajab nabi telah dipilih (untuk diutus), lalu pada bulan Ramadan, yaitu pada tahun yang sama atau tahun berikutnya, al-Quran turun padanya. Oleh karena itu, pengutusan nabi tidak bersamaan dengan turunnya al-Quran.
Fase Turunnya Al-Quran
Pertama, sebelum turun ayat al-Quran, meninjau deretan ayat pertama dari surah-surah al-Quran—yang akan menjelaskan tentang bagaimana sifat-sifat al-Quran—bahwa sebelum al-Quran turun kepada Nabi Saw, menunjukkan bahawa al-Quran tertulis dan terjaga di sisi Allah, yaitu lauhul mahfudz. Bahwa al-Quran memiliki deretan sifat, di antaranya Aalii (tinggi), Mubin (nyata) dan Hakim (bijaksana).
Kedua, fase turunnya al-Quran. Dalam fase ini akan terperinci, bahwa ada banyak sifat yang disematkan kepada al-Quran, seperti penggalan ayat berikut,
Dalam fase ini dijelaskan, bahwa tujuan turunnya al-Quran adalah Bacaan, menyampaikan, petunjuk, berakal, mengingatkan, menyembuhkan, memberikan pengajaran dan sebagainya. Fase ini menunjukkan tentang urutan dan susunan dalam al-Quran.
Bahwa al-Quran adalah kitab Allah, yang memiliki tingkatan dan susunan yang berbeda-beda. Tingkatan tertinggi di dalam al-Quran adalah ummul kitab itu senndiri, yang pada hakikatnya ada di sisi Allah Swt. Fase berikutnya ada di tangan para malaikat dan urutan turunnya al-Quran diperuntukkan kepada masyarakat dengan bahasa Arab yang fasih dan jelas.
Jenis Turunnya al-Quran
Terkait dengan kata nuzul dan akar katanya di dalam al-Quran, terdapat ayat yang beragam. Di dalam sebagian ayat ini, bahwa turunnya al-Quran disebut secara jelas dengan kata anzala (dia menurunkan) کِتابٌ اَنزَلناهُ اِلَیکَ, di sebagian ayat yang lain menjelaskan tentang turunnya al-Quran secara bertahap کِتابٌ اُحکِمَت آیاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَت» و «وهُوَ الَّذی اَنزَلَ اِلَیکُمُ الکِتابَ مُفَصَّلاً.
Karenanya, sebagian orang bependapat bahwa al-Quran mengisyaratkan akan turunnya yang secara langsung dan keseluruhan yang ada di dalam al-Quran.
Deretan ayat di atas menunjukkan bahwa al-Quran turun secara sekaligus dan langsung.
Sebab ayat-ayat Al-Qur’an pernah diturunkan kepada Nabi Saw. secara kolektif pada malam Qadr. Oleh karena itu, pada saat turunnya ayat tersebut secara bertahap, Nabi bergegas mendahului Jibril dan membacakan ayat tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa beliau mempunyai ilmu Al-Qur’an sebelum diturunkannya ayat secara bertahap. Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar nabi tidak terburu-buru dalam pekerjaan ini dan jangan membaca atau membacakan apapun dari Al-Qur’an ini kepada manusia sampai tiba waktu yang tepat untuk komunikasi dan penyebarannya
Berdasarkan ayat-ayat tersebut dan ayat-ayat lain yang sejenis, mengenai jenis wahyu Al-Qur’an, timbul perbedaan pandangan di kalangan para ulama ulumul quran. Ada yang mengatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan pertama kali secara sekaligus pada malam Qadr dari lauhil mahfuz yang disimpan di langit (Bait al-Ma’mur atau Bayt al-Izzah) atau di jantung dunia, kepada Nabi Saw. dan dari situ, pada masa dakwah Nabi, oleh Malaikat Jibril kembali diturunkan kepada Nabi.
Namun sebagian lagi mengatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan hanya secara bertahap pada masa dakwah Nabi Islam, sesuai dengan kondisi waktu dan tempat serta terjadinya berbagai peristiwa dan peristiwa, berupa ayat dan surah yang ada.
Tentunya selain dari kedua kedua sudut pandang yang masyhur ini, masih ada berbagai sudut pandang lainnya yang beberapa di antaranya akan disebutkan secara singkat.
Al-Qur’an diturunkan di langit dunia pada dua puluh atau dua puluh tiga malam Qadr pada setiap tahun zaman Nabi. Artinya, pada malam Qadr, di setiap tahun dakwah Nabi, diwahyukan kepada Nabi tersebut jumlah Al-Qur’an yang dibutuhkan pada tahun itu. Kemudian ayat dan surah yang sama, secara bertahap pada tahun itu, diturunkan kembali kepada Nabi melalui malaikat pembawa wahyu. .
Selain pernyataan tersebut, ada pula yang memberikan penjelasan tentang turunnya Al-Qur’an yang secara sekaligus, yang mengacu pada perkataan Syekh Shaduq dan Allamah Tabatabai: Syekh Shaduq mengatakan: Makna wahyu Al-Qur’an yang turun secara sekaligus kepada Nabi Saw di malam Qadr adalah ilmu, dan informasi akan seluruh isi kandungan Al-Qur’an.
Allamah Tabatabai berkata: “Al-Qur’an mempunyai dua wujud: wujud lahiriah yang dirinci dalam bentuk kata-kata dan ungkapan. Eksistensi sederhana tanpa analisis, detail, dan kata-kata apa pun. Kedua, wujud batin Al-Qur’an diturunkan ke jiwa Nabi pada Malam Ketetapan, kemudian secara bertahap wujud eksternalnya terungkap pada masa dakwah Nabi.






One thought on “Dengan Cara Seperti Apa Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad? (Bagian 2)”