SHIAHINDONESIA.COM – Dr. Mohammad Beheshti, yang dikenal dengan gelar Syahid Sayyid Mohammad Beheshti, adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah kontemporer Iran dan gerakan Revolusi Islam. Sebagai seorang ulama Syiah dengan wawasan politik yang mendalam, Beheshti memainkan peran kunci dalam membentuk fondasi Republik Islam Iran. Hidupnya yang penuh dedikasi kepada agama, ilmu, dan keadilan berakhir tragis dengan syahadah (kemartiran) dalam sebuah serangan bom, namun warisan pemikirannya tetap hidup hingga saat ini.
Latar Belakang Kehidupan dan Pendidikan
Mohammad Beheshti lahir pada 24 Oktober 1928 di Isfahan, Iran. Ia dibesarkan dalam keluarga yang taat agama, yang memberi dasar kuat dalam pendidikan agama sejak usia dini. Beheshti mengenyam pendidikan di sekolah agama tradisional (hawzah) di kota Qom, yang saat itu menjadi pusat intelektual Syiah. Di bawah bimbingan ulama-ulama besar seperti Ayatullah Boroujerdi dan Ayatullah Ruhollah Khomeini, Beheshti mengasah pemahaman mendalamnya tentang fikih, teologi, dan etika Islam.
Selain mendalami ilmu agama, Beheshti juga melanjutkan pendidikannya dalam bidang filsafat dan studi Barat. Ia memperoleh gelar doktor di bidang filsafat dari Universitas Tehran, yang memberinya wawasan yang lebih luas tentang pemikiran modern. Kombinasi pengetahuan tradisional dan modern inilah yang membuat Beheshti menjadi sosok ulama yang memiliki perspektif unik dan inklusif.
Peran dalam Revolusi Islam Iran

Mohammad Beheshti bukan hanya seorang ulama yang berkutat di dunia akademis, tetapi juga seorang aktivis yang vokal dalam perjuangan melawan tirani dan penindasan. Ia adalah salah satu pendukung utama Ayatullah Khomeini dan gerakan Revolusi Islam melawan rezim Shah Iran yang didukung oleh kekuatan-kekuatan Barat pada waktu itu.
Pada tahun 1960-an dan 1970-an, Beheshti aktif dalam membangun jaringan intelektual dan organisasi yang mendukung kebangkitan Islam politik. Ia membantu mendirikan berbagai lembaga pendidikan dan penerbitan yang menyebarkan ide-ide revolusioner di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Pemikiran Beheshti berpusat pada nilai-nilai keadilan, pemerintahan yang berlandaskan moralitas Islam, dan pentingnya kebebasan dari penjajahan asing.

Ketika Revolusi Islam Iran mencapai puncaknya pada tahun 1979, Beheshti sudah menjadi salah satu tokoh utama di balik layar yang bekerja untuk menyusun struktur pemerintahan baru. Ia berperan dalam pembentukan Majelis Ahli (Assembly of Experts) yang bertugas menyusun konstitusi Republik Islam Iran dan turut andil dalam merancang konstitusi yang akhirnya menetapkan sistem Wilayat al-Faqih (pemerintahan oleh seorang ahli agama).
Pemikiran Beheshti: Keadilan dan Pemerintahan Islam
Beheshti dikenal karena pemikiran politiknya yang mendalam dan visinya tentang pemerintahan Islam. Ia percaya bahwa pemerintahan yang sah hanya bisa ditegakkan di atas landasan keadilan, sebagaimana diamanatkan dalam ajaran Al-Quran dan Sunnah Ahlul Bait. Dalam berbagai ceramah dan tulisannya, Beheshti menekankan pentingnya kebebasan, kesetaraan, dan partisipasi rakyat dalam pemerintahan.
Salah satu kutipan paling terkenal dari Beheshti yang mencerminkan dedikasinya terhadap rakyat dan keadilan adalah:
“Kami bukanlah para pencari kekuasaan; kami adalah pencari kebenaran dan keadilan. Kekuasaan hanya akan berharga jika digunakan untuk menegakkan keadilan dan melayani rakyat.”
Kutipan ini merangkum filosofi hidup Beheshti, di mana ia menolak gagasan bahwa kekuasaan harus menjadi tujuan akhir. Baginya, kekuasaan hanyalah alat untuk menegakkan keadilan yang hakiki dan melayani umat manusia.
Dalam pandangan Beheshti, keadilan sosial bukan sekadar retorika, tetapi prinsip yang harus diwujudkan melalui kebijakan-kebijakan konkret yang memihak kepada kaum tertindas. Sikap inilah yang membuatnya begitu dicintai oleh rakyat, tetapi sekaligus menjadi ancaman bagi musuh-musuh Revolusi.
Syahadah dan Warisannya
Pada 28 Juni 1981, Mohammad Beheshti syahid dalam serangan bom yang dilakukan oleh organisasi teroris Mujahidin-e Khalq (MEK) di kantor Partai Republik Islam Iran di Tehran. Serangan itu menewaskan lebih dari 70 orang pejabat tinggi, termasuk Beheshti, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung Iran.
Kematiannya meninggalkan luka mendalam bagi bangsa Iran, tetapi juga mengukuhkan posisinya sebagai pahlawan Revolusi Islam. Banyak yang melihat syahadah Beheshti sebagai simbol pengorbanan tertinggi dalam memperjuangkan keadilan dan menegakkan nilai-nilai Islam.
Ayatullah Khomeini, yang sangat dekat dengan Beheshti, menyebutnya sebagai “sebuah bangsa dalam satu orang”, mengisyaratkan betapa besarnya pengaruh dan kontribusi Beheshti terhadap perjuangan Revolusi Islam. Hingga kini, Beheshti dihormati sebagai salah satu arsitek utama Republik Islam Iran dan pejuang yang tanpa lelah melawan ketidakadilan.

Syahid Sayyid Mohammad Beheshti adalah contoh nyata dari seorang ulama yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki visi politik yang jelas dan dedikasi untuk membela hak-hak rakyat.
Hidupnya penuh dengan perjuangan untuk keadilan dan pemerintahan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, menginspirasi generasi setelahnya untuk terus memperjuangkan kebenaran dan melawan penindasan. Pemikirannya tentang keadilan, kebebasan, dan peran Islam dalam politik tetap relevan hingga hari ini, menjadikannya salah satu tokoh ulama paling penting dalam sejarah modern Islam.





