Syiah dan Iran: Gagah Membela Palestina di Tengah Diamnya Negara-negara Arab

SHIAHINDONESIA.COM – Ketika membicarakan pembelaan terhadap Palestina, yang sejak lama tertindas oleh penjajahan Israel, kita tidak bisa mengabaikan peran penting yang dimainkan oleh Republik Islam Iran yang mayoritas memeluk mazhab Syiah. Dalam sejarah perjuangan rakyat Palestina, Iran telah konsisten menjadi garda terdepan dalam mendukung perlawanan terhadap rezim Zionis Israel, di saat beberapa negara Arab memilih untuk diam, bahkan ada yang menjalin aliansi dengan Amerika Serikat dan Israel, yang menjadi sekutu strategis dalam menindas hak-hak bangsa Palestina.

Peran Sentral Iran dalam Pembelaan terhadap Palestina

Iran, sejak Revolusi Islam 1979, yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini, dengan jelas memposisikan dirinya sebagai pendukung penuh perjuangan rakyat Palestina. Revolusi ini tidak hanya mengguncang Timur Tengah, tetapi juga membawa pesan pembebasan dari penindasan dan perlawanan terhadap imperialisme, yang saat itu dilambangkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Ayatollah Khomeini menyerukan “Hari Al-Quds Internasional” yang diadakan setiap tahun pada hari Jumat terakhir bulan Ramadan, sebagai hari solidaritas global untuk Palestina.

Di bawah pemerintahan Republik Islam Iran, dukungan kepada Palestina bukanlah retorika belaka. Iran memberikan dukungan finansial, logistik, dan politik kepada kelompok-kelompok perlawanan Palestina, termasuk Hamas dan Jihad Islam. Ini menunjukkan komitmen Iran terhadap Palestina yang tidak tergoyahkan meskipun menghadapi sanksi internasional dan tekanan politik dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Ayatollah Khamenei, pemimpin tertinggi Iran saat ini, secara konsisten menyerukan perlawanan terhadap Israel, menyebutnya sebagai “tumor kanker” yang harus dihapus dari peta wilayah tersebut. Bagi Iran, perjuangan untuk membela Palestina bukan hanya soal nasionalisme, melainkan bagian dari komitmen terhadap keadilan, kemanusiaan, dan ajaran Islam, yang mendorong perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan.

Mazhab Syiah: Membela Kaum Tertindas sebagai Prinsip Utama

Ajaran mazhab Syiah yang sangat ditekankan oleh tokoh-tokoh besar seperti Imam Ali AS dan Imam Husain AS adalah pembelaan terhadap kaum tertindas (mustadh’afin). Dalam sejarah Islam, Imam Husain AS memberikan contoh agung tentang perlawanan terhadap kezaliman, yang ditunjukkan melalui pengorbanannya di Karbala. Ajaran ini menjadi inspirasi utama bagi umat Syiah untuk terus menentang ketidakadilan, termasuk dalam konteks pembelaan terhadap Palestina.

Mazhab Syiah tidak hanya berfokus pada spiritualitas, tetapi juga pada perlawanan aktif terhadap segala bentuk tirani dan penjajahan. Oleh karena itu, dukungan Iran kepada Palestina adalah perwujudan dari nilai-nilai yang dipegang oleh Syiah—keberpihakan kepada yang tertindas dan perlawanan terhadap kekuasaan zalim. Ini membedakan Iran dan komunitas Syiah dari sebagian besar negara-negara Arab yang lebih memilih politik pragmatis.

Diamnya Negara-negara Arab dan Normalisasi Hubungan dengan Israel

Sebaliknya, di antara banyak negara Arab, kita melihat kecenderungan yang sangat berbeda. Beberapa negara Arab, yang dulu berteriak lantang mendukung Palestina, kini semakin menjauh dari isu ini. Mereka, dengan alasan pragmatisme politik dan ekonomi, secara terbuka atau diam-diam menjalin hubungan dengan Israel, dalam apa yang disebut sebagai normalisasi.

Normalisasi ini bukan hanya mengabaikan penderitaan rakyat Palestina, tetapi juga menunjukkan bahwa sebagian besar pemimpin Arab lebih memilih kedekatan dengan Amerika Serikat dan Israel demi keuntungan politik dan ekonomi, daripada membela hak-hak rakyat Palestina. Kesepakatan Abraham yang dipimpin oleh Amerika Serikat adalah salah satu contoh nyata dari tren ini, di mana beberapa negara Arab seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain secara resmi membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Langkah ini tentu menimbulkan kekecewaan besar bagi rakyat Palestina, yang melihat negara-negara yang seharusnya menjadi saudara seiman dan sebangsa dalam perjuangan mereka, justru berbalik menjadi sekutu kekuatan penjajah. Negara-negara ini tidak lagi memandang isu Palestina sebagai prioritas, melainkan lebih tertarik pada hubungan strategis dan ekonomi dengan Barat dan Israel.

Iran: Benteng Terakhir Perlawanan Palestina

Di tengah kemunduran dukungan dari negara-negara Arab, Iran tetap konsisten dan tegas dalam sikapnya. Sementara sebagian besar dunia Arab mulai memudar dalam perlawanan mereka, Iran tetap menjadi benteng utama yang mendukung rakyat Palestina, baik melalui retorika maupun tindakan nyata di lapangan.

Konsistensi Iran ini juga tercermin dalam dukungan terhadap kelompok perlawanan di Lebanon, yaitu Hizbullah. Kelompok ini telah menjadi kekuatan utama yang menandingi dominasi Israel di kawasan, dengan dukungan langsung dari Iran. Hizbullah, dengan ideologi Syiah yang kuat, menjadi salah satu contoh sukses bagaimana perlawanan terhadap penjajahan Israel dapat terorganisir dan berhasil menahan agresi Israel di Lebanon dan wilayah sekitarnya.

Syiah dan Iran, Pilar Perlawanan Palestina

Di saat dunia Arab mulai bergeser dan bahkan mendukung Israel dan Amerika Serikat secara diam-diam, mazhab Syiah dan Iran tetap menjadi pilar utama dalam perjuangan pembebasan Palestina. Dukungan Iran bukan hanya simbolik, tetapi juga nyata dan konsisten, sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam yang mengajarkan keberpihakan kepada yang tertindas.

Iran dan komunitas Syiah secara keseluruhan telah menunjukkan bahwa solidaritas Islam dengan Palestina bukan hanya masalah retorika, tetapi juga soal tindakan dan komitmen moral. Dalam konteks ini, Iran telah menempatkan dirinya sebagai pemimpin dalam perlawanan global terhadap imperialisme dan penjajahan, sementara sebagian besar dunia Arab tampaknya lebih tertarik pada keuntungan politik dan ekonomi, mengabaikan saudara-saudara mereka yang tertindas di Palestina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top