SHIAHINDONESIA.COM – Dikisahkan dari seseorang yang pernah bertemu dengan Ulama Syiah asal Jepang:
Aku bergumam dalam hatiku, “Ya Allah, apa yang harus aku lakukan, aku menjadi makmum salat seorang dari Jepang, Haji Ibrahim Savada, yang umumnya orang Jepang punya kesulitan dalam melafalkan bahasa-bahasa lain, contohnya ketika ia menyebut kata ‘lam’ dan ‘ra’ dalam abjad Arab, keduanya terdengar sama. Kalau dia salah dalam melafalkan bacaan salat, maka salatku boleh jadi juga bermasalah?!”
Namun, tidak ada jalan lain, lagi pula bertemu dengan orang Jepang ini merupakan sebuah kemuliaan, lantaran selama ini ia telah mengenalkan mazhab Ahlulbait kepada beberapa orang Jepang lainny, sehingga aku senang salat di belakangnya.
Akhirnya, aku pun berbaris dalam sebuah saf salat, ia pun memulai salat. Terdengar suaranya yang merdu saat melantunkan ayat-ayat al-Quran, sampai ia pun begitu teliti dan jeli dalam memperhatikan tajwid dan tata cara bacaannya. Seusai salat, ia pun melanjutkan dengan membaca doa ziarah Asyura, lalu Haji Ibrahim Sawada pun melanjutkan perbincangan.
Bagiku, ini adalah kali pertama mendengarkan ceramah seorang ulama dari Jepang. Ia berbicara tentang ayat tathir dan ia berkata kepada kami, ‘Kalian semua memiliki nikmat, sebab kalian dilahirkan di keluarga yang sudah mengenal dan memluk mazhab Ahlulbait. Itu merupakan sebuah nikmat yang patut disyukurui.
Allamah Savada juga berkata, ‘Kalian semua di hari kiamat akan memulai dengan jalur yang berbeda dengan seluruh umat manusia dan kaum Muslimin. Seperti para pelari yang sedang berkompetisi, yang semuanya harus memulainya dari satu titik untuk memulai perlombaan. Namun, karena kemuliaan Ahlulbait yang telah diberikan kepada kita, kita akan memulainya dari titik star yang lebih depan dari mereka.
“Orang Jepang, jika ingin menyamai kalian di titik star, maka mereka harus berproses selama 30-40 tahun dengan disertai taufik dari Allah Swt. Selama 10 tahun mereka harus belajar tauhid, dan mencari jawaban dari semua persoalan yang ada di dalamnya. 10 tahun lainnya ia harus belajar konsep kenabian, hingga menerima kenabian Nabi Muhammad Saw. 10 tahun lainnya untuk mempelajari konsep imamah (kepemimpinan) dan seterusnya,” pungkasnya.
Ia juga pernah bilang, bahwa ayahnya juga menjadi mualaf dan mantap meyakini Syiah. Sebuah pertemuan yang cukup terkenang. Di akhir pertemuan, kami pun santap bersama dan setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing.
Data tambahan terkat denagn sosok ulama asl Jepang ini, bahwa ia adalah orang Syiah pertama asal Jepang yang menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa Jepang.
Sumber: al-mostabserin.com


