SHIAHINDONESIA.COM – Imam Ali bin Abi Thalib, sosok monumental yang tidak hanya meraih kehormatan di kalangan umat Syiah, tetapi juga menjadi tokoh yang dihormati dan diakui di kalangan umat Sunni. Figur ini bukan hanya milik golongan tertentu, melainkan simbol penyatuan dan pemersatu dua mazhab besar dalam Islam.
Imam Ali, sepupu dan menantu Rasulullah SAW, telah menorehkan jejak yang mendalam dalam sejarah Islam. Kelebihannya tidak hanya terletak pada kebijaksanaan politik dan ketangguhannya dalam peperangan, tetapi juga dalam kemampuannya untuk merangkul perbedaan dan menyatukan umat Islam.
Sebagai Khalifah keempat dalam tradisi Sunni dan Imam pertama dalam tradisi Syiah, Imam Ali memegang peran penting dalam menyatukan umat Islam. Meskipun ada perbedaan dalam penekanan sejarah dan pandangan politik di antara kelompok-kelompok tersebut, keadilan dan keutamaan Imam Ali diakui sebagai bagian integral dari warisan Islam.
Imam Ali dikenal sebagai ‘Babak Kebijaksanaan’ dan ‘Pintu Ilmu’. Kecerdasannya dan ketangguhannya di medan perang mencerminkan kekuatan dan keberanian. Namun, lebih dari itu, kemampuannya untuk menjadi pemimpin yang adil, bijaksana, dan penyatuan menciptakan fondasi persatuan antar-mazhab.
Dalam khazanah hadis, baik yang terdapat dalam kitab-kitab Sunni maupun Syiah, banyak riwayat yang menegaskan keutamaan dan keteladanan Imam Ali. Hadis-hadis ini mencakup nasihat-nasihat kebijaksanaan, teladan kepemimpinan, serta penghargaan dari Nabi Muhammad SAW terhadap Imam Ali.
Selain itu, kisah-kisah sejarah yang melibatkan Imam Ali, termasuk keberaniannya dalam Pertempuran Badar, Uhud, dan Khandaq, menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Islam. Pemikiran dan pandangan Imam Ali tentang keadilan, kebenaran, dan kebijaksanaan juga terabadikan dalam banyak kutipan yang dihormati oleh berbagai golongan dalam Islam.
Imam Ali bukanlah milik satu mazhab saja; beliau adalah warisan bersama seluruh umat Islam. Sosoknya mengajarkan pentingnya merangkul perbedaan, mencari kesamaan, dan bersatu di bawah panji Islam yang satu. Dengan keutamaan dan kebijaksanaannya, Imam Ali menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan dua kutub besar dalam Islam, mengingatkan kita bahwa kesatuan umat adalah pondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan zaman.
Berikut adalah riwayat dari kitab-kitab Ahlusunnah yang memotret tentang keutamaan Imam Ali as:
Diriwayatkan dari Umar bin Khatab, bahwa suatu hari Rasulullah Saw. berkata, “Tidak ada seorang pun sekaliber Ali yang dapat meraih keutamaan-keutamaan. Keutamaannya adalah sama dengan setiap orang yang sampai pada hakikat kebenaran, maka ia akan menunjukkan pada jalan kebenaran dan tidak akan tersesat.
(Ar-Riyadu An-Nadhrah, jil. 2, hal. 214).
Muhammad bin Mansur Thusi meriwayatkan, “Bahwa suatu hari aku mendengar dari Ahmad bin Hanbal, yang berkata,
‘Keutamaan Imam Ali yang telah diperhitungkan adalah sama dengan tak seorang pun sahabat nabi yang mendapatkan keutamaan itu.’”
(Mustadrak Ala Sahihain, jil. 3, hal. 107).
Ahmad bin Hanbal dan Ismail bin Ishaq Qadhi mengutarakan, “Hadis-hadis yang dengan sanad Hasan tentang keutamaan Imam Ali As., tidak pernah diperuntukkan kepada seorang pun para sahabat.”
(Isti’aab, jil. 2, hal. 466).
Seorang lelaki dari Bani Hamdan dengan nama Burd menemui Mu’awiyyah. Ketika itu Amr bin Ash merendahkan Imam Ali. Seorang lelaki dari Bani Hamdan pun berkata kepada Amr bin Ash, “Wahai Amr bin Ash, aku pernah mendengar dari para pembesar kami, bahwa Rasulullah Saw., pernah berkata, “Siapa yang telah menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.” Lalu lelaki itu kembali bertanya, “Apakah hadis yang diriwayatkan langsung dari Rasulullah Saw. ini adalah benar atau tidak benar?” Amr menjawab, “Hadis ini sahih dan benar. dan aku tekankan akan kebenarannya, bahwa tak ada satu pun sahabat yang yang keutamaannya sama dengan keutamaan Imam Ali As.” Mendengar itu, lelaki dari Bani Hamdan itu terlihat takjub.
(Al-Imamah wa As-Siyasah, hal. 93).
Diriwayatkan dari Ibn Abbas di dalam kitab Tarikh Baghdad, bahwa sebanyak 300 ayat di dalam al-Quran diturunkan untuk Imam Ali As.
(Tarikh Baghdad, jil. 2, Hal. 221).
“Ayat-ayat di dalam al-Quran yang diperuntukkan kepada Imam Ali, tidak diturunkan kepada satu pun dari sahabat.”
(As-Sawaiqul Muhriqah, hal. 76/ Nur Al-Abshar, hal. 73)





