SHIAHINDONESIA.COM – Selain itu, Nabi Saw. bersabda, “Telah diturunkan kepadaku ayat-ayat yang sebelumnya tidak ada ayat serupa yang diturunkan, dan ayat yang dimaksud itu adalah ayat yang ada di Surah An-Nas “.
Di dalam penjelasannya terkait ungkapan di atas, Allamah Thaba’ Thaba’i menjelaskan, bahwa kemungkinan maksud dari perkataan nabi tersebut adalah hendak mengatakan, bahwa tidak ada yang turun dua surah (al-Falaq dan an-Nas) seperti ini kepadaku.
Bahwa kedua surah tersebut satu-satunya surah yang turun yang mengandung penjagaan, dan taka da satu surah lainnya pun yang memiliki kasiat seperti kedua surah itu.
Oleh karena itu, dapat dikatakan: Kedua surah ini mempunyai sifat ta’widz (berlindung kepada Tuhan) yang membuat seseorang melindungi dirinya dari kejahatan dengan kedua surah ini, oleh karena itu kedua surah ini diberi nama Mu’awwidzatain.
Dalam surah Falaq Allah Swt. memberikan perintah kepada Rasulullah Saw. untuk berlindung kepada Allah dari beberapa hal, tentunya perintah ini tidak saja dikkhususkan kepada Nabi Saw. (Sifatnya lebih umum, seperti menjaga beberapa hal yang ada di bawah ini):
- Dari keburukan makhluk apa pun, baik itu jin, binatang, dan makhluk apa pun yang mempunyai keburukan di dalamnya.
- Mengenai buruknya malam ketika kegelapan masuk di dalamnya. Di sini Allah mengkaitkan keburukan dengan malam hari, karena malam yang gelap membantu orang jahat untuk mendatangkan keburukan, oleh karena itu keburukan lebih banyak terjadi di malam hari dibandingkan di siang hari. Orang yang diserang orang jahat lebih lemah pada malam hari dibandingkan pada siang hari.
- Dari kejahatan para dukun dan penyihir.
- Dari keburukan dengki, ketika seseorang terkena dengki dan melakukan perbuatan dengki.
Ada yang mengatakan bahwa ayat ini juga termasuk untuk melindungi mata dari kejahatan mata, karena melirik sana-sini lewat mata dapat membuat orang jadi iri. Di dalam surah an-Nas menjaga manusia dari rasa was-was, dan membuat dirinya selalu dalam lindungan Allah Swt.
Yang jelas, sebagaimana yang kita ketahui, dua surah ini dimulai dengan kalimat “Qul A’udzu” (katakanlah, aku berlindung) yang memiliki kandungan makna berlindung pada Allah Swt. Oleh karena itu, dua surah ini disebut sebagai surah mu’awwidatain.
Sumber:
- Tafsir Basa’ir, Rastghar, jil. 60, hal. 658, cetakan pertama, Penerbit Muallif, Qom, Iran,
- Syenakh-te Sureh Ha-ye Quran, hal. 362, penerbit Sadra, Tehran, Iran
- Majmaul Bayan, Thabarsi, jil. 6, hal. 226, penerbut Darul Kutub al-Ilmiah, Beriut-Lebanon
- Danesh Nameh Quran va Quran Pazzuh, jil. 2, hal. 2123, Penerbit Dustan
- Tafsir Nurutsaqalain, Ali bin Jumuah Al-Arus, jil. 8, hal. 379, penerbit Mu’asasah Tarikih Al-Arabi
- Tafsir Al-Mizan, Sayyid Husain Thaba’thaba’I, jil. 20, hal. 683, penerbit Eslami
- Tafsir Nurutsaqalain, Ali bin Jumuah Al-Arus, jil. 8, hal. 379, penerbit Mu’asasah Tarikih Al-Arabi





