Solidaritas yang Kosong: Ketika Palestina Hanya Menjadi Panggung Gaya Hidup

SHIAHINDONESIA.COM – Palestina terluka. Darah tertumpah, rumah-rumah rata dengan tanah, dan anak-anak berlari tanpa tahu ke mana harus berlindung. Di belahan dunia lain, kita menyaksikan itu dari layar—dalam diam, dalam doa, atau dalam sorakan solidaritas. Namun, satu hal yang menggelitik nurani adalah kenyataan pahit: dukungan terhadap Palestina kini perlahan tergelincir menjadi sekadar gaya hidup, bukan lagi panggilan nurani.

Fenomena ini terlihat jelas. Media sosial dipenuhi unggahan bendera Palestina, kutipan-kutipan heroik, dan poster “Free Palestine” yang begitu estetik. Tapi sayangnya, di balik itu, tak sedikit yang tak paham konteks, tak tahu akar masalah, bahkan tak mampu membedakan mana yang sedang dijajah dan mana yang penjajah.

Mereka hanya ikut karena “semua orang sedang ikut.” Dan yang lebih ironis, banyak dari mereka mendukung Palestina bukan karena kemanusiaan, melainkan demi pencitraan.

Palestina: Bukan Tren Musiman, tapi Luka Sejarah

Dukungan terhadap Palestina bukan semestinya menjadi bagian dari kalender aktivisme semu yang hanya aktif di bulan-bulan tertentu. Ini adalah perjuangan kemanusiaan yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh dekade. Sejak peristiwa Nakba pada tahun 1948, jutaan warga Palestina terusir dari tanah kelahiran mereka. Wilayah mereka direbut, hak mereka dirampas, dan hingga hari ini, mereka hidup di bawah blokade, penindasan, dan penjajahan brutal.

Namun, di zaman media sosial, isu kemanusiaan seperti ini bisa berubah menjadi “konten.” Tiba-tiba muncul gelombang pemuda-pemudi yang berpose dengan scarf keffiyeh, menulis caption bernada revolusioner, namun keesokan harinya mereka sudah kembali tenggelam dalam dunia superficial yang mereka jalani.

Mereka bahkan tak tahu beda antara Hamas dan Fatah. Tak mengerti posisi Al-Quds dalam sejarah Islam. Tak paham bahwa ini bukan perang agama, melainkan konflik penjajahan terhadap rakyat yang berhak merdeka. Bagi mereka, Palestina hanya topik menarik untuk sekadar “ikut peduli” agar tak terlihat apatis.

Etalase Palsu Bernama Solidaritas

Solidaritas sejati lahir dari pemahaman. Dari empati yang tumbuh lewat pengetahuan, bukan sekadar dorongan emosional karena takut dianggap tak trendi. Sayangnya, banyak pemuda-pemudi hari ini menjadikan Palestina sebagai etalase kepekaan sosial—tempat mereka memajang citra baik agar terlihat “peduli,” “sadar politik,” dan “penuh empati.”

Padahal, solidaritas semacam itu adalah semu. Ia tidak hidup lama. Ia mudah menguap ketika popularitas isu ini menurun. Sementara rakyat Palestina? Mereka tetap menghadapi dentuman bom, tetap kehilangan anggota keluarga, dan tetap tidur dalam ketakutan yang tak berkesudahan.

Apakah dukungan semacam ini layak disebut perjuangan?

Berpihak Butuh Ilmu dan Kejujuran

Tidak ada yang salah dengan mengunggah dukungan. Tapi ketika itu dilakukan tanpa landasan pengetahuan dan tanpa komitmen jangka panjang, yang terjadi justru banalitas makna. Solidaritas berubah jadi kosmetik moral. Aksi nyata tergantikan oleh estetika instastory.

Dukungan seperti ini bukan hanya tidak berguna—ia bahkan bisa berbahaya. Karena bisa menyesatkan orang lain, mengaburkan kebenaran, atau memperkuat narasi-narasi keliru yang dikemas dengan bahasa emosional tapi tanpa fakta.

Apalah arti semangat jika tidak diiringi pengetahuan? Apalah arti teriakan “Free Palestine!” jika tak tahu siapa yang menindas dan siapa yang tertindas?

Sebagian bahkan berani mengkritik perlawanan rakyat Palestina—menyalahkan mereka karena dianggap “melawan terlalu keras,” atau “tidak mengambil jalan damai.” Kritik yang dangkal ini lahir dari ketidaktahuan dan kemalasan untuk memahami akar konflik yang sangat kompleks dan penuh sejarah penderitaan.

Palestina Tidak Butuh Simpati Kosong

Perjuangan Palestina bukan untuk memuaskan hasrat aktivisme setengah hati. Bukan pula tempat melarikan diri dari kebosanan hidup digital yang dangkal. Palestina butuh solidaritas yang menyala karena rasa keadilan, bukan karena ingin tampil beradab di mata dunia.

Palestina tidak butuh simpati kosong. Tidak butuh solidaritas yang hanya bertahan selama tren berlangsung. Tidak butuh dukungan dari mereka yang menjadikan duka sebagai bahan konten.

Palestina butuh kita yang belajar, bertanya, membaca, memahami, lalu bertindak dengan benar.

Akhir Kata: Dari Simpati Menuju Komitmen

Mendukung Palestina bukan tentang seberapa lantang kita berbicara, melainkan seberapa konsisten kita berpihak. Apakah kita benar-benar mengubah gaya hidup kita agar tidak terus mengalirkan dana ke perusahaan-perusahaan yang mendukung penjajahan? Apakah kita ikut menyebarkan edukasi tentang Palestina kepada orang-orang di sekitar kita? Apakah kita mendoakan mereka dengan hati yang tulus di sepertiga malam?

Kalau tidak, mungkin kita hanya bagian dari kerumunan—yang datang saat ramai, dan menghilang saat sepi.

Maka kepada para pemuda-pemudi, jangan reduksi perjuangan Palestina menjadi gincu moral kalian. Jangan jadikan luka orang lain sebagai properti pencitraan diri. Jika ingin berdiri bersama Palestina, berdirilah dengan ilmu, dengan akhlak, dan dengan hati yang sungguh.

Karena jika tidak demikian, lebih baik diam dalam ketidaktahuan daripada ikut bersuara dalam kepalsuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *