SHIAHINDONESIA.COM – Dalam mazhab Syiah, diketahui bahwa Sayyidah Fathimah Zahra As lahir pada tahun kelima kenabian, tepatnya pada tanggal 20 Jumadilakhir di kota Mekkah. Pada saat Rasulullah SAW wafat, beliau berusia delapan belas tahun lebih tujuh bulan. Pendapat ini didukung oleh ulama besar, Aminuddin Tabarsi.
Tsiqatul Islam, Al-Kulaini, juga menuliskan dalam kitabnya yang terkenal, Al-Kafi, bahwa kelahiran Sayyidah Fathimah Zahra, putri Rasulullah SAW, terjadi lima tahun setelah Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rasul.
Penulis kitab Kashf al-Ghammah, Ali bin Isa, seorang ulama besar dari Arbil, mengutip pendapat Ibn Khashab al-Baghdadi (wafat tahun 567 H) dalam kitab Tarikh Maulid wa Wafiyat Ahlul Bayt Ismat. Dengan sanadnya dari Imam Muhammad al-Baqir AS, disebutkan bahwa:
“Fathimah AS lahir lima tahun setelah kenabian Nabi Muhammad SAW, yaitu setelah turunnya wahyu. Pada saat itu, kaum Quraisy sedang membangun Ka’bah. Ketika Nabi SAW wafat, usia Sayyidah Fathimah telah melewati delapan belas tahun lebih tujuh puluh lima hari dari usianya yang diberkahi itu.”
Namun, perlu dicatat bahwa kaum Quraisy mulai membangun Baitullah lima tahun sebelum misi kenabian. Oleh karena itu, besar kemungkinan beberapa perawi salah memahami pernyataan sebelum kenabian sebagai sesudah kenabian. Hal inilah yang menjadi dasar perbedaan pendapat mengenai usia Sayyidah Fathimah Zahra AS saat wafat. Ada yang menyebutkan usia beliau adalah 23 tahun, sementara riwayat lain menyatakan usia beliau adalah 18 tahun. Namun, hadis yang menyebutkan usia 18 tahun tampaknya lebih kuat, meskipun kesimpulan ini tetap bergantung pada perawi.
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda:
“Pertumbuhan anak perempuanku, Fathimah, setiap tahunnya setara dengan pertumbuhan anak perempuan lain dalam dua tahun.”
Hadis ini menjelaskan bahwa meskipun Sayyidah Fathimah menikah dengan Imam Ali AS pada usia sembilan tahun, dari segi kebugaran fisik, kecerdasan, dan kedewasaan, beliau setara dengan gadis berusia delapan belas tahun. Hal ini tidaklah mengejutkan, karena Sayyidah Fathimah Zahra adalah sosok yang luar biasa, baik dalam akhlak maupun kesempurnaan kepribadiannya. Tidak ada wanita lain yang mampu menandingi keutamaan beliau.
Syiah dan Sunni meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW sering memuji putrinya, Sayyidah Fathimah Zahra, di hadapan kaum Muhajirin dan Ansar dengan berbagai gelar kehormatan, seperti:
- “Wanita terbaik sejak awal penciptaan hingga hari akhir.”
- “Penghulu para wanita di dunia.”
- “Wanita terbaik di surga.”
Gelar-gelar tersebut adalah bukti nyata dari kemuliaan yang Allah berikan kepada Sayyidah Fathimah AS, baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam riwayat lain, Aisyah, istri Rasulullah SAW, menceritakan bahwa:
“Setiap kali Fatimah masuk menemui Nabi, beliau akan berdiri, mencium kepala putrinya, dan mempersilakannya duduk di tempatnya.”
Aisyah juga menambahkan:
“Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mirip dengan Nabi dalam tutur kata dan perilakunya selain Fathimah. Setiap kali Nabi SAW merindukan surga, beliau akan mencium Fathimah dan berkata, ‘Aku mencium harum surga dari Fathimah.’”
Dengan demikian, keutamaan dan kemuliaan Sayyidah Fathimah Zahra AS tidak diragukan lagi. Beliau adalah wanita terbaik di dunia dan penghulu para wanita surga, seperti yang ditegaskan dalam riwayat-riwayat dari Syiah dan Sunni. Kehormatan ini adalah anugerah terbesar yang diberikan kepada seorang wanita, membuktikan kedudukan istimewa beliau di sisi Allah SWT dan Rasul-Nya.






