SHIAHINDONESIA.COM – Zaman modern telah membawa perubahan besar dalam hampir setiap aspek kehidupan, termasuk cara pandang seorang Muslim terhadap harta. Dahulu, harta dianggap sebagai alat untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan dasar, namun kini, tidak sedikit Muslim yang terperangkap dalam gaya hidup konsumtif, memandang harta sebagai simbol keberhasilan dan kekuasaan. Sebagai umat Islam, kita perlu merenungkan kembali, apa sebenarnya makna harta dalam kehidupan seorang Muslim, terutama dalam konteks ajaran agama yang menekankan keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Dalam Islam, harta tidak dianggap sebagai tujuan hidup, melainkan sebagai alat atau sarana yang dapat membantu seorang Muslim menjalani kehidupannya dengan lebih baik. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidaklah anak Adam memiliki hak kecuali tiga: rumah untuk ditempati, pakaian untuk menutupi tubuhnya, dan makanan untuk bertahan hidup. Selain dari itu, semua adalah tambahan.” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini memberikan pandangan mendalam tentang kesederhanaan dan kecukupan dalam kehidupan. Islam tidak melarang seseorang untuk memiliki harta, namun yang ditekankan adalah bagaimana harta tersebut digunakan dan apa tujuan di balik pengumpulan harta.
Di era yang serba cepat dan modern ini, kita sering kali terjebak dalam tekanan sosial yang mendorong kita untuk memiliki lebih banyak. Masyarakat modern memandang kesuksesan dari segi materi, sehingga muncul anggapan bahwa semakin banyak harta yang dimiliki, semakin tinggi pula status sosial dan kebahagiaan yang didapat. Namun, kenyataan justru sering kali berkata sebaliknya. Semakin banyak seseorang mengumpulkan harta, semakin besar pula keresahan yang menghampiri. Alih-alih menemukan kebahagiaan, banyak yang justru merasa terjebak dalam lingkaran keinginan yang tak pernah berujung.
Islam memandang harta sebagai amanah dari Allah SWT. Sebagai amanah, harta yang dimiliki harus dikelola dengan baik dan digunakan sesuai dengan perintah Allah. Selain itu, harta juga merupakan ujian bagi setiap Muslim. Allah SWT berfirman, “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28).
Ayat ini menegaskan bahwa harta adalah ujian yang Allah berikan untuk melihat sejauh mana seorang hamba mampu menjaga amanah tersebut, serta menggunakannya dengan penuh tanggung jawab.
Sebagai Muslim, kita diajarkan untuk menghindari sikap tamak dan rakus terhadap harta. Rasulullah SAW bersabda, “Sekiranya anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya dia akan mencari yang ketiga, dan tidaklah yang memenuhi perut anak Adam kecuali tanah, namun Allah menerima taubat siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa ketamakan manusia terhadap harta tidak akan pernah ada habisnya. Seseorang yang terobsesi dengan harta akan terus mengejar lebih banyak, namun tidak akan pernah merasa puas. Pada akhirnya, hanya kematian yang akan menghentikan pengejaran tersebut, dan saat itulah semua harta yang dikumpulkan tidak lagi berarti.
Kita juga perlu memahami bahwa harta yang kita miliki tidak hanya untuk diri kita sendiri. Dalam Islam, harta yang kita kumpulkan juga harus bermanfaat bagi orang lain, terutama bagi mereka yang membutuhkan. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa harta yang kita miliki seharusnya digunakan untuk membantu sesama, bukan hanya untuk memuaskan keinginan pribadi. Dengan membantu orang lain, kita tidak hanya mendapatkan pahala di sisi Allah, tetapi juga menemukan kebahagiaan sejati yang tidak dapat dibeli dengan harta.
Namun, di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa zaman modern telah memperburuk pandangan sebagian Muslim terhadap harta. Media sosial dan gaya hidup selebriti sering kali menampilkan kemewahan sebagai tujuan utama dalam hidup. Banyak yang merasa tertinggal jika tidak bisa mengikuti gaya hidup tersebut, sehingga muncullah dorongan untuk terus mengejar kekayaan, meskipun harus melupakan nilai-nilai Islam yang mendasari kehidupan.
Islam mengajarkan keseimbangan dalam segala hal, termasuk dalam urusan harta. Muslim yang bijaksana adalah mereka yang mampu menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara mengumpulkan harta dan tetap ingat pada tanggung jawab spiritual. Harta adalah alat, bukan tujuan. Ia adalah amanah yang harus dijaga dan digunakan untuk kemaslahatan umat, bukan untuk memupuk ketamakan atau meningkatkan status sosial semata.
Di zaman yang semakin materialistik ini, penting bagi kita untuk selalu mengingat bahwa harta tidak akan memberikan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan sejati hanya akan didapatkan ketika kita merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, menggunakan harta dengan cara yang benar, dan tetap fokus pada tujuan akhir kehidupan, yaitu meraih ridha Allah SWT dan kebahagiaan di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Kekayaan bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk menempatkan harta sesuai dengan ajaran Islam, tidak menjadikan harta sebagai tujuan utama hidup, melainkan sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, membantu sesama, dan meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat.




