SHIAHINDONESIA.COM – Sayyid Hasan Nasrallah, pemimpin tertinggi Hizbullah, adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perjuangan Islam kontemporer.
Lahir pada 31 Agustus 1960 di Beirut, ia tumbuh sebagai sosok dengan dedikasi kuat terhadap ilmu agama dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Pendidikan agamanya dimulai sejak muda, ketika ia terinspirasi oleh ulama terkemuka Sayyid Musa Sadr.
Di awal 1970-an, Sayyid Hasan Nasrallah melanjutkan studinya ke Hauzah di Najaf, Irak, di bawah bimbingan ulama besar seperti Sayyid Muhammad Baqir al-Sadr dan Sayyid Abbas Moussawi. Kembalinya ke Lebanon menandai langkah awalnya dalam jihad dan politik, di mana ia terlibat aktif dalam pembentukan Hizbullah, yang kemudian dipimpinnya setelah Sayyid Abbas Moussawi gugur sebagai syahid pada 1992.
Sayyid Hasan Nasrallah dikenal karena kepemimpinannya yang penuh semangat dan keberaniannya dalam menghadapi musuh, khususnya Israel. Di bawah komandonya, Hizbullah berhasil mengusir pasukan Israel dari Lebanon Selatan pada tahun 2000 dan mempertahankan wilayah tersebut dalam perang 2006, menjadikannya simbol perlawanan yang dihormati di dunia Muslim. Kemenangan ini tidak hanya memperkuat posisinya sebagai pemimpin, tetapi juga menarik dukungan luas dari kaum Sunni dan Syiah di berbagai belahan dunia.
Dan tepat tanggal 28 September 2024, beliau dinyatakan telah meninggalkan dunia, namun semangat perjuangannya terus membara di hati umat yang memperjuangkan kebebasan dan keadilan. Kehidupan beliau adalah cerminan keberanian dan keteguhan dalam menegakkan Islam, menghadapi kekuatan tirani, dan membela tanah suci Palestina.
Sejak masa mudanya, Sayyid Hasan Nasrullah telah terjun dalam perlawanan, membaktikan diri untuk melawan penjajahan Zionis Israel yang telah merampas hak-hak rakyat Palestina.
Sayyid Hasan Nasrullah adalah sosok yang tidak pernah gentar menghadapi ancaman dan tekanan internasional. Keberaniannya terlihat jelas dalam perang melawan Israel pada tahun 2006, di mana Hizbullah mampu memberikan pukulan yang mengejutkan dunia, membuat Israel mengalami kekalahan moral yang mendalam. Keberhasilannya dalam mempertahankan martabat Lebanon dan Palestina menjadikan Nasrullah ikon perlawanan di seluruh dunia Islam.

Dalam banyak pidatonya, Sayyid Hasan Nasrullah selalu menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan dan mendukung perjuangan Palestina.
Salah satu ungkapan yang paling terkenal dari beliau, yang hingga kini masih menggema di seluruh dunia, adalah:
“إسرائيل أوهن من بيت العنكبوت”
Artinya: “Israel lebih lemah daripada sarang laba-laba.”
Ungkapan ini mengandung api semangat yang tak pernah padam, mencerminkan keyakinan beliau bahwa meskipun Israel tampak kuat, pada hakikatnya mereka rentan dan bisa dihancurkan oleh tekad serta perjuangan umat yang bersatu.
Sebagai seorang ulama yang berpandangan luas, Sayyid Hasan Nasrullah tidak hanya melihat konflik ini sebagai masalah wilayah atau bangsa, melainkan sebagai perjuangan Islam melawan penindasan global. Palestina, bagi beliau, adalah simbol dari perlawanan umat terhadap ketidakadilan yang dibiarkan oleh kekuatan adidaya dunia. Beliau tidak pernah lelah menekankan bahwa membela Palestina adalah bagian dari membela nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, serta kewajiban setiap Muslim.
Dalam konteks geopolitik yang penuh dengan permainan kekuasaan, Sayyid Hasan Nasrullah berdiri teguh sebagai benteng perlawanan. Sosoknya memberikan inspirasi kepada generasi muda Muslim untuk tidak tunduk pada kekuatan yang menindas, untuk terus berjuang meskipun jalan panjang penuh rintangan. Ketika banyak pemimpin memilih untuk tunduk atau bernegosiasi, Sayid Hasan Nasrullah memilih jalan perlawanan, jalan kehormatan, yang diyakininya sebagai bentuk paling mulia dari jihad fi sabilillah.
“Kita tidak bisa diam ketika Palestina dijajah, ketika Masjid Al-Aqsa dikotori oleh tentara pendudukan. Diam adalah pengkhianatan terhadap darah syuhada, terhadap Islam, dan terhadap kemanusiaan.” – Sayyid Hasan Nasrullah.
Ungkapan ini sekali lagi menegaskan visi beliau bahwa perjuangan membela Palestina bukan sekadar isu politik, melainkan panggilan akidah, kehormatan, dan kemanusiaan.
Kini, meskipun Sayyid Hasan Nasrullah telah tiada, warisannya dalam menegakkan Islam dan membela Palestina akan terus hidup dalam semangat perlawanan umat Islam. Pesan yang beliau tinggalkan jelas: jangan pernah menyerah, dan yakinlah bahwa keadilan akan menang.
Umat Islam yang dipimpinnya telah dibakar oleh semangat jihad, semangat untuk melawan tirani, dan semangat untuk membebaskan tanah Palestina dari cengkeraman penjajah. Di balik setiap langkah Sayyid Hasan Nasrullah, ada kekuatan spiritual yang luar biasa, yang terus mengilhami para pejuang di seluruh dunia.
Semoga Allah SWT merahmati Sayyid Hasan Nasrullah dan menjadikan perjuangannya sebagai inspirasi bagi kita semua dalam melanjutkan misi suci ini.






