SHIAHINDONESIA.COM – Imam Ali Zainal Abidin yang juga dikenal dengan Imam Sajjad adalah imam keempat di dalam keyakinan mazhab Ahlulbait. Ia putra dari Imam Husain. Ia melanjutkan kepemimpinan ayahnya selama 35 tahun di masa kekhalifahan Bani Umaiyah. Ketika peristiwa Asyura, ia dalam kondisi sakit, sehingga tak memungkinkan baginya untuk ikut berperang menghadapi pasukan Yazid. Ketika itu ia memilih berada di dalam kemah bersama putra-putri Al-Husain dan para wanita dari keluarga Al-Husain, yang kala itu ia berusia 23 tahun.
Terjadi silang pendapat terkait dengan tanggal kesyahidan putra Imam Husain ini. Di antara pendapat itu, ada yang mengatakan kalau tanggal kesyahidannya jatuh pada 18, 22 dan 25 Muharram, namun pendapat yang paling masyhur adalah tanggal 25 Muharram tahun 95 Hijriah di usianya yanh ke-58 tahun. Diriwayatkan dari Abi Bashir, yang menukil dari perkataan Imam Ja’far Shadiq, bahwa ia berkata,
قبض علی بن حسین (علیهالسلام) و هو ابن سبع و خمسین سنة، فی عام خمس و تسعین، عاش بعد الحسین خمسا و ثلاثین سن.»
“Ketika ruh Ali bin Husain dicabut, ia berusia 58 tahun pada 95 Hijriah, ia hidup setelah syahidnya Imam Husain selama 35 tahun.” (Biharul Anwar, jil. 46, hal. 152).
Bagaimanakah kesyahidan Imam Ali Zainal Abidin? Sebelum kita membahas tentang kesyahidannya, kita sejenak mengenang bagaimana kiprah beliau untuk dunia Islam di tengah segenap keterbatasan yang menghimpitnya. Kehadiran Imam Sajjad di tengah-tengah persitiwa Karbala sangatlah penting, terutama untuk keberlanjutan ajaran suci Rasulallah Saw. Meski gerak-geriknya untuk menyebarkan ajaran Islam amatlah tebatas, namun semaksimal mungkin ia berusaha, salah satunya ia membeli beberapa budak, lalau ia didik budak-budak itu. Dan dari situlah apa yang ia ajarkan tersebar ke seantero dunia.
Kedua, ia dikenal sebagai ahli ibadah dan tak pernah melewatkan waktunya, kecuali dengan bermunajat kepada Allah, sehingga hasil dari munajatnya itu ia tuangkan ke dalam sebuah buku yang berjudul Sahifah Sajjadiyah, yang hingga kini kitab itu masih ada di tengah-tengah kita. Dari kitab itulah, bagaimana ia mengajarkan bagaimana kita bermunajat kepada Allah dan disertai dengan hikmah-hikmah kehidupan, baik secara pribadi maupun sosial, baik yang berbau duniawi maupun ukhrawi (akhirat).
Dengan segenap penderitaan yang telah ia alami, terutama atas peristiwa yang memilukan di Karbala, ditambah lagi dengan upaya penguasa di zamannya yang membatasi gerak lingkpunya, dan pada akhirnya ia harus menyudahi hidupnya dengan cara diracun oleh seorang bernama Walid bin Abdul Malik, yang merupakan keturuan Bani Marwan, hingga ia syahid dan berjumpa dengan ayahnya dan para syuhada Karbala di alam baka.
Diriwayatkan dari Abu Hamzah Atsumali, bahwa suatu hari Imam Baqir berkata, “Ketika menjelang wafatnya Imam Ali Zainal Abidin, aku pun didekap didadanya sambil berkata, ‘Duhai anakku, aku akan mewasiatkan sesuatu kepadamu, di mana ayahku ketika menjelang wafatnya juga mewasiatkan kepadaku, yang mana wasiat itu telah diwasiatkan juga oleh ayah-ayahnya kepadanya, wahai anakku, ketika ada orang yang berbuat zalim kepadamu, maka tiada penolong (bagimu), kecuali Allah. Maka menjauhlah dari orang zalim dan jangan engkau kotori dirmu darinya!’”
Jasad mulia Imam Ali Zainal Abidin dikuburkan di sebuh area pemakaman yang di sana dikuburkan juga orang-orang mulia dari keluarga nabi dan para sahabatnya yang setia. Yaitu, di sebuah tempat pemakaman yang berada di Baqi, Madinah. Di pemakaman tersebut juga dimakamkan Imam mulia kita, yaitu Imam Baqir dan Imam Ja’far Shadiq as.






