Inilah Hikmah yang Imam Husain As Ajarkan ke Kita!

SHIAHINDONESIA.COM – Memahami peristiwa Asyura dengan kacamata yang lebih universal, maka kita tak hanya memandang persitiwa tersebut sebagai hari duka atas syahadah-nya Imam Husain dan keluarga serta para sahabatnya, melainkan kita memandangnya sebagai sebuah sekolah atau bahkan universitas. Sebab, dari Asyura kita disuguhkan banyak pelajaran oleh Sang Maha Guru, yaitu Imam Husain dan para syuhada Karbala.

Di sini, kami akan memberikan beberapa hikmah penting yang berisi tentang hikmah-hikmah Asyura dan Imam Husain.

Tawakkal

Di dalam sebuah ucapannya, Imam Husain pernah berkata, “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka ia tak akan pernah kalah.” Kebangkitan Imam Husain As. ke medan Karbala, salah satu aspek yang membuatnya gigih dan berani adalah karena bentuk tawakalnya kepada Allah Swt. Ketika ia melakukan perjalanan ke Kufah dan hingga akhirnya ia syahid, bukan karena semata-mata permintaan warga kufah melaui surat-surat yang telah dikirim untuknya, tapi yang paling membuat teguh tekadnya adalah bahwa ia bertawakal kepada Allah Swt.

Karenanya, ketika ia mendengar kalau warga kufah tak berkomitmen atas undangan mereka terhadap Imam Husain, hal itu tak mengubah niat Imam Husain untuk berbalik arah dan mengurungkan niatnya datang ke Kufah, bahkan ia jalan terus tanpa tergurat rasa pamrih sedikit pun di hatinya, sebab perjalanan ia ke Kufah adalah sebuah taklif (tugas) dari Allah Swt. dan diperkuat dengan tawakalnya kepada Allah Swt., sekalipun segela kemungkinan terburuk bakal menerpanya, ia tetap menjalankan tugas itu dan akhirnya berujung manis: meneguk cawan syahadah.

Demi Ridho Allah Swt

Salah satu pelajaran yang dapat kita petik dari Asyura adalah, bahwa betapa Imam Husain tak mengharap apa-apa kecuali ridho Allah Swt. Ia tak hanya kehilangan nyawa dirinya, melainkan nyawa orang-orang yang ia cintai, baik dari keluarganya maupun dari para sahabnya. Bahkan, mereka yang masih hidup pun diperlakukan dengan tidak manusiawi oleh pasukan Yazid, mereka dirantai dan diarak dari satu kota ke kota lainnya. Semua itu, semata-mata ia persembahkan untuk mencari ridho Allah Swt.

Imam Husain mengirimkan pesan pada kita: Berbuat tanpa mencari ridho Allah, maka hal itu akan menjadi sia-sia belaka.

“kami Ahlulbait, rela atas apa yang Allah ridhoi, sekalipun di hadapan musibah, maka kami akan tetap bersabar dan istiqamah. Dia (Allah) akan menganugerahi pahala bagi orang-orang yang bersabar.” (Imam Husain).

Patuh Akan Tugas (taklif)

Meskipun Imam Husain mengetauhi akan warga Kufah yang mengingkarinya atas janji mereka, ia tak mundur, bahkan ia tetap terus berjalan ke arah Kufah, sebab telah tersemat di dalam dirinya bahwa yang membutanya terus melangkah adalah karena tugas, tugas dari Allah untuk melakukan perbaikan umat kala itu. Kalau bukan Imam Husain, lantas siapa lagi manusia lain yang akan memperbaiki umat yang kala itu sudah terjerembab ke lubang kehancuran?

Terkait hal ini, Imam Khomaini pernah bilang, “Imam Husain mengetahui tugasnya (taklif), bahwa ia harus bangkit dan akan dibunuh, demi menghapus pengaruh (negatif) Mua’wiyyah dan putranya, Yazid. Karena itu adalah tugas baginya untuk bangkit, maka ia rela mengorbankan darahnya, sehingga ia dapat memperbaiki umat (Rasulullah Saw), dan menurunkan bendera Yazid.”

Pengorbanan

Pengorbanan adalah salah satu pelajaran terpenting dari madrasah Karbala. Imam Husain mengajak kita agar kita mau berkorban, tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarga, tetapi untuk orang lain, dan yang lebih jauh adalah untuk agama kita. Imam mengajarkan pada kita agar kita lebih mendahulukan orang lain dari pada diri kita sendiri. Pengorbanan adalah salah satu yang menjadi bahan bakar yang menggerakkan Imam Husain untuk bangkit, bukan untuk kepentingan peribadi, melainkan untuk umat nabi.

Abu Fadl Abbas, saudara Imam Husain as., yang kala itu sejatinya ia merasakan tenggorokan yang amat kering, ia memacu kudanya ke arah sungai Furat, untuk membasahi tenggorokannya yang kering kerontang, namun di saat itu, ia teringat bahwa bibir kakaknya, Al-Husain juga kekeringan pun dengan keluarga suci nabi yang tengah berada di dalam tenda. Akhirnya, diambilnya air dari sungai Furat demi membasahi tenggorakan mereka, tanpa ia meminumnya sebelum air itu diminum oleh keluarga suci nabi, hingga akhirnya ia syahid dalam keadaan tenggorakan yang kering.

Menghapus Rasisme

Kita tahu, peristiwa Asyura diperankan oleh tokoh-tokoh yang beragam, baik dari sisi usia dari muda hingga tua, laki-laki hingga wanita, dari kulit putih hingga kulit hitam dan lainnya. Peristiwa ini mengajarkan bahwa maqam syahadah dapat diraih oleh siapa saja dan tetap menjadi mulia di mata Allah. Imam Husain juga tak memilah-milah para sahabatnya, bahkan di anatara mereka, adalah salah satu budak berkulit hitam, bernama Jun, yang juga menjeput kemuliaan syahadah bersama Imam Husain as.

Asyura dan Imam Husain mengajarkan kepada kita bahwa bersikap rasis kepada orang, karena latar belakang yang berbeda, tidaklah dapat dibenarkan. Karena setiap manusia adalah sama di mata Allah, yang membedakan adalah ketakwaannya pada Allah Swt.

Tentu, ngobrolin hikmah dan pelajaran dari persitiwa Asyura tak akan ada habisnya dan tak cukup hanya dalam sekali duduk, apalagi di ruang yang terbatas ini. Semoga, lima poin ini dapat memberikan manfaat buat kita, dan mendorong kita untuk terus mendalami dan meneladani Imam Husain, keluarganya dan para sahabatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top