Kisah Imam Ali Ar-Ridho dan Sahabatnya: Sebuah Pesan Agar Tak Bangga Diri

SHIAHINDONESIA.COM – Ahmad bin Muhammad Abi Nashr Bazanthi merupakan ulama kesohor di masanya. Ia hidup sezaman dengan Imam Ali Ar-Ridho As. Suatu ketika, setelah ia sempat melakukan tanya-jawab dan diskusi dengan Imam Ridho, ia kemudian yakin akan keimamahan Imam Ridho As.

Pada satu kesempatan, ia berkata kepada Imam Ridho, “Suatu saat, jika tidak ada halangan, aku ingin datang langsung ke rumah Anda.”

Suatu ketika, Imam Ridho pun mengirimkan tunggangan untuk dirinya, yang akan mengantarkannya ke rumah imam. Sesampainya di rumah, ia kembali melakukan diskusi dan tanya-jawab dengan Sang Imam. Ahmad Bazanthi pun merasa sangat bahagia, lantaran dapat bertemu dengan imam secara langsung dan melakukan diskusi dengan manusia mulia itu.

Ketika malam semakin larut, dan tiba waktunya tidur, Imam Ridho pun memerintahkan pembantunya dengan berkata, “Tolong bawakanlah tempat tidurku yang biasa aku pakai untuk tidur agar diberikan kepada Ahmad Bazanthi sehingga ia dapat istirahat.”

Perhatian Imam Ridho kepadanya, memberikan dampak kebahagiaan yang melebihi batas pada diri Bazanthi, sehingga ia besar kepala. Dalam hatinya, ia berkata, “Sekarang, di dunia ini tidak ada orang yang paling bahagia dan beruntung, selain aku. Lantaran, aku telah disediakan tunggangan untuk datang ke rumah Imam Ridho, yang beliau datangkan sendiri dari rumahnya. Dia juga duduk bersamaku di malam hari, dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Selain itu, beliau juga, melalui pembantunya, menyiapkan tempat tidurnya untukku agar aku bisa istirahat.”

Bazanthi pun disibukkan dengan khayalannya lantaran telah bersama imam dan dilayani betul olehnya. Seolah, ia menjadi manusia paling mulia di dunia. Ketika itu juga, tiba-tiba Imam Ridho menyeru Bazanthi, “Wahai Bazanthi!” Ketika itu juga, khayalannya terpecah.

“Apa yang telah terjadi padamu malam ini, jangan sampai membuatmu ujub (bangga diri) atas orang lain. Sebab, Shan Sha’ah bin Sauhan yang merupakan salah satu sahabat Imam Ali bin Abi Thalib, yang kalau itu sedang sakit, dijenguk oleh Imam Ali. Ia pun bersikap penuh kasih sayang terhadap sahabatnya yang sakit itu, sampai-sampai imam mengelus lembut keningnya dengan tangannya.

“Namun, sebelum Imam Ali beranjak meninggalkan sahabatnya itu, ia berpesan kepadanya, ‘Apa yang aku lakukan untukmu ini, jangan engkau jadikan sebagai penyebab untuk bangga diri. Hal ini tidak akan menyebabkan apa-apa bagimu. Aku melakukan ini semua (menjenguk) karena sebuah tugas yang aku emban. Jangan sampai hal ini dijadikan oleh seseorang sebagai alasan untuk membayangkan dirinya mulia.”

Kisah di atas mengingatkan kepada kita, bahwa kedekatan kita kepada manusia mulia, seperti Ahlulbait Nabi, tidak lantas menjadikan kita sebagai manusia mulia, yang mendapatkan dunia dan akhirat. Lagi-lagi, kesempurnaan manusia dinilai dari perbuatan manusia itu sendiri melalui ikhtiarnya.

Bukankah Allah juga berfirman, bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang bertakwa (taat) kepada-Nya? Jadi, kisah di atas, mengingatkan kepada kita juga, bawah kedekatan kita pada Ahlulbait Nabi Saw. hendaknya tidak kita jadikan sebagai alasan untuk bangga diri dan menjadikan kita sebagai manusia paling sempurna dibandingkan orang lain.

Justru, kedekatan kita terhadap mereka hendak kita jadikan sebagai bahan pembelajaran, agar kita selalu bisa meneladani mereka dan mengamalkan apa yang mereka ajarkan kepada kita.

Sumber: Dastan Rastan, Murtadho Muthahari, jild. 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *