Kisah Ulama: Dari Berbincang dengan Arwah Ulama, Hingga Tujuan dari Penulisan Tafsir Al-Mizan

SHIAHINDONESIA.COM – Allamah Thaba’thaba’i pernah bilang, “Saudaraku yang berada di Tabriz memiliki seorang murid, yang belajar filsafat darinya. Muridnya itu mampu berhubungan dengan arwah-arwah. Saudaraku di saat bersama muridnya itu, ia sering kali berhubungan dengan makhluk halus (arwah).

Sebelum murid itu memiliki hubungan dengan saudaraku, sejatinya ia memiliki keinginan untuk mempelajari filsafat. Untuk memenuhi keinginannya, ia pun menghadirkan arwah dari seorang Aristoteles, dan berharap ia (Aristoteles) mengajari filsafat kepada seorang murid itu.”

Di dalam jawabannya, Aristoteles berkata, “Ambilah buku Asfar Mulla Sadra dan pelajarilah kitab itu bersama Haji Sayyid Muhammad Hasan Ilahi.”

Lalu, ia pun membeli buku Asfar karangan Mulla Sadra dan segera mendatangi Sayyid Muhammad Hasan Ilahi. Ia pun menyampaikan pesan Aristoteles yang hidup pada tiga ribu tahun yang lalu. Lalu, ia (Sayyid Muhammad) menjawab, “Aku bersedia.”

Di hari-hari berikutnya, murid itu belajar filsafat bersama saudaraku itu. Dan saudaraku pernah bilang, “Kami sering melihat dan berhubungan langsung dengan makhluk halus dikarenakan murid yang satu ini. Dan kami sering bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala kami tentang filsafat langsung kepada para penulis buku filsafat (yang sudah wafat). Sebagai contoh, kami pernah bertanya tentang ibadah Plato kepada orangnya langsung, dan bertanya tentang permasalahan dari kitab Asfar langsung kepada Mulla Sadra.”

“Satu kali, Plato pernah bilang kepada kami, ‘Hargailah kemampuan yang kalian miliki, di mana kalian mampu mengucapkan La Illaha Illallah di muka bumi ini. Di saat aku menjadi penyembah berhala, aku merasa kalah dan tak mampu berkata, La Ilaha Illallah.”

Suatu ketika, di saat Sayyid Muhammad bertanya kepada arwah-arwah itu melalui mulut muridnya itu, arwah itu tidak paham dan tidak memiliki kemampuan untuk menjawabnya. Namun, sejatinya Sayyid Muhammad mengetahui apa yang dikatakan arwah itu kepada muridnya itu.”

Murid itu berkata, “Kami mampu menghadirkan arwah dari para ulama dan melontarkan pertanyaan kepada mereka, kecuali ada dua arwah yang tak mampu kami hadirkan, yang pertama adalah arwah Almarhum Sayyid bin Thawus dan kedua adalah arwah Sayyid Mahdi Bahrul Ulum. Arwah dari dua ulama ini pernah berkata kepada kami, ‘Kami sudah mewaqafkan diri ini untuk berkhidmat kepada Imam Ali bin Abi Thalib As. Dan selamanya kami tidak memiliki akses untuk turun ke bumi.'”

Yang membuat kami takjub adalah ketika ada kirimin surat dari Tabriz yang dikirim oleh saudaraku ke kota Qom. Di lembaran surat itu tertulis sebuah percakapan, bahwa murid saudaraku itu berhasil menghadirkan arwah orang tua kami, dan ketika itu orang tua kami ditanya lalu dijawab.

“Seakan mereka punya unek-unek terhadapmu perihal pahala dari penulisan tafsir ini (Tafsir Mizan) bahwa tidak aku sertakan nama orang tuaku dalam pehala penulisan tafsir ini. Selain aku dan Allah, tak ada seorang pun yang tahu perihal ini, sekalipun saudaraku sendiri. Karena, perihal aku tidak menyertakan nama orang tuaku dalam pahala penulisan tafsir Al-Mizan ini, adalah soal hati.

Bahkan, aku sendiri tidak tahu keterterimaan diriku untuk berdedikasi (menulis tafsir ini). Ketika surat itu datang kepadaku, aku tak langsung menanggapinya. Aku bilang kepada diriku sendiri, “Ya Allah, jikalau hasil dari penulisan kitab tafsir ini mendapatkan pahala dari-Mu, maka aku hadiahkan pahala itu kepada kedua orang tuaku.” Hingga detik itu, aku belum juga membalas surat dari saudaraku itu.

Jadi, tujuan dari penulisan kitab tafsir al-Mizan, salah satunya adalah sebuah upaya penulis agar jika penulisan tafsir itu mendapat pahala di sisi Allah, maka semua pahala itu ia persembahkan kepada kedua orang tuanya. Tentu, sungguh mulia niat Allamah Thaba’thaba’i.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top