SHIAHINDONESIA.COM – Di zaman sekarang, begitu banyak kabar dan berita yang begitu mudah kita dapatkan. Seiring dengan membanjirnya informasi, terkadang kita tidak mampu bersikap kritis dalam mencerna informasi tersebut sehingga muncullah berbagai macam hoax, berita palsu dan sebagainya.
Dalam hal ini, Imam Ali (as) pernah berkata,
قـالَ أَميرُالمُؤمِنين عليه السلام: اعـْقِلُوا الْخـَبَرَ إِذا سَمِعْتُـمُوهُعَقْـلَ رِعايـَةٍ لاَ عَقْـلَ رِوايـَةٍ ،فَإِنَّ رُوَاةَ الْعِلْمِ كَثِيرٌ، وَرُعَاتَهُ قَلِيل
Amirul Mukminin as berkata,
“Ketika engkau mendengar sebuah berita/ilmu (jadilah seperti para pemikir, bukan seperti mereka yang hanya melihat dhohirnya saja) berpikirlah lebih dalam dan jangan merasa cukup hanya dengan mendengarnya saja. Karena begitu banyak penutur ilmu (ruwat al-ilm) dan begitu sedikit pemelihara ilmu (ru’at al-ilm). [Nahjul Balaghah, kalimat ke-98]
Hadis tersebut adalah salah satu ujaran Imam dalam kitab Nahjul Balaghah, kumpulan khutbah, surat, dan ucapan Imam Ali (as).
Hadis ini menekankan pentingnya sikap kritis dan pemikiran mendalam dalam menanggapi informasi atau ilmu yang diterima. Hal ini dapat kita fahami dari poin-poin berikut:
- “Ketika engkau mendengar sebuah berita/ilmu (jadilah seperti para pemikir, bukan seperti mereka yang hanya melihat dhohirnya saja)”
Imam Ali (as) menekankan pentingnya untuk tidak hanya menerima informasi atau ilmu secara permukaan (dhohir), tetapi juga untuk mempertimbangkan secara mendalam (batin) dan menggunakan pikiran kritis dalam memahaminya. Ini menggambarkan pentingnya refleksi, analisis, dan pemahaman yang mendalam terhadap pengetahuan yang diterima. - “Berpikirlah lebih dalam dan jangan merasa cukup hanya dengan mendengarnya saja” Imam Ali (as) menekankan perlunya untuk tidak puas dengan pemahaman yang dangkal atau sekadar mendengar informasi tanpa refleksi lebih lanjut. Ini mendorong orang untuk terus mempertanyakan, menyelidiki, dan mendalami pengetahuan yang diterima agar dapat mencapai pemahaman yang lebih mendalam dan menyeluruh.
- “Karena begitu banyak penutur ilmu (ruwat al-ilm) dan begitu sedikit pemelihara ilmu (ru’at al-ilm)”
Pernyataan ini menyoroti bahwa meskipun ada banyak orang yang menyampaikan informasi atau pengetahuan, namun sangat sedikit orang yang benar-benar memelihara dan memahaminya dengan baik. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk bertindak sebagai pemelihara ilmu, yang mencakup pemahaman mendalam, refleksi kritis, dan dedikasi untuk mempertahankan integritas pengetahuan tersebut.
Sumber dari hadis tersebut dapat ditemukan dalam literatur Syiah, termasuk kitab-kitab hadis dan karya-karya ulama Syiah terkemuka seperti Nahjul Balagha, yang merupakan kumpulan khutbah, surat, dan ucapan Imam Ali (as). Kutipan ini sering dikutip dalam konteks pendidikan, pembelajaran, dan pengembangan pribadi dalam tradisi Syiah.






