SHIAHINDONESIA.COM – Ungkapan “Ya Ayyuhalladzina ‘Amanu” disebutkan di dalam Al-Quran lebih dari delapan puluh kali. Maksud dari kata Mukmin yang disebut di dalam al-Quran adalah mereka umat Rasulullah Saw.
Kalimat “Alladzina ‘Amanu” merupakan ungkapan yang penuh dengan penghormatan, dan menjadi kebanggaan bagi mereka (kaum mukmin). Adapun umat sebelum Islam disebut dengan kata ‘kaum’, seperti ‘Kaum Nabi Nuh’, dan ‘Kaum Nabi Hud’ dan umat Nabi Musa disebut dengan Bani Israil. Kalimat “Ya Ayyuhalladzina ‘amanu” yang ada di dalam Al-Quran tidak semua mengacu kepada orang-orang mukmin yang sejati. Salah satu contoh tentang kalimat di atas, dapat kita lihat beberapa contoh berikut ini.
. «یا أَیُّهَا الَّذینَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَ رَسُولِهِ وَ الْکِتابِ الَّذی نَزَّلَ عَلى رَسُولِهِ وَ الْکِتابِ الَّذی أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ…»؛
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Nabi Muhammad), Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang Dia turunkan sebelumnya.” (QS. Nisa’: 136)
«یا أَیُّهَا الَّذینَ آمَنُوا ما لَکُمْ إِذا قیلَ لَکُمُ انْفِرُوا فی سَبیلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْض….»؛
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa ketika dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,” kamu merasa berat dan cenderung pada (kehidupan) dunia?” (QS. At-taubah: 38).
Di dalam ayat di atas, dikatakan bahwa sebagian orang yang hendak bergabung jihad atas perintah nabi, disebut dengan panggilan ‘Ya Ayyuhalladzina ‘amanu’. Artinya kalimat di atas, tidak hanya diperuntukkan kepada orang-orang Mukmin yang sejati saja.
«یا أَیُّهَا الَّذینَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَ الْمَیْسِرُ وَ الْأَنْصابُ وَ الْأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّیْطانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّکُمْ تُفْلِحُونَ».
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 90)
Kalimat ‘La’allakum tuflihun’ yang ada di dalam penggalan ayat di atas menunjukkan adanya kemungkinan bahwa yang dimaksud orang-orang yang beruntung adalah untuk lawan bicara, dan juga bergantung pada kondisinya.
Jika saja kalimat ‘Ya Ayyuhalladzina ‘Amanu’ diperuntukkan kepada orang-orang mukmin sejati, maka sudah dipastikan ia termasuk orang yang beruntung dan menang. Ayat di atas menunjukkan, bahwa orang-orang mukmin yang diseru bukanlah orang mukmin sejati, karena di akhir ayat dia dijanjikan meraih kemenangan apabila mereka menjauhi yang dilarang oleh Allah Swt.
Dengan memperhatikan penjelasan di atas, bahwa iman merupakan kata sifat yang bertingkat-tingkat. Ada imanya yang rendah ada pula yang paling tinggi. Orang yang beriman secara alakadarnya adalah mereka yang minimal telah mengucapkan dua kalimat syahadat.
Adapun mukmin sejati adalah mereka yang terbukti pada keyakinan dan perbuatannya. Oleh karena itu, kalimat “Ya Ayyuhalladzina ‘Amanu” di dalam Al-Quran tidak diperuntukkan kepada mukmin yang sejati, namun diperuntukkan kepada orang-orang Muslim pada umumnya.
Kalimat itu juga tidak hanya dikhususkan kepada masyarakat di zaman Nabi Muhammad Saw., tetapi mencakup untuk semua manusia yang beriman di sepanjang zaman hingga hari kiamat. Adapun kata kafir, meskipun kata yang juga memiliki makna gradasi, itu diperuntukkan kepada orang yang tak bersyukur, sekalipun orang itu beriman.
Adapun maksud dari kalimat yang mengatakan “Alladzina Kafaru” adalah orang-orang kafir yang berbohong atas ayat-ayat Allah. Mereka dijanjikan untuk disiksa, sebagaimana yang termaktub di dalam ayat-ayat berikut.
«وَ الَّذینَ کَفَرُوا وَ کَذَّبُوا بِآیاتِنا أُولئِکَ أَصْحابُ النَّارِ هُمْ فیها خالِدُون]”
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 39).
«إِنَّ الَّذینَ کَفَرُوا بِآیاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذابٌ شَدید»؛
“Sungguh, orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh azab yang berat.” (QS. Ali Imran: 4).






