Pentingnya Penantian
Dalam pemikiran Syiah, menunggu kedatangan Imam Mahdi diyakini sebagai prinsip keyakinan yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Dalam banyak hadis, perlunya menunggu Sang Juru Penyelamat telah ditekankan di dalam riwayat, di antaranya sebagai berikut.
1. Muhammad bin Ibrahim Nu’mani meriwayatkan dalam Kitab Al-Ghaibah, bahwa suatu hari Imam Sadiq As. berkata kepada para sahabatnya:
Bukankah harus kuberitahukan kepadamu bahwa Allah Swt. tidak menerima perbuatan apapun dari hamba-hamba-Nya kecuali itu (penantian)? Saya berkata: Mengapa? Dia berkata:
“ Sungguh tidak ada yang patut disembah, kecuali hanya Dia (Allah) dan Muhammad Saw adalah utusan Allah, dan berjanji setia atas apa yang Allah perintahkan dan wilayah kami dan berlepas diri kepada para musuh kami, terlebih musuh para Imam maksum, dan taat kepadanya, orang-orang bertakwa, berusnggung-sungguh serta menanti kehadiran Imam Mahdi.” (3)
2. Tsiqatul Islam, Syekh Khulaini meriwayatkan dalam Kitab al-Kafi, bahwa suatu hari seorang pria mendatangi Imam Baqir As yang di tangannya terdapat secarik kertas, lalu imam berkata kepadanya:
Ini adalah tulisan seorang pendebat yang mempunyai pertanyaan tentang agama dan amalan-amalan yang terdapat di dalamnya. Laki-laki itu berkata, Semoga rahmat Allah dilimpahkan kepadamu.
Itulah yang aku minta. Maka Imam Baqir berkata, “Kesaksian bahwa Tuhan itu Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan bahwa kamu mengakui apa yang datang dari-Nya, dan bahwa kami adalah penjaga keluarga (Ahlulbait) kami dan Kebencian terhadap musuh kami, dan dan ketakwaan dan kerendahan hati, dan keteguhan pengharapan kami, itulah yang menjadikan kami pemegang pemerintahan, yang akan dihadirkan-Nya kapan pun Dia menghendakinya. “
3. Dalam kitab Kamalu Din, Syekh Shaduq meriwayatkan dari Abdul Adzim Hasani, “Bahwa suatu hari aku mendatangi guruku Muhammad bin Ali bin Musa bin Jafar bin Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Abi Thalib, dan aku ingin bertanya kepadanya tentang Al-Qaim (Imam Mahdi), apakah yang dimaksud adalah al-Mahdi yang dijanjikan kedatangannya atau Mahdi yang lain? Lalu beliau pun (Imam Jawad) mulai berbicara. Dan dia berkata kepadaku,
“Wahai Abu al-Qasim! Benar Al-Qaim berasal dari kami dan dialah Mahdi yang wajib ditunggu ketika dia tidak ada (gahib) dan ditaati ketika dia muncul, dan dia adalah Imam ketiga dari anak-anakku.”
Hadis-hadis yang disebutkan dan banyak lagi hadis lainnya—yang tidak dapat disebutkan satu demi satu di ruang terbatas ini—semuanya menunjukkan pentingnya menanti kedatangan Imam Mahdi selama keghaibannya, namun sekarang kita perlu melihat apa keutamaan dari penantian Imam Mahdi dan memiliki kedudukan yang seperti apa di sisi para Imam?
Keutamaan Menanti Imam Mahdi
Dalam riwayat-riwayat Islam, terdapat kedudukan dan martabat bagi orang-orang yang menantikan kedatangan Imam Mahdi, hingga terkadang membuat orang bertanya-tanya bagaimana mungkin suatu perbuatan yang terlihat sederhana secara lahiriah bisa memiliki keutamaan yang sedemikian rupa Tentu saja dengan memperhatikan filosofi penantian dan kewajiban-kewajiban yang ada bagi orang-orang yang benar-benar menantikan Imam Mahdi, akan memperjelas keutamaan ini.
1. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Bentuk ibadah terbaik adalah menanti kedatangan Imam Mahdi”.
2. Diriwayatkan juga dari Nabi Saw bahwa:
“Jihad terbaik umatku adalah menanti kedatangan Imam Mahdi”
3. Almarhum Majlisi, dalam bukunya Biharul Anwar, meriwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib, bahwa dia berkata,
“Menantilah untuk kedatangan Al-Mahdi, dan jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya amalan yang paling diridhai di sisi Allah adalah menanti Al-Mahdi.”
4. Dalam kitab Kamaluddiin, Syekh Shaduq mengutip perkataan Imam Ja’far Shadiq As, ada juga riwayat lain tentang keutamaan orang yang menanti Imam Mahdi.
“Berbahagialah pengikut kami yang saleh, yang menantikan kemunculannya selama ketidakhadirannya dan menaatinya ketika dia muncul, mereka adalah wali-wali Allah, orang-orang yang tidak ada ketakutan atau kesedihannya.”
6. Dalam riwayat lain, Allamah Majlisi meriwayatkan dari Imam Shadiq yang berkata,
“Siapa pun di antara kalian yang meninggal saat menunggu kedatangan Imam Mahdi, adalah seperti seseorang yang bersamanya di tendanya. Kemudian Nabi Saw. dengan segera berakat, “Tidak, melainkan seperti seseorang yang mengayunkan pedang untuk mengabdi kepada Nabi. Kemudian dia berkata lagi, “ Tidak, demi Allah dia seperti orang yang syahid di hadapan Rasulullah Saw.’” (11)
Mengapa begitu banyak keutamaan dari perbuatan menanti?
Bersambung…
