Tugas ‘Penanti’ Imam Mahdi Afs (Bagian 5)

SHIAHINDONESIA.COM – Tentu saja perlu diperhatikan bahwa ilmu dan pemahaman yang benar tentang Imam Mahdi tidak sebatas diperoleh hanya dengan membaca buku. Lebih dari itu, kita juga harus mencari bantuan dari imam itu sendiri, seperti yang ada di dalam doa-doa yang telah diajarkan. Kita memohon kepada Allah, agar kita dapat mengenalnya secara hakiki, agar kita terhindar dari kesesatan.

Diriwayatkan dari Al-Kulaini, yang menukil dari Muhammad bin Hakim. Di dalam riwayat tersebut dikatakan, “Aku bertanya kepada Imam Ja’far, ‘Siapakah yang menciptakan pengetahuan?’ ‘Pengetahuan merupakan ciptaan Allah. Seorang hamba tidak memiliki peran untuk sampai kepada pengetahuan yang hakiki.’”

Dapat dikatakan bahwa mengetahui tanda-tanda kemunculan imam zaman merupakan salah satu bagian dari mengenal Imam Zaman. Sebab, mengetahui secara mendetai tentang tanda-tanda kemunculannya membuat manusia terhindar dari tipuan para penyeru Imam Mahdi palsu (seperti aliran Yamani) dan tidak terjerumus ke dalam perangkap penipu yang mengaku Imam Mahdi.

Oleh karena itu, seorang penanti sebelum imam secara sempurna, perlu kiranya mengetahui tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi. Untuk mengetahui tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi, selain harus merujuk ke buku-buku yang telah kami sebutkan di tulisan sebelumnya, juga perlu merujuk ke buku-buku yang akan kemi sebutkan di tulisan ini. Di antara buku itu adalah dengan judul, Nawa’ib Ad-Duhur fi Ala’im Ad-Dzuhur, karya Sayyid Hasan Mir Jahani.

Menjauhi Keburukan dan Menghias Diri dengan Kebaikan

Tugas penting berikutnya adalah, bahwa seorang penanti haruslah bertanggung jawab untuk menjauhkan diri mereka dari hal-hal yang buruk, dan menghiasi diri mereka dengan kebaikan dan akhlak mulia, sebagaimana sebuah riwayat yang dinukil dari Imam Ja’far Shadiq yang berbunyi sebagai berikut.

“Barang siapa yang yang ingin menjadi pasukan Al-Mahdi, maka ia harus menanti, di mana di dalam penantiannya, ia harus menjadi manusia bertakwa dan berperilaku dengan akhlak yang terpuji. Maka, ketika ia meninggal dunia, dan setelah ia meninggal dunia Al-Mahdi bangkut, maka pahala orang itu setara dengan orang yang merasakan kehadiran Al-Mahdi. Oleh karena itu, berusahalah untuk terus menanti (Al-Mahdi)…”

Terkait hal ini, Imam Mahdi juga pernah berkata, “Maka, lakukanlah sesuatu yang membuat kalian menjadi pribadi yang kami cintai. Dan jauhilah sesuatu yang membuat kami murka. Maka, nasihat kami hanyalah sekali. Di hari itu (kiamat), taubat seseorang tidak ada gunanya lagi, dan seseorang yang menyesali dosanya, tidak akan kami beri pertolongan.”

Membersihkan hati dan jiwa, menjauhi dosa-dosa dan perbuatan yang tak terpuji adalah salah satu topik penting terkait tugas para penanti Imam Mahdi di masa keghaiban. Sebab, perbuatan yang tak terpuji serta hal-hal yang menimbulkan dosa merupakan penyebab lamanya waktu keghaiban Imam Mahdi.

Di dalam salah satu riwayat disebutkan, “Salah satu sebab yang membuat mereka (kaum Syiah) tidak melihat kami adalah karena  perbuatan-perbuatan mereka yang tak terpuji.”

Perlu kita perhatikan, bahwa kita hanya bisa menjalankan sesuatu yang sesuai dengan keinginan imam, yaitu menantinya yang akan menegakkan keadilan, baik di dalam kehidupan individu kita maupun sosial.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top
Exit mobile version