SHIAHINDONESIA.COM – Dinukil dari Allamah Husaini Tehrani, di dalam kitabnya tentang Hari Kebangkitan, setidaknya ada dua kata yaitu “Mongok” atau “Monchog” kemudian dalam bahasa Ibrani dan Arab menjadi Ya’juj dan Ma’juj dan dalam bahasa Yunani menjadi “Gok” dan “Magog” dan dari kemiripan antara Magog dan Mangog, dapat dikatakan bahwa kata ini berevolusi dari kata Cina Mangog, sama seperti “Mongol yang merupakan evolusinya.
Oleh karena itu, Gog dan Magog adalah suku Mongol yang sama yang telah tinggal di Asia Timur Laut sejak zaman kuno. Dan negara besar ini terkadang menyerang Tiongkok, dan terkadang mereka menyerang Armenia dan Iran utara melalui Sungai Kaukasus. Terkadang mereka menyerang Eropa utara setelah pembangunan bendungan, dan mereka dikenal sebagai ” Shit”.
Sekelompok dari mereka menyerang Roma, dan pada kesempatan ini pemerintahan Romawi jatuh. Orang Yunani menyebut mereka “Sei Tehin” dan nama yang sama disebutkan dalam prasasti Darius di Istakhar, Fars.
Apakah Ya’juj dan Ma’juj Masih Hidup Hingga Kini?
Kehancuran mereka tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, namun yang ada dalam Al-Qur’an adalah dengan ditutupnya bendungan tersebut, maka jalan penjarahan mereka pun tertutup. Namun jika mereka masih hidup sekarang, maka bukti dari ayat dan hadis tidak lagi dipakai, namun menurut perkataan Ibnu Abbas, bahwa mereka telah meninggal dunia.
Karena Ibnu Abbas membaca kata (حدابٍ) yang artinya tempat tinggi (جدت) yang artinya kuburan. Dalam hal ini makna kata tersebut menjadi: sampai kaum Ya’juj dan Ma’juj segera keluar dari kuburnya. Dalam beberapa riwayat, dalam penafsiran ayat ini disebutkan bahwa pada akhir zaman, Ya’juj dan Ma’juj akan kembali ke dunia lagi. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak ada di dunia saat ini, dan mereka akan kembali di masa yang akan datang.
Namun invasi mereka yang disinyalir bakal terjadi lagi masih menjadi silang pendapat di antara para ilmuwan. Sekelompok peneliti telah membuktiannya memalui dalil Al-Qur’an yang mengatakan: Ya’juj dan Ma’juj akan keluar di akhir zaman dan mendatangkan malapetaka di bumi, yang kalau dibandingkan dengan invasi Mongol lebih tragis.
Karena pada saat itu mereka keluar dan melakukan pertumpahan darah dan perusakan, menghancurkan permukiman dan membantai manusia, menghancurkan kota-kota dan menjarah harta benda, di mana kejadian itu tidak akan pernah tergambarkan oleh manusia.
Mereka menyerbu Tiongkok, Turkestan, Iran, Irak, Suriah, dan Kaukasus hingga Asia Kecil dan menghancurkan setiap kota dan negara yang melawan mereka, dan membunuh penduduknya.
Dikatakan dalam pandangan lain, bahwa jika Ya’juj dan Ma’juj meninggal setelah penutupan bendungan dan di masa lalu dan akan kembali ke dunia lagi di masa depan, maka mereka tidak dapat dianggap sama dengan bangsa Mongol karena invasi mereka (bangsa Mongol) tidak bangkit dari kubur.
Pada akhirnya, harus dikatakan bahwa semua yang telah dikatakan tentang perihal di atas adalah kemungkinan-kemungkinan yang tidak dapat dipastikan, dan seseorang harus puas dengan kepastian yang sama, yang telah dengan jelas disebutkan dalam Al-Qur’an.
Refrensi:
- Al-Quran
- Hosseini Tehrani Seyyed Mokhmad Hossein, Ma’ad Syenasi, jil.4, hal.85, website Institut Penerjemahan dan Penerbitan Mata Kuliah Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Islam.
- Tabatabai, Seyyed Mohammad Hossein, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, diterjemahkan oleh Mousavi Hamdani, Seyyed Mohammad Baqir, jil.13, penerbit Islamic Publications Office.
- Hosseini Tehrani, Seyyed Mokhmad Hossein, Ma’ad Syenasi, jil.4, hal.86.
- Hosseini Tehrani, Seyyed Mokhmad Hossein, Ma’ad Syenasi, jil.4, hal.87.
- Najafi Khomeini, Mohammad Javad, Tafsir-e Asan, jil.12, hal.366, Islamia Publications, 2018
- Majlesi, Bihar al-Anwar, jil.12, hal.179.
- Tabatabai, Seyyed Mohammad Hossein, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, diterjemahkan oleh Mousavi Hamdani, Seyyed Mohammad Baqer (Bahasa Persia), jil.13, hal.542.






