Siapakah Ya’juj dan Ma’juj di Dalam Al-Quran? (Bagian 1)

SHIAHINDONESIA.COM – Sumber utama tentang Ya’juj dan Ma’juj adalah Al-Qur’an, dan referensi mengenai kaum ini juga terdapat dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Para ahli tafsir dan sejarawan menggunakan kedua sumber ini dan meneliti bukti-bukti sejarah mereka menyimpulkan bahwa mereka adalah yang dimaksud kaum Ya’juj dan Ma’juj.

Pembangunan Bendungan Oleh Zulkarnain

Al-Qur’an menyebutkan Ya’juj dan Majuj di dua tempat dan mengatakan,

“Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, didapatinya di belakang (kedua gunung itu) suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan. Mereka berkata, “Wahai Zulkarnain! Sungguh, Yakjuj dan Makjuj itu (makhluk yang) berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkah  kami membayarmu imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?”

Dia (Zulkarnain) berkata, “Apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik (daripada imbalanmu), maka bantulah aku dengan kekuatan, agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi!”

Hingga ketika (potongan) besi itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Zulkarnain) berkata, “Tiuplah (api itu)!” Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu).”

Maka mereka (Yakjuj dan Makjuj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat (pula) melubanginya.

Dia (Zulkarnain) berkata, “(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila janji Tuhanku sudah datang, Dia akan menghancurluluhkannya; dan janji Tuhanku itu benar.”  (QS. Al-Kahfi: 93-98).

Ayat-ayat ini digunakan untuk mengatakan bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah kelompok kejam yang mengakhiri penindasan mereka dengan didirikannya bendungan yang dibangun oleh Zulkarnain di antara dua gunung.

Al-Qur’an mengatakan dalam ayat lain,

“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): “Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya’: 96-97)

Ayat ini meramalkan bahwa pada akhir zaman, Ya’juj dan Ma’juj akan kembali turun gunung. Apa yang dipahami dari Al-Qur’an tentang kaum ini terbatas pada dua surah ini.

Namun di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, terdapat juga tentang hal ini. Dalam Kitab Hazkiyal serta dalam mimpi Yohanes, terdapat hal-hal yang menunjukkan bahwa (Ma’juj) atau (Juj dan Ma’juj/ adalah suatu bangsa yang hidup di Asia Utara di tanah subur yang sibuk melakukan perang dan fitnah. Mereka juga terlibat dalam penjarahan.

Terlepas dari ayat-ayat Al-Quran dan teks Taurat yang menyebutkan kaum ini, hal-hal lain yang dinyatakan oleh para sejarawan dan ahli tafsir semuanya diperoleh dari bukti-bukti sejarah dan tidak didokumentasikan dalam dokumen definitif.

Allamah Thaba’taba’i mengatakan dalam tafsir Al-Mizan, “Para ahli tafsir dan ahli sejarah telah sangat teliti dan meneliti dalam pembahasan mengenai kisah ini, dan mereka telah banyak berkata tentangnya, dan sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa yang sangat besar yang tinggal di Asia Utara. telah melakukan”.

Ada juga yang mengatakan: Ya’juj dan Ma’juj adalah suatu bangsa yang tinggal di bagian utara Asia, dan kota-kota mereka terbentang dari Tibet dan Cina hingga Samudera Arktik dan mencapai tanah Turkestan dari barat.

Bersambung….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top
Exit mobile version