SHIAHINDONESIA.COM – Di dalam riwayat Syiah dan Sunni dikatakan, bahwa segala sesuatu memiliki jantung (inti) dan jantung Al-Qur’an adalah Surat Yasin.
Diriwatkan dari Annas bin Malik, bahwa Nabi Saw berkata,
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِکٍ عَنِ النَّبِیِّ ص قَالَ إِنَّ لِکُلِّ شَیْءٍ قَلْباً وَ قَلْبُ الْقُرْآنِ یس
“Segala sesuatu memiliki jantung (inti), dan jantung dari Al-Qur’an adalah surat Yasin.”
Di dalam riwayat Syiah dikatakan, bahwa Saduq meriwayatkan dari Imam Sadiq dalam kitabnya Tsawab al-Amaal dan dari riwayat Ahlusunnah di dalam kitab Ad-Dur Al-Mantsur, yang diriwayatkan oleh Anas, Abu Hurairah, dan Maaqal bin Yasar, yang diriwayatkan langsung dari Rasulullah Saw.
Kenapa surat Yasin disebut sebagai jantung dari Al-Quran? Jawabannya adalah, bahwa di dalam surat ini membahas tiga prinsip di dalam akidah, dan prinsip agama (usuluddin) yang dibahas di dalam surah ini adalah tentang kenabian, di mana dijelaskan bahwa di dalamnya terdapat masyarakat yang menerima dan menolak kenabian. Hasil dari seruan nabi kepada umatnya adalah berupa menghidupkan hati umat manusia, sehingga mereka dapat meraih kebahagiaan dan membuktikan kepada para penentangnya, bahwa janji berupa kebahagiaan akan mereka raih (dengan meyakini seorang nabi).
Setelah berbicara tentang kenabian, di dalam surat ini dijelaskan juga tentang tauhid (ketuhanan), di mana manusia diseru untuk percaya kepada Tuhan yang satu. Dan prinsip agama yang terakhir yang terkandung di dalam surat Yasin adalah tentang ma’ad (hari akhir), di mana manusia diberitahu bahwa setelah kematian mereka, mereka akan hidup kembali di akhirat guna untuk mendapatkan ganjaran atau siksa dari apa yang telah diperbuat selama mereka hidup di dunia.
Itulah alasan kenapa surat Yasin merupakan jantung dari al-Quran, sebab di dalamnya membahas tentang tigal prinsip utama di dalam agama, baik islam maupun di luar islam, yaitu tentang Tauhid, Kenabian dan hari akhir (ma’ad).
Sumber:
Tafsir Al-Mizan, jil. 17, hal 89
Mustadrak Al-Wasa’il, jil. 4, hal. 323
Tsawabul A’mal, 138
Ad-Dur Al-Mantsur: jil. 5, hal. 256
