SHIAHINDONESIA.COM – Waqidi bercerita,

Hari-hari yang telah berlalu, di mana di saat aku hidup dengan kondisi keuanganku yang sempat menipis, di saat yang sama, seorang budak mendatangiku sambil berkata, “Sebentar lagi hari raya Idul Fitri, sementara aku tak punya apa-apa di rumah.”

“Kemudian aku (Waqidi) pergi ke rumah salah satu pebisnis, lalu aku menyampaikan maksud untuk meminjam uang. Lalu ia pun memberikan uang kepadaku sebesar seribu dua ratus dirham. Lalu aku pun pulang ke rumah.”

Detik ini, di hari yang tak disangka, salah satu sahabatku mendatangiku, dia adalah seorang Sayyid (keturunan Rasulullah). Ia pun mengutarakan maksudnya, “Hari ini aku tidak memiliki sesuap nasi. Dompetku pun dalam kondisi menipis. Jika Anda punya sedikit rezeki, tolong berikanlah sedikit kepadaku.”

Aku sedikit melangkah, mendatangi istriku. Aku pun menyampaikan permasalahannya. “Apa yang kamu pikirkan?”

“Aku berniat ingin memberikan setengah uang yang aku pinjam dari temenku, untuk aku kasihkan ke dia (Sayyid),” kataku.

“Janganlah begitu,” kata istriku.

“Kenapa memangnya?” Kataku.

“Kamu sudah meminjam uang dari temenmu, lalu ia telah memberikan pinjaman sebanyak seribu dua ratus Dinar. Maka, tak pantas kalau setengahnya kamu kasihkan ke dia, yang merupakan seorang Sayyid, keturunan Rasulullah Saw. Alangkah baiknya kalau semua uang itu kamu berikan ke dia,” ucap sayang istri.

Kemudian, aku pun kembali menemui Sayyid untuk memberikan kantung plastik berisi uang.

Ketika ia sampai di rumahnya, temanku yang pernah meminjamkan uangnya kepadaku mendatangi rumah Sayyid, bahwa ia sangat butuh uang dan bermaksud ingin meminjam uang dari Sayyid. Ketika Sayyid tahu bahwa temenku itu sedang sangat membutuhkan uang, ia pun memberikan uang yang barusan ia pinjam dariku.

Temenku yang hendak meminjam uang pun terkaget-kaget melihat kantung uang itu, sebab ia tahu bahwa kantong itu adalah kantong uang yang ia pinjamkan kepadaku. Ia pun segera mendatangiku, lalu bertanya duduk perkaranya. Aku pun menjelaskannya.

Ketika itu, Qosidhi mendatangiku. Ia diutus Yahya bin Khalid Barmakki. Ia pun berkata, “Sudah sejak lama, tuanku menyuruhku untuk mendatangi rumah kamu. Dan kamu pun diundang oleh Raja ke istananya. Dikarenakan kesibukanku, aku baru sempat datang ke sini sekarang. Sekarang pergilah ke tempat raja, dia rindu bertemu denganmu.

Aku pun pergi ke tempat Raja Yanya bin Khalid. Aku pun berbicara masalah uang yang aku pinjam dan dipinjam lagi sama temanku. Raja pun mendengarkan aduanku, lalu ia memanggil budaknya, “Berikanlah sekantung uang kepadanya!” Perintah raja.

Diambilnya kantung uang yang berisi sepuluh ribu dinar. Raja pun memberikan uang itu kepadaku.

“Dua ratus dinar itu milih kamu. Dua ribu dinar lagi kasihkan ke teman yang kamu pinjam uangnya. Dua ribu dinar lagi kasihkan temen kamu yang Sayyid. Dan Sisanya tolong kasihkan ke istrimu, karena ia paling dermawan di antara kamu.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top