Inilah Alasan Kenapa Al-Qur’an Turun Secara Bertahap

SHIAHINDONESIA.COM – Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an, Taurat diturunkan dengan cara sekaligus. Mungkin timbul pertanyaan mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan dengan cara yang sekaligus, seperti Taurat. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka perlu kiranya untuk melihat alasannya, dengan membaca jawaban di bawah ini.

Alasan turunnya Taurat  dengan cara sekaligus, di antara para ahli tafsir, Allamah Taba’taba’i pernah menulis artikel tentang alasan turunnya Taurat dengan cara sekaligus. Beliau berkata, Seandainya Al-Qur’an diturunkan kepada nabi dalam bentuk tulisan yang sudah jadi, seperti Taurat dan Injil, maka tidak menutup kemungkinan diturunkan seperti Taurat dan Injil juga.

Karena dengan cara ini terungkap bahwa semua prinsip dan cabang agama disampaikan kepada nabi ilahi di satu tempat. Namun perbedaan mendasar antara Al-Qur’an, Taurat, dan Alkitab adalah bahwa Al-Quran bukanlah sebuah kertas atau tulisan, melainkan berbentuk  bebunyian dan pendengaran (semasa turun pada Nabi Saw.).

Oleh karena itu, jelas bahwa suatu kitab yang diturunkan dengan cara ini perlu dilakukan secara bertahap, karena harus dibaca dan didengarkan kata demi kata. Jika hal itu terjadi demikian, maka membutuhkan waktu. Oleh karena itu, kalau kemudian Taurat atau Injil diturunkan, maka itu karena itu turun dalam bentuk satu tulisan.

Alasan Diturunkannya Al-Qur’an Secara Bertahap

Turunnya Al-Qur’an secara bertahap mengandung hikmah yang tidak dapat diperoleh. Oleh karena itu, Al-Quran turun secara bertahap. Beberapa rahasia dan hikmah turun bertahap adalah sebagai berikut.

  1. Kedamaian dan kekuatan hati kepada Nabi Saw: Komunikasi Nabi Saw. yang terus menerus dengan Tuhannya dan turunnya wahyu yang terus menerus selama naik turunnya dakwah, hal itu memberinya dorongan dan kekuatan hati, meningkatkan kedamaian dan ketabahannya.

Dan memudahkannya dalam menanggung permasalahan yang sedang menimpanya. Setiap kali dia dalam kesulitan, Allah memberinya harapan melalui wahyu dan mengingatkannya pada kisah para nabi masa lalu. Ayat berikut mengungkapkan hal ini: “Bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan kepadamu (kata-kata yang tidak pantas) dan hindarilah dengan cara yang baik” (QS. Al-Muzammil: 10)

“Jangan sampai ucapan mereka membuatmu sedih, kami tahu mereka tersembunyi dan terbuka” (QS. Yaasin: );

“Sesungguhnya nabi-nabi sebelum kamu juga ditolak, namun mereka bersabar menghadapi penolakan dan penganiayaan yang mereka lihat…” (QS. Al-An’am: 24)

dan juga contoh lain dari ayat-ayat tersebut, yang masing-masing diturunkan kepada Nabi Saw. Pada saat tertentu dan pada suatu kesempatan. Beliaulah yang menjadi pembimbing di jalan berliku Nabi itu.

  1. Menjawab keraguan dan pertanyaan pada saat yang tepat: karena kitab-kitab suci selain Al-Qur’an, khususnya kitab-kitab Yahudi dan Nasrani, diturunkan secara sekaligus dan metode turunnya bertahap pada Al-Qur’an merupakan sesuatu yang baru bagi mereka, Rasulullah Saw. menjadi bahan ejakan bagi mereka. Mereka biasa berkata: “(Jika nabi ini benar) mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya di satu tempat?” (sebagaimana diwahyukan kepada nabi-nabi terdahulu)” (QS. Al-Furqan: 32) [6].

Menanggapi keragu-raguan ini, Allah berfirman kepada Nabi-Nya:

“Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Nabi Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar).” (QS. Al-Furqan: 32)

Juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berbagai orang kepada Nabi  baik itu untuk tujuan memastikan misinya, atau untuk menimbulkan keraguan, seperti: pertanyaan tentang jiwa (dalam surah Isra’ ayat 85), dari aliran Dzul-Qarnain ( dalam surah Al-Kahfi: 82), tentang perihal  sedekah (yang termaktub di dalam (surah Al-Baqarah: 219), serta tentang  anak yatim (yang disebutkan di dalam surah Baqarah: 220), dan keraguan-keraguan lainnya.

Tidak diragukan lagi, ada banyak pertanyaan serupa di dalam Al-Qur’an yang dijawab pada berbagai fase di dalam kehidupan Nabi Saw., yang masing-masing mengungkapkan hikmah dari turunnya Al-Qur’an secara bertahap.

3. Kasus dan peristiwa yang menyertai: Jelas bahwa kasus dan peristiwa tidak terjadi secara bersamaan, melainkan seiring berjalannya waktu dan bertahap. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa putusan akhir Tuhan akan diturunkan secara bertahap seiring berjalannya waktu dalam bentuk Al-Qur’an dalam kejadian mereka. Seperti: kejadian “Afek” dalam surah an-Nur: 11-26,  Hukum Zihar dalam surah Al-Mujadalah: 1-4)] mengungkapkan niat dan keadaan batin orang-orang munafik di dalam surahl a-Baqarah: 8 dan 20 dan sebagainya.

4. Menggunakan metode langkah demi langkah dalam pendidikan dan pelatihan serta penetapan hukum: Hukum pendidikan dan pelatihan mengharuskan hukum dan ajaran Ilahi diturunkan secara bertahap setelah menyiapkan  latar tempat yang diperlukan untuk setiap bagiannya dan dikomunikasikan kepada masyarakat. Karena sulit dan hampir tidak mungkin meminta orang yang terbiasa dengan kebiasaan dan budaya masyarakat jahiliyah  mengerjakan banyak tugas dalam waktu bersamaan, atau setidaknya memperlambat proses menjadikan mereka sebagai pribadi yang taat pada agama.

Inilah sebabnya mengapa Allah lebih fokus untuk menjernihkan pemikiran orang-orang pada masa itu, menghilangkan takhayul dan kepercayaan bodoh serta menciptakan sikap yang benar dalam diri mereka terhadap asal-usul dan hari kebangkitan (ma’ad) serta tentang manusia. Berdasarkan sebuah hadis dari Imam Baqir, dalam surat-surat Makiyah, Allah hanya menyebutkan kemusyrikan, kekafiran, dan hukuman, namun sebaliknya, Dia fokus pada mengajak dan mendorong perbuatan baik dan melarang perbuatan buruk dan mengutuknya, dll. [16]

Turunnya Al-Qur’an secara bertahap mengarah pada pembekalan ilmu, keyakinan, hukum, urusan sosial, dan lain-lain, serta memudahkan pembelajaran bagi mereka yang diwajibkan. Ibnu Mas’ud mengatakan: “Masing-masing dari kita, ketika dia mempelajari sepuluh ayat Al-Qur’an, tidak akan melewatkannya sampai dia mempelajari maknanya, metode tindakannya, dan juga ajaran lainnya.”[17]

Jadi, alasan dari kitab Taurat yang turun dengan cara sekaligus, karena ia turun dalam bentu menjadi satu tulisan. Karenanya, kitab yang disusun dapat diserahkan secara sekaligus kepada seseorang dan utusan Ilahi. Namun yang dimaksud dengan bunyi dan terdengar, tidak pernah bisa disampaikan dan dipahami di semua dimensi sekaligus. Oleh karena itu, hal ini harus dilakukan secara bertahap dan dikomunikasikan seiring berjalannya waktu.

Sumber:

  1. Sabhi Saleh, Discussions in Quranic Sciences, diterjemahkan oleh Mohammad Ali Lasani, Ehsan Publishing House, Tehran, 1379, hal.75; Masalah tasawuf dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an, hal. 64
  2. Ali Ibn Ahmad Wahidi Neishabouri, Asbab An-Nuzul , Dar Ibn Kathir, Beirut, hal.220, 246, 251.
  3. Mohammad Bin Yaqub (Kulaini) Al-Kafi, Darul Kitab Islami, Tehran, jil. 2, hlm.29-30.
  4. Thabari, Muhammad bin Jarir, Jam’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, jil.1, hal. 27-28.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top
Exit mobile version