SHIAHINDONESIA.COM – Syekh yang mulia, Al-Qumi (semoga Allah merahmatinya), adalah seorang yang tulus. Ketika beliau menulis buku “Manazil al-Akhirah,” seorang khatib yang dikenal sebagai ‘Abd al-Razzaq membacanya di kota suci Qom. Orang-orang mendengar, menangis, dan terharu oleh isi buku ini. Ayah dari Sheikh ‘Abbas sering datang, mendengarkan, dan terkesan oleh khutbah Sheikh ‘Abd al-Razzaq.
Ketika ayah Sheikh al-Qumi (semoga Allah merahmatinya) kembali ke rumahnya, beliau menceritakan kesaksiannya tentang bagaimana orang-orang terpengaruh oleh ceramah Sheikh ‘Abd al-Razzaq dan membaca buku “Manazil al-Akhirah.”
Ayahnya berkata kepada Sheikh ‘Abbas, “Wahai anakku, jika kamu menulis buku seperti yang dibaca Sheikh ‘Abd al-Razzaq, apa judul bukumu?”
Sheikh ‘Abbas bertanya, “Apa nama bukunya?” Ayahnya menjawab, “Manazil al-Akhirah.”
Ketika Sheikh ‘Abbas mendengar nama buku tersebut dan menyadari bahwa itu adalah buku yang ia tulis dan terbit, ia berkata kepada ayahnya, “Ayah, berdoalah agar aku mendapatkan kesuksesan.” (Artinya, ia tidak memberitahu ayahnya bahwa dirinya adalah penulis buku yang dibaca oleh Sheikh ‘Abd al-Razzaq).
Salah satu contoh ketulusan Sheikh al-Qumi (semoga Allah merahmatinya) terlihat dalam bukunya tentang doa, “Mafatih al-Jinan.” Orang-orang mendapatkan manfaat darinya, dan hampir setiap hussainiyah, masjid, atau rumah kaum muslimin memiliki salinan buku tersebut. Sheikh ‘Abbas mengatakan bahwa ketika ia menulis “Mafatih al-Jinan,” ia merasa rendah diri dan bertanya pada dirinya sendiri, “Di mana tulisanku dibandingkan dengan tulisan para ulama yang mulia dalam doa dan ziarah? Namun, dengan kehendak Allah dan ketulusan, Mafatih al-Jinan memiliki dampak besar dan memberikan manfaat terutama selama bulan-bulan suci, yaitu Rajab, Sya’ban, dan bulan Ramadhan.”
Artikel ini adalah artikel terjemahan dari artikel di https://almerja.com/more.php?idm=174069





