SHIAHINDONESIA.COM – Allamah Thaba’thobai’, (Semoga Allah merahmatinya), memberikan pendapat mengenai potongan ayat, “إن الذين كفروا” (orang-orang yang kafir), dalamm Al-Quran di mana mereka adalah orang-orang yang telah meneguhkan kekafiran dalam hati mereka.
Di dalam Al-Quran, ada ayat yang berbicara tentang “orang-orang yang kafir.” Ayat ini menggambarkan bagaimana hati mereka telah menjadi keras akibat penolakan berulang. Dalam ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa respon mereka terhadap ancaman dan ketiadaan ancaman serupa.
Namun, perlu diperhatikan bahwa istilah “orang-orang yang kafir” ini umumnya mengacu pada orang-orang kafir di Mekah pada awal misi Nabi Muhammad. Meskipun begitu, konsep ini juga berlaku untuk semua orang kafir (di tempat dan zaman yang berbeda), kecuali ada bukti yang mengindikasikan yang berbeda.
Tidak semua orang kafir dianggap sama dalam Al-Quran. Karena jika kita menutup pintu petunjuk bagi semua orang kafir, maka itu bisa dianggap ketidakadilan. Sebaliknya, Al-Quran menyatakan bahwa banyak orang kafir akhirnya menerima Islam setelah diberi peringatan, sehingga berdakwah kepada mereka memiliki dampak yang positif.
Seorang ahli tafsir terkemuka, At-Thabari, memberikan beberapa pandangan tentang bagaimana ayat ini harus diaplikasikan dalam situasi tertentu. Dia berpendapat bahwa ayat ini awalnya turun sebagai teguran terhadap orang-orang Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah. Mereka menolak Nabi Muhammad Saw. meskipun mereka telah mengetahui kebenaran. Lantas ayat ini menjadi sebuah teguran keras kepada mereka.
Namun, konsep dalam ayat ini juga mencakup yang lain. Allamah Thaba’thabai’ (Semoga Allah merahmatinya) menjelaskan bahwa ketika Al-Quran menggunakan istilah “orang-orang yang beriman” tanpa memberikan konteks tertentu, ini merujuk kepada orang-orang yang pertama kali menerima Islam. Dan ini adalah cara Allah memberi penghargaan khusus kepada mereka.
Penting untuk dipahami bahwa baik kekafiran maupun keimanan adalah atribut yang bisa berubah dan memiliki tingkatan berbeda serta konsekuensi yang beragam.
Sumber:
- Tafsir al-Mizan, Allamah Thaba’thaba’i, jil. 1, hal. 52
- Ibid
- Jamiul Bayan fi Ta’wilil Quran, at-Thabari, jil. 1, hal. 1422
Artikel ini adalah sebuah terjemahan dari artikel asli yang berada di link https://almerja.com/reading.php?idm=214684





