Ibu: Akses Tercepat Terkabulnya Sebuah Doa

SHIAHINDONESIA.COM – Ketika saya memandang ke langit malam yang gelap dan bintang-bintang yang bersinar, sempat terpikir oleh saya bahwa saya seringkali lupa satu bintang yang selalu bersinar dalam hidup kita, seorang ibu.

Ia adalah sumber cinta yang tak pernah pudar, pemandu dalam badai kehidupan, dan pelindung dalam ketakutan. Hati seorang ibu seperti rumah yang hangat, tempat kita selalu dapat kembali, di mana beliau merawat luka-luka kita, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Dalam setiap doa yang ia panjatkan, dalam setiap pelukan yang ia berikan, terdapat keajaiban cinta yang tiada tara.

Saat keriuhan dan kebisingan dunia melanda, saya seringkali menutup telinga dan marah pada Allah, dan orang-orang di sekitar saya. Tidak jarang saya malah melampiaskan kemarahan saya pada orang-orang rumah, termasuk ibu. Dengan raut wajah emosi, saya mengabaikan pertanyaan-pertanyaannya yang sederhana, seperti, “Bagaimana kerjaanmu hari ini?” atau, “Sudah makan? Kalau belum, mau ibu masakin apa?”

Tidak jarang pula tebersit dalam benak saya bahwa suara yang keluar dari mulutnya sangat mengganggu pikiran saya, bahkan semakin menghancurkan suasana hati saya.

Hari-hari berlalu dan saya masih dalam kondisi yang sama hingga saya bertemu dengan seorang anak berusia sekitar 7 tahun di perjalanan pulang saya dari kantor. Saya bertemu dia di pinggir jalan, tepatnya di daerah Margonda Depok. Saat itu, entah kenapa dahaga mencekik tenggorokan saya dan saya pun menepikan motor guna membeli satu botol air mineral yang kebetulan dijual oleh anak tersebut.

Selepas membeli, kening saya mengernyit melihat ia duduk di samping saya dan melemparkan senyuman hangat pada saya. Saya pun bertanya, “Kamu kenapa senyum-senyum? Ada yang aneh di muka saya?”

Dia pun menggelengkan kepala.

“Terus?”

“Tidak ada yang aneh di wajah kaka, hanya saja ada yang aneh di diri kaka.”

Mendengar seorang anak yang perjalanan hidupnya masih terbilang dini melontarkan ucapan seperti itu membuat emosi saya naik. Namun, belum saya membentak atau memarahinya, ia melanjutkan kalimatnya, “Aku tidak bermaksud merendahkan diri kaka. Justru aku sedang berusaha membuat kaka sadar.”

“Maksudnya?”

“Ka, aku sudah hampir dua tahun berjualan air mineral di pinggir kota ini, dan selama itu juga aku melihat berbagai macam karakter manusia. Ada yang mencoba menertawakan dirinya sendiri, mengasihani dirinya sendiri, marah pada dirinya sendiri, kecewa pada dirinya sendiri, atau bingung pada dirinya sendiri. Itu semua mereka lakukan demi melepaskan kepenatan dan permasalahan di dunia ini.”

Jujur, sebagai manusia yang sudah berusia 20 tahunan, saya cukup takjub dengan bagaimana ia berbicara dan menyusun kata-kata, namun anehnya saya masih saja menyimaknya.

“Melihat semua cara itu membuatku tertawa, Ka. Rupanya lamanya seseorang hidup tidak membuat ia sadar bahwa Tuhan telah mengirim mereka akses tercepat dan tercanggih untuk bertemu-Nya sebelum akhirnya Ia akan membantu mereka menyelesaikan masalah-masalah mereka. Kaka tau apa akses tersebut?”

Mendapat pertanyaan itu, saya diam seribu bahasa.

“Ibu, Ka. Seorang ibu adalah jalur paling cepat untuk bertemu dan mengadu pada Tuhan. Kaka pernah mendengar bagaimana Nabi Muhammad menggambarkan pengorbanan seorang ibu?”

Lagi, lagi dan lagi saya hanya diam.

Mendengar itu, aku jadi teringat hadis Nabi Saw., yang bilang begini,

قيل لرسول الله صلى الله عليه و اله و سلم ما حق الوالد؟

قال رسول الله صلى الله عليه و اله و سلم: “ان تطيعه ما عاش

فقيل: ما حق الوالدة؟

فقال رسول الله صلى الله عليه و اله و سلم: هيهات هيهاتو لو انه عدد رمل عالج, و قطر المطر ايام الدنياو قام بين يديها ما عدل ذلك يوم حملته في بطنها

Yang artinya, “Rasulullah pernah ditanya oleh seseorang, “Apa hak seorang ayah?”

Rosulullah pun menjawab, “Hak seorang ayah adalah ditaati selama ia masih hidup.”

Lalu Rasulullah kembali ditanya, “Lalu, apa hak seorang ibu?”

Mendengar itu, Rasulullah segera menjawab, “Seandainya butiran pasir dan air hujan di dunia ini dihitung, maka jumlahnya tidak akan mampu menyamai jumlah hak seorang ibu yang telah mengandung seorang anak dalam perutnya.”

(Al-Mustadrak al-Wasa’il, Mirza Nuri, Jil. 15, Hal. 186 H)

Dalam kata-kata yang sederhana, ungkapan Rasulullah di atas mengajarkan kepada kita tentang keagungan seorang ibu dan pengorbanannya yang tak ternilai. Saat hadis ini menyebutkan bahwa seandainya butiran pasir atau hujan selama sepanjang hari di dunia digunakan untuk mengukur, bahkan itu tidak akan mampu menyamai satu hari ketika seorang ibu mengandung anaknya, kita disadarkan akan kebesaran peran seorang ibu dalam kehidupan kita.

Bayangkan setiap tahap dalam perjalanan kehamilan, setiap detik ketika seorang ibu melindungi dan merawat janin di dalam rahimnya. Itu adalah pengorbanan yang luar biasa. Terkadang kita mungkin lupa akan pengorbanan mereka dalam rutinitas sehari-hari, tetapi kita harus selalu berterima kasih dan berlaku baik kepada mereka.

Lebih dari sekadar melahirkan, seorang ibu memberikan cinta, arahan, dan perlindungan. Mereka adalah sumber kasih sayang yang tidak pernah terputus, bahkan ketika kita tumbuh dewasa. Oleh karena itu, mari kita selalu mengingat dan menghargai ibu kita, karena dalam cinta mereka, kita menemukan satu keajaiban yang mengisi hati kita dengan kebahagiaan dan kehangatan yang tak tergantikan.

Sebelum anak tersebut beranjak pergi, saya menggenggam pergelangan tangannya dan bertanya padanya, “Apa sampai detik ini kamu masih menunaikan hak ibumu?”

Ia tersenyum manis dan menganggukkan kepala.

Saya pun bertanya kembali, “Dengan cara apa?”

“Mengiriminya Al-Fatihah, Ka. Setidaknya surat itu mampu mempermudah perjalanannya saat ini.”

Mendengar itu, tanpa sadar saya melepas genggaman saya dan mematung diam. Tak lama kemudian, kehangatan air mata memenuhi pipi saya. Rupanya, dalam setiap pengorbanan, dalam setiap pelukan hangatnya, dalam setiap doa yang dipanjatkannya, ibu adalah pahlawan sejati.

Kita dapat belajar begitu banyak dari kebaikan dan ketabahannya. Seiring air mata mengering, cinta ibu akan selalu mengalir dalam hati kita, mengingatkan kita akan keagungan peran mereka dalam hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top