SHIAHINDONESIA.COM – Dalam kehidupan manusia, kita tak pernah dibiarkan hidup tanpa nikmat dari Allah. Artinya, setiap manusia mendapatkan nikmat dari-Nya, meski bentuk yang diberikan sangatlah beragam. Bisa berupa materi, seperti harta benda, atau non-materi berupa kesehatan jasmani dan rohani dan sebagainya.
Karenanya, kita yang diberi nikmat tak hanya berhenti di dalam diri kita. Kita masih memiliki tugas lanjutan, yaitu memperluas rezeki tersebit kepada orang lain. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ali Aridha di dalam sebuah hadis yang berbunyi sebagai berikut.
صاحِبُ النِّعمَةِ يَجِبُ أن يُوَسِّعَ عَلى عِيالِهِ
“Orang yang diberi nikmat (oleh Allah) harus memperluas (membagikan) nikmat itu kepada keluarganya.” (Tuhaf al-Uqul, hadis: 233).
Ini adalah nasihat bijak yang mengajarkan tentang tanggung jawab dan keadilan dalam berbagi keberkahan dan nikmat yang diterima dari Allah. Imam Ali Ridha, sebagai tokoh agama Islam, memberikan pesan penting tentang pentingnya menyebarkan kebaikan dan keberkahan kepada keluarga.
Jadi, dalam konteks ini, ungkapan tersebut mendorong orang yang diberi nikmat untuk tidak hanya menikmati nikmat itu sendiri tetapi juga untuk berbagi dengan keluarga mereka, menunjukkan sikap kedermawanan, keadilan, dan kepedulian terhadap orang-orang terdekat.






