Dengan Cara Seperti Apa Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad? (Bagian 1)

SHIAHINDONESIA.COM – Al-Quran adalah kalam ilahi yang paling terbaik dan indah, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Ia juga sebuah mahakarya yang keberadaannya abadi yang turun dari langit ke muka bumi. Kata-katanya adalah yang paling agung dan sempurna, yang hadir memberikan hadiah kepada seluruh manusia berupa agama.

Salah satu pembahasan mendasar terkait al-Quran adalah tentang bagaimana proses turunnya ke muka bumi serta seberapa lama rentang waktu proses turunnya kalam ilahi tersebut. Di dalam artikel kali ini, kami akan menjelaskan bagaimana Al-Quran turun ke muka bumi ini, dan hadir memberikan pencerahan kepada umat manusia.

Surah dan Ayat yang Pertama Kali Turun

Terkait hal ini, manakah surah dan ayat al-Quran yang turun pertama kali kepada Nabi Saw? Di antara para ulama, terjadi sebuah silang pendapat. Dalam hal ini, setidaknya ada empat pandangan yang melandasi turunnya surah dan ayat dalam al-Quran

  1. Awal ayat ketiga atau kelima dari surah al-Alaq
  2. Ayat pertama dari surah al-Mudatsir
  3. Lafaz basmalah
  4. Surah al-Fatihah

Ayat Al-Quran yang Terakhir Kali Turun

Tertulis di dalam banyak riwayat, bahwa sebuah ayat yang paling terakhir  kali turun kepada Nabi Saw. adalah ayat 281 di dalam surah al-Baqarah. Sebagian yang lain mengatakan, ayat terakhir kali yang turun adalah ayat ke-3 di dalam surah al-Maidah. Terkait surah yang terakhir kali turun adalah surah An-Nasr dan Baraah, dan terjadi perselisihan pendapat dalam hal ini, Sekalipun surah An-Nashr yang turun pada Fath-Makkah lebih dominan, karenanya, hanya surah Bara’ah yang kali pertama turun setelah kejadian Fathul Makkah.

Masa Turunnya Sebuah Ayat

Deretan ayat al-Quran yang ada saat ini menjelaskan tentang proses turunnya al-Quran di malam-malam bulan Ramadan

“Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan al-Quran” (QS. Al-Baqarah: 185)

“Sungguh telah kami turunkan al-Quran pada malam yang mulia.” (QS. Ad-Dukhan: 3)

“Kami telah turunkan al-Quran pada malam-malam Qadar.” (QS. Qadr: 1)

Dari penggalan ayat pertama di atas menunjukkan, bahwa al-Quran turun di malam-malam bulan Ramadan, dan ayat kedua di atas turun pada malam yang mulia. Dengan memperhatikan dua ayat di atas, maka akan jelas bahwa yang dimaksud dari malam mulia tersebut adalah malam-malam di bulan Ramadan.

Adapun di dalam barisan ayat ketiga, kalau kita liat dari isi kandungannya, maka kita dapat mengambil beberapa kesimpulan, bahwa di malam bulan Ramadan menunjukkan akan malam yang mulia, yang dinamai dengan lailatul qadar, di mana al-Quran turun pada malam itu.

Maka apa yang terkandung di dalam surah tersebut menjadi jelas, bahwa malam itu adalah malam yang agung, dan hanya satu malam saja, tidak dimaksud beberapa malam. Oleh karena itu, masa turunnya al-Quran terjadi pada satu malam saja, di malam lailatul qadar pada bulan Ramadan.

Terkait hal ini, mungkin akan muncul sebuah pertanyaan, malam manakah yang dimaksud malam lailatul qadar pada bulan Ramadan?

Dalam hal ini, al-Quran tidak memiliki penjelasan, dan di dalam riwayat pun juga disebutkan bahwa malam lailatul qadar adalah malam-malam yang beragam, yang kemudian dinamai dengan lailatul qadar.

Di antaranya yang termasuk adalah pertengahan bulan Syakban. Malam pertama, ketujuh belas, sembilan belas, dua puluh satu, dua puluh tiga dan malam yang kedua puluh empat, kedua puluh lima dan malam kedua puluh tujuh di bulan Ramadan.

Dengan memperhatikan beragam pendapat ini, maka malam-malam yang paling ditegaskan sebagai malam lailatul qadar di dalam bulan Ramadan, di dalam riwayat, jatuh pada malam kedua puluh satu dan malam kedua puluh tiga.

Suatu ketika Imam Ja’far Shadiq ditanya, “Malam manakah lailatul qadar itu?”

“Carilah ia di salah satu malam kedua puluh satu dan dua puluh tiga (Ramadan).”

Zurarah meriwayatkan dari Imam Ja’far, bahwa ia berkata, “Malam kesembilan belas adalah malam penentuan, malam kedua puluh satu adalah malam persetujuan dan malam kedua puluh tiga adalah malam penandatanganan (pengesahan nasib manusia).”

Karenanya, dalam pendapat Syiah, malam lailatul qadar yang dikatakan jatuh di antara dua malam, malam kedua puluh satu dan malam kedua puluh tiga masih menjadai hal yang diragukan, meskipun di dalam sebagian riwayat, bahwa malam kedua puluh tiga lebih mendapat penegasan lebih.

Syekh Shaduq berkata, “Para ulama kami bersepakat, bahwa malam lailatul qadar jatuh pada malam kedua puluh tiga bulan Ramadan.” Dengan berpijak pada ungkapan barusan, bahwa malam lailatul qadar jatuh pada salah satu di antara dua malam, malam kedua puluh satu dan kedua puluh tiga Ramadan.”

Bersambung…

Lanjutan dari tulisan ini bisa Anda baca di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top