SHIAHINDONESIA.COM – Nabi Muhammad Saw. dan para nabi yang lain hadir di muka bumi ini didapuk menjadi tauladan bagi umat manusia. Salah satu hal yang diajarkan mereka kepada kita, adalah tentang bagaimana kita bisa menempatkan diri kita dalam berkomunikasi dengan sesama manusia.
Para nabi, terlebih Nabi Muhammad Saw., mengajak umatnya untuk berbicara dengan sesama manusia sesuai dengan kemampuan akal lawan bicara. Artinya, kita tak dianjurkan untuk berbicara dengan bahasa yang sulit dimengerti bagi mereka yang awam.
Ambil contoh, kita tak disarankan untuk berbicara kepada orang-orang yang tak pernah sekolah tinggi dan tak tahu menahu soal bahasa-bahasa ilmiah, dengan bahasa yang tinggi dan penuh istilah.
Kalau mau meminjam hadis yang dibawakan oleh nabi, maka kita kudu berbicara dengan bahasa mereka, bahasa yang mereka pahami, sesuai dengan kadar kemampuan mereka. Dalam hal ini, Nabi Saw., Bersabda,
رسولُ اللّه ِ صلى الله عليه و آله : إنّا مَعاشِرَ الأنبياءِ اُمِرنا أن نُكلِّمَ النّاسَ على قَدرِ عُقولِهِم .
Rasulullah Saw., bersabda, “Sesungguhnya kami para nabi telah diperintahkan agar kami berbicara dengan manusia sesuai dengan kadar (kemampuan) akal mereka.” (Tuhaf al-Uqul, Jil. 1, hal. 37).
Hadis di atas bukan tanpa alasan. Sebab, dengan berbicara sesuai kemampuan lawan bicara, maka hal itu memudahkan lawan bicara untuk menangkap apa yang sedang kita bicarakan.
Adalah sia-sia jika kita berbicara dengan bahasa yang tak dimengerti oleh lawan bicara, sementara tujuan kita berbicara adalah agar dapat dipahami.
Karenanya, sia-sialah sebuah perkataan yang tak bisa dipahami oleh lawan bicara atau oleh semua orang yang mendengarkannya.






