SHIAHINDONESIA.COM – Tafsir merupakan sebuah ilmu yang berkaitan erat dengan al-Quran. Secara bahasa, kata tafsir diserap dari bahasa Arab, yang terdiri dari tiga huruf asli فسر yang berarti menjelaskan dan menerangkan. Selain makna tersebut, para ahli bahasa juga memaknai kata tafsir sebagai penjelas dari sesuatu yang tertutupi. [1]
Secara istilah, tafsir diartikan sebgai penyingkapan dari hal-hal yang samar dan belum jelas (di dalam kandungan ayat al-Quran) sekaligus menjelaskan maksud dari ayat di dalam al-Quran. [2] Allamah Thaba’ Thaba’i di dalam kitabnya, Tafsir Al-Mizan, mendefinisikan tafsir sebagai berikut. “Tafsir adalah penjelasan dari makna-makna dari al-Quran dan penyingkapan maksud-maksud serta petunjuk-petunjuk di dalamnya.”[3]
Di dalam lembaran sejarah, penafsiran al-Quran sudah dimulai sejak diturunkannya al-Quran kepada diri Nabi Saw. Imam Ali adalah orang pertama yang menafsirkan al-Quran setelah Nabi Saw. Bahkan, ia dijadikan rujukan oleh para sahabat dalam penafsiran al-Quran. Selain Imam Ali, dua orang sahabat, yaitu Ibnu Abbas dan Ubai bin Ka’ab juga dikenal sebagai penafsir al-Quran kala itu.
Setelah itu, jejak mereka diikuti oleh para tabiin dan orang-orang setelahnya. Seiring dengan bergulirnya waktu, penafsiran al-Quran masih tetap berlanjut, namun dengan gaya dan metode yang pusparagam. Metode penafsiran yang paling umum dipakai adalah metode tafsir quran bil quran, tafsir riwa’i dan tafsir aqli.
Adapun tafsir yang lazim dikenal di tengah mazhab Ahlulbait adalah tafsir Qummi karya Ali bin Ibrahim Qummi, Tafsir Tibyan karya Syekh Thusi, Tafsir Majmaul Bayan Karya Fadl bin Hasan Tabarsi, Tafsir Shafi karya Syekh Muhammad Muhsin Feiz Khasyani, Tafsir al-Mizan karya Allamah Thaba’ Thaba’I dan sebagainya.
Pentingnya Tafsir Al-Quran
Al-Quran hadir di tengah umat manusia sebagai petunjuk hidup mereka. Maka, jika kita hendak berada di jalan yang lurus dan mendapatkan petunjuk, memahami al-Quran adalah salah satu kuncinya. Namun, bagi sebagian besar manusia, al-Quran merupakan kitab suci yang susah dipahami kandungannya. Oleh karenanya, untuk menjawab tantangan tersebut, tafsir al-Quran adalah hal yang penting untuk dilakukan.
Sebagaimana yang telah disinggung di atas, Nabi Saw, di samping sebagai sosok yang menerima wahyu, ia juga merangkap sebagai seorang penafsir ulung al-Quran. Bagaimana tidak, bahwa salah satu tugas diutusnya nabi adalah untuk memberi petunjuk bagi manusia dengan memberikan penjelasan isi kandungan di dalam al-Quran, sebab isi dari ayat al-Quranlah yang akan memberikan petunjuk pada kita.
Di dalam salah satu ayat al-Quran, Allah merekam tugas seorang nabi yang bunyinya sebagai berikut.
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan kami turunkan (al-Quran) kepada kama agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir.” (QS. An-Nahl: 44)
Di dalam ayat lain, Allah juga menjelaskan tugas-tugas nabi, yang di antaranya adalah menjelaskan isi dari kandungan al-Quran.
Allah berfirman,
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu kitab (al-Quran) dan Hikmah). (QS. Al-Baqarah: 151)
Dari ayat di atas, secara tidak langsung menjelaskan pada kita tentang pentingnya menafsirkan al-Quran, mengingat tidak semua orang tahu isi kanduangan al-Quran. Maka tafsir al-Quran adalah sebuah jalan yang mempermudah manusia, terlebih mereka yang awam—untuk memahami maksud di dalam ayat al-Quran.
[1] Ibnu Mandzur…
[2] Dars Nameh Va Geroesy-e Tafsiri, Muhammad Reza Esfahani, hal. 23
[3] Al-Mizan fi Tafsiril Quran, Allamah Thaba’ Thaba’I, jil. 1, hal. 4






