Malam 1 Muharram: Saat Langit Turut Menangis

SHIAHINDONESIA.COM – Bagi sebagian umat Islam, malam 1 Muharram adalah awal dari tahun baru Hijriyah—waktu untuk membuat harapan dan resolusi. Tapi bagi pengikut Ahlulbait, malam ini adalah awal dari penderitaan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Malam ini adalah malam ketika kesedihan turun dari langit dan memenuhi dada para pencinta Imam Husain as. Tangisan-tangisan pecah di seluruh penjuru dunia; bukan karena kelemahan, melainkan karena cinta—cinta yang dalam kepada cucu tercinta Nabi Muhammad saw yang syahid di Karbala.

“Malam ini bukan malam biasa. Malam ini adalah awal dari luka yang tak pernah sembuh. Malam ini adalah malam di mana para pecinta kebenaran menundukkan kepala, menanggalkan tawa, dan mengganti pakaiannya dengan hitam. Karena malam ini, bulan Muharram telah datang. Dan Muharram bagi Syiah adalah duka. Duka sepanjang zaman.”

Muharram: Bulan yang Tak Pernah Membawa Tawa

Imam Ja’far ash-Shadiq as, imam keenam Ahlulbait, berkata:

“Sesungguhnya bulan Muharram adalah bulan di mana orang-orang jahiliyah dahulu mengharamkan perang, namun ini adalah bulan di mana darah kami ditumpahkan, kehormatan kami dilanggar, para wanita kami dijadikan tawanan, dan tenda-tenda kami dibakar. Maka bukanlah hari seperti Ashura.”
(Lihat: ‘Amali al-Shaykh al-Saduq, hal. 112)

Maka, bagaimana mungkin hati seorang pecinta Ahlulbait bisa bergembira saat malam 1 Muharram tiba? Bagaimana mungkin lidah bisa mengucapkan selamat tahun baru, saat bulan ini menjadi saksi bisu atas pembantaian keluarga Nabi sendiri?

Para Imam Ahlulbait mencontohkan bahwa saat bulan ini datang, wajah mereka muram, hati mereka hancur. Imam Ali Zainal Abidin as berkata:

“Setiap kali bulan Muharram masuk, ayahku (Imam Husain as) tak pernah terlihat tertawa, dan kesedihan menyelimutinya hingga datangnya hari kesepuluh.”
(Bihar al-Anwar, jilid 44, hal. 284)

Bagi Syiah, tawa pada malam ini adalah pengkhianatan terhadap air mata Zainab as, terhadap teriakan Abbas as, terhadap rintihan Ali Asghar yang haus dan tak menemukan tetesan air. Malam ini bukan milik pesta, malam ini adalah milik tangis.

Malam Dimulainya Ratapan Abadi

Sejak malam ini, rumah-rumah para pecinta Ahlulbait berubah menjadi mimbar. Baju hitam dikenakan sebagai lambang duka. Lilin dinyalakan. Tangisan dipersiapkan. Anak-anak bahkan diajari untuk menangis demi Husain. Sebab, di dalam tangisan itu ada makna. Tangisan itu bukan sekadar emosi—ia adalah ibadah.

Imam Ja’far ash-Shadiq as meriwayatkan dari kakeknya:

“Barangsiapa menangis untuk Husain, atau menangis karena ia menangis untuk Husain, maka Allah akan menjadikannya di surga bersama para syuhada.”
(Wasā’il al-Shīʿah, jilid 14, hal. 504)

Dan di malam pertama ini, ratapan pun dimulai. Ratapan itu akan berlangsung sepanjang sepuluh malam hingga mencapai puncaknya pada hari kesepuluh: hari Ashura. Malam-malam itu adalah malam-malam zikir dalam duka. Malam-malam memanggil kembali peristiwa Karbala dari ingatan sejarah, menghadirkannya di hadapan hati, agar setiap jiwa merasakannya bukan sebagai cerita, tapi sebagai kenyataan batin yang membekas.

Sayyidah Zainab dan Malam Penuh Firasat

Diriwayatkan bahwa pada malam-malam awal bulan Muharram, Sayyidah Zainab as, saudari Imam Husain, mengalami mimpi yang membuat hatinya gundah. Ia bermimpi melihat bintang-bintang jatuh dan tanah Karbala berubah menjadi merah darah. Ketika ia terbangun, ia langsung menghampiri saudaranya, Imam Husain as, dan dengan suara bergetar bertanya:

“Apakah engkau benar-benar akan pergi? Apakah ini perpisahan terakhir kita, wahai cahaya mataku?”

Imam Husain menunduk. Ia tahu. Malam ini bukan sekadar malam pertama dalam penanggalan baru. Ini adalah malam di mana langkahnya menuju pengorbanan telah dimulai. Ini adalah malam ketika waktu mulai menghitung mundur, menunggu peristiwa paling menyayat dalam sejarah manusia.

Air Mata yang Menghidupkan Hati

Mengapa Syiah menangis? Mengapa mereka menolak tertawa dalam sepuluh hari pertama Muharram? Karena mereka telah belajar bahwa air mata bukan kelemahan, tapi kekuatan. Mereka menangis bukan hanya untuk Husain, tapi untuk segala yang diperjuangkan oleh Husain: keadilan, kebenaran, kemuliaan, dan Islam sejati.

Dalam sebuah hadis, Imam Ridha as berkata:

“Jika engkau ingin menempati tempat kami di surga, maka bersedihlah untuk kesedihan kami dan bergembiralah untuk kegembiraan kami.”
(‘Uyūn Akhbār al-Riḍā, jilid 1, hal. 299)

Tangisan menjadi jalan spiritual, menyucikan hati dari cinta dunia, dan menanamkan keberanian untuk melawan kezaliman. Dari majelis-majelis inilah lahir ruh revolusi, keberanian, dan keteguhan. Karena di setiap tetes air mata, ada semangat untuk tidak tunduk pada Yazid di zaman mana pun.

Muharram Adalah Milik Jiwa yang Tak Mau Bungkam

Muharram bukan milik kalender. Ia milik hati. Ia milik jiwa-jiwa yang menolak untuk melupakan. Jiwa-jiwa yang tahu bahwa sejarah bukan hanya masa lalu, tapi panggilan bagi masa kini. Bagi Syiah, malam ini adalah malam ketika mereka memperbarui janji kepada Imam Husain:

“Wahai Aba Abdillah, andai aku bersama engkau di Karbala, aku tak akan meninggalkanmu. Aku akan berdiri di sampingmu, meski harus gugur dalam badai panah dan pedang.”

Malam 1 Muharram adalah malam pertama dari obor duka yang tak pernah padam. Obor itu menyala di setiap dada Syiah yang mencintai kebenaran. Obor itu tak bisa dipadamkan oleh waktu, oleh ancaman, atau oleh kekuasaan. Sebab ia adalah cahaya dari darah suci Imam Husain, dan cahaya itu akan terus hidup, selama masih ada satu jiwa yang menangis karena cinta.

Selamat datang, wahai Muharram. Kami tidak menyambutmu dengan senyuman. Kami menyambutmu dengan air mata, dengan dada yang pedih, dan dengan cinta yang tak pernah mati untuk Husain dan Karbala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top