SHIAHINDONESIA.COM – Ya Allah…
Aku datang kepada-Mu dengan kepala tertunduk dan hati yang penuh sesak. Aku tidak ingin mengeluh, sungguh tidak. Tapi di antara semua yang harus kupikul hari ini, rasanya aku perlu berbicara. Bukan untuk menuntut, hanya ingin didengar.
Aku sedang berada di titik di mana aku merasa takut melihat hari esok. Bukan karena aku tak percaya pada-Mu, tapi karena aku terlalu sadar bahwa hidup ini tak pernah semudah yang terlihat. Usia terus bertambah, dan bersamanya datang serangkaian tanggung jawab yang tak bisa kuelakkan. Tuntutan pekerjaan, kebutuhan keluarga, tekanan sosial, ekspektasi orang tua, dan yang paling terasa berat… urusan keuangan yang tak pernah selesai.
Setiap hari aku menghitung. Menghitung gaji, menghitung pengeluaran, menghitung kebutuhan yang tak bisa ditunda, menghitung utang yang harus dibayar. Tapi yang paling melelahkan dari semuanya adalah menghitung kekuatan diriku sendiri… yang perlahan mulai menipis.
Aku bukan orang yang malas. Aku bekerja, aku berusaha, aku bahkan mencoba mencari peluang tambahan. Tapi tetap saja, penghasilan yang kuterima seolah hanya mampir sebentar. Belum sempat bernapas lega, sudah habis lagi. Dan setiap kali seperti itu, yang datang adalah rasa bersalah: “Apa aku kurang cakap? Apa aku kurang cerdas? Apa aku tidak cukup berusaha?”
Aku tahu rezeki datang dari-Mu. Tapi hati manusia ini lemah. Ketika melihat orang lain seumuranku sudah bisa beli rumah, sudah punya kendaraan sendiri, bisa membahagiakan orang tuanya dengan hadiah dan liburan, sementara aku… masih sibuk memikirkan apakah besok cukup untuk beli beras dan bayar listrik. Aku bukan iri. Aku hanya ingin bisa tenang. Aku ingin merasa cukup.
Terkadang, muncul suara-suara menggoda di pikiranku: “Coba saja cari jalan pintas… semua orang juga begitu sekarang.” Tapi hatiku gemetar. Aku takut kehilangan kejujuran. Aku takut mencari rezeki dari jalan yang Engkau murkai. Aku tahu, rezeki halal itu mungkin datang lebih lambat, tapi hanya itu yang membuat tidurku tetap nyenyak walau hanya beralaskan tikar.
Ya Allah…
Berapa banyak lagi malam yang harus kulewati dengan mata terbuka, bukan karena tidak mengantuk, tapi karena kepalaku penuh dengan beban? Aku berpikir tentang masa depan. Bagaimana kalau nanti aku menikah? Bagaimana kalau aku harus menafkahi lebih banyak orang? Bagaimana kalau aku tidak cukup kuat untuk menghadapi semua ini?
Tapi di saat yang sama, aku sadar… bahwa selama ini, aku masih hidup. Masih bisa makan, masih punya tempat untuk berlindung, masih bisa berdoa. Mungkin bukan kemewahan, tapi cukup untuk tetap berjalan.
Aku membaca firman-Mu, Ya Rabb:
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.”
(QS. At-Talaq: 2-3)
Aku menggenggam ayat itu kuat-kuat. Karena hanya itu yang bisa kujadikan pegangan di saat semua pintu seakan tertutup. Tapi sungguh… menjalani hari dengan percaya pada sesuatu yang belum terlihat, itu tidak mudah. Tapi aku terus berlatih. Berlatih percaya, berlatih sabar, berlatih bersyukur meski hanya punya sedikit.
Aku tahu, Engkau sedang membentukku. Mengajarkanku bahwa kekuatan bukan hanya soal fisik atau uang, tapi tentang hati yang tetap memilih kebaikan walau dalam kesempitan. Tentang tetap percaya bahwa Engkau tidak akan membiarkanku sendirian.
Ya Allah…
Aku tidak minta kaya raya. Aku tidak minta hidup tanpa ujian. Aku hanya ingin hidup dengan hati yang tenang. Aku ingin tetap bisa menunaikan amanah-Mu tanpa harus menggadaikan nilai-nilai yang Engkau ajarkan.
Jika boleh aku meminta, izinkan aku tetap istiqamah dalam kejujuran. Jangan biarkan aku terperosok dalam kehausan dunia yang membuatku melupakan akhirat. Ajarkan aku untuk terus berusaha tanpa menjadi hamba uang. Ajarkan aku bahwa rezeki bukan hanya apa yang masuk ke kantong, tapi juga apa yang menenangkan hati.
Dan ketika aku merasa terlalu lelah, peluk aku dengan rahmat-Mu. Kirimkan sedikit cahaya agar aku tahu bahwa jalan ini masih layak diperjuangkan.
Hari ini, aku masih bertahan. Mungkin dengan langkah gontai, tapi aku belum berhenti. Karena aku tahu, Engkau tidak akan menyia-nyiakan air mata dan usaha hamba-Mu. Aku tahu, ada hari di mana aku akan melihat ke belakang dan berkata, “Inilah saat-saat di mana Allah sedang mendidikku dengan penuh cinta.”
Maka kuatkan aku, Ya Rabb…
Sebab meski aku ragu pada dunia, aku tak ingin ragu pada-Mu.
Noted: Silakan Mendengar dalam Bentuk Rekaman.





