SHIAHINDONESIA.COM – Hari ini, Islam di negeri ini sedang dirampas—bukan oleh orang kafir, bukan oleh musuh luar, tapi oleh sebagian ormas keagamaan yang merasa paling Islam, paling berhak atas kebenaran, dan paling pantas menentukan siapa yang selamat dan siapa yang sesat.
Mereka membungkus diri dengan jubah dakwah, tapi lidahnya lebih tajam dari pedang. Setiap perbedaan tafsir dianggap penyimpangan. Setiap kelompok di luar mereka dicap sesat, bahkan kafir. Mereka melabeli umat Islam sendiri seakan memiliki stempel surgawi di tangan kanan dan cap neraka di tangan kiri.
Inikah wajah Islam yang kalian perjuangkan? Islam penuh dengki, tudingan, dan kebencian? Islam yang takut berbeda dan kering dari akhlak?
Kebenaran Tidak Pernah Butuh Kekerasan
Terlalu banyak ormas di negeri ini yang mengira jumlah anggota adalah ukuran kebenaran, bahwa pengeras suara dan barisan massa bisa menggantikan dalil, ilmu, dan hikmah.
Padahal, Allah Ta’ala memperingatkan kita:
“Jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Al-An’am: 116)
Mayoritas bukan jaminan. Sorak-sorai bukan ukuran. Sebab kebenaran hanya bisa diraih oleh mereka yang rendah hati dalam mencari dan ikhlas dalam menerima.
Sayangnya, banyak ormas hari ini sibuk membangun panggung fanatisme, bukan ruang dialog. Mereka lebih suka menutup forum ilmiah yang tak sejalan dengan mereka daripada duduk bersama mencari kebenaran bersama.
Mereka tak takut pada Allah, tapi takut pada berbeda. Dan ketakutan itu mereka bungkus dengan jargon-jargon suci, agar seolah-olah tindakan mereka adalah jihad.
Jangan Kafirkan Orang yang Allah Masih Beri Petunjuk
Tuduhan kafir bukan hal ringan. Itu bukan kutipan status medsos, bukan lelucon warung kopi. Rasulullah memperingatkan:
“Jika seseorang berkata kepada saudaranya, ‘Wahai kafir!’ maka ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya. Jika tuduhan itu tidak benar, maka ucapan itu akan kembali kepada si pengucap.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kata “kafir” bukan mainan mulut. Tapi lihatlah hari ini: seolah tak ada hari tanpa ormas-ormas tertentu mengkafirkan sesama Muslim. Bahkan hanya karena berbeda dalam bacaan qunut, cara bersedekap, atau siapa yang mereka rujuk sebagai ulama, sudah cukup bagi mereka untuk mengangkat telunjuk dan berkata, “Kau sesat!”
Sungguh ini bukan dakwah. Ini penghancuran Islam dari dalam. Ini adalah arogansi berjubah agama.
Kebenaran Tidak Butuh Polisi Moral yang Brutal
Apa hak kalian menutup majelis ilmu orang lain? Apa hak kalian memaksa orang berpakaian seperti kalian? Apa hak kalian melabeli sesat hanya karena orang lain tidak menyebut “amin” dengan keras?
Kalian bukan Tuhan. Kalian bukan pemilik surga. Bahkan Rasulullah sendiri, manusia paling mulia dan maksum, tidak pernah mencela umatnya karena perbedaan cabang-cabang fikih.
Apakah kalian lebih suci dari Rasulullah? Lebih tinggi dari para sahabat dan ulama salaf yang berbeda mazhab tapi saling menghormati?
“Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Qasas: 56)
Jika Allah saja tidak memaksa orang beriman, siapa kalian yang memaksa dan memvonis?
Fanatisme Membunuh Akal dan Merusak Citra Islam
Fanatisme kelompok adalah penyakit kronis. Ia membuat pemeluknya buta terhadap akhlak dan tuli terhadap peringatan. Setiap kritik dianggap serangan. Setiap seruan damai dianggap kelemahan. Lalu, demi apa semua itu kalian lakukan?
Apakah demi Allah? Tidak.
Demi ego. Demi simbol. Demi eksistensi kelompok.
Kalian lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan akhlak. Kalian lebih gencar melawan sesama Muslim daripada melawan kebodohan, korupsi, atau kezaliman nyata yang mencabik negeri ini.
Apa kalian lupa sabda Nabi Muhammad saw?
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tapi kalian menzalimi saudaranya hanya karena ia berbeda guru ngaji. Kalian meninggalkannya hanya karena ia berbeda warna peci.
Penutup: Kembalilah ke Akhlak, Bukan Amarah
Jika kalian benar mencintai Islam, kembalilah pada akhlak Rasulullah, bukan emosi kalian.
Jika kalian ingin membela Islam, jangan dimulai dari vonis kafir, tapi dari ilmu dan cinta.
Jika kalian ingin menjadi pembawa kebenaran, jangan jadikan lisan kalian lebih tajam dari pedang musuh.
Jangan jadikan Islam sebagai tembok pemisah yang penuh cercaan. Jadikan Islam sebagai jembatan hati yang menuntun umat pada rahmat dan hidayah.
Sebab Islam bukan tentang siapa yang paling bising dalam ceramah, tapi siapa yang paling lembut dalam perbedaan.
