SHIAHINDONESIA.COM – Malam ini, kau terjaga dalam keheningan. Bantal yang kau sandarkan di wajahmu telah basah oleh air mata. Di dadamu ada beban berat yang tak bisa kau ceritakan pada siapa pun. Hati kecilmu merintih, memohon agar rasa sesak ini hilang.
“Ya Allah, apakah Engkau masih mau menerimaku?”
Suara hatimu lirih, penuh harap yang nyaris padam.
Dosa-dosa yang kau lakukan begitu banyak. Kesalahan yang kau perbuat seakan menumpuk tanpa henti. Kau telah mengkhianati kebaikan, mengabaikan peringatan, dan melupakan Allah di saat-saat kau merasa kuat.
Kini, setelah semua yang terjadi, setelah luka itu menganga dan rasa sesal begitu dalam menghantam hatimu, kau merasa tak pantas untuk kembali.
“Apakah Allah masih peduli padaku?”
Kau merasa seolah-olah telah menjauh begitu jauh hingga tak mungkin kembali. Kau merasa seakan dosa-dosamu terlalu besar untuk bisa diampuni. Kau merasa bahwa setiap langkahmu hanya menuju kehancuran.
Tapi dengarlah…
Allah tidak pernah menutup pintu taubatmu.
Allah tidak pernah membencimu. Allah tidak pernah meninggalkanmu.
Setiap detik yang kau jalani, setiap hembusan nafas yang masih berhembus di dadamu, adalah bukti bahwa Allah masih menunggumu. Bahwa Allah masih membuka jalan bagimu untuk kembali.
“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa: 110)
Lihatlah betapa luasnya kasih sayang-Nya. Lihatlah bagaimana Allah tidak membatasi taubatmu dengan jumlah kesalahan yang telah kau lakukan.
Kau bisa jatuh seribu kali, dan Allah masih akan menyambutmu jika kau ingin bangkit.
Kau bisa mengkhianati-Nya berkali-kali, dan Allah masih menunggu pengakuan jujurmu.
Kau bisa membuat kesalahan yang membuat manusia membencimu, tapi Allah tidak seperti manusia.
Manusia akan menghakimi dan menjauhimu.
Manusia akan memandangmu hina dan tidak percaya padamu lagi.
Manusia mungkin tidak akan pernah memberi kesempatan kedua.
Tapi Allah?
Allah akan selalu ada untukmu.
Di saat kau merasa sendirian, di saat dunia terasa gelap, di saat kau merasa tak ada yang memahami beban yang kau pikul, ingatlah bahwa Allah lebih dekat dari urat lehermu.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Tidak ada jarak yang terlalu jauh antara dirimu dan Allah. Tidak ada hijab yang terlalu tebal hingga doa-doamu tak bisa mencapai-Nya.
Yang perlu kau lakukan hanyalah kembali.
Bangkit.
Menangis dalam sujudmu.
Memohon ampunan dari hati yang paling dalam.
Dan Allah akan membalas dengan cinta yang tak terbatas.
“Sesungguhnya Allah lebih bahagia dengan taubat hamba-Nya daripada seseorang yang kehilangan untanya di tengah padang pasir, lalu menemukannya kembali.”
(HR. Muslim)
Bayangkan seorang musafir di tengah padang pasir yang kehilangan satu-satunya unta yang membawa air dan makanan.
Dia kehausan. Dia hampir mati.
Hingga di saat ia hampir putus asa, ia menemukan untanya kembali. Kebahagiaannya tak terlukiskan, air matanya mengalir, hatinya penuh syukur.
Dan Allah? Allah lebih bahagia daripada itu ketika melihatmu kembali kepada-Nya.
Tak peduli seberapa jauh kau tersesat. Tak peduli seberapa dalam kau jatuh. Tak peduli seberapa buruk masa lalumu.
Selama kau masih hidup, selama kau masih bernafas, Allah masih memberimu kesempatan untuk kembali.
Setan akan berbisik padamu, mencoba meyakinkanmu bahwa semua sudah terlambat.
“Dosa-dosamu terlalu besar.”
“Kau sudah terlanjur jauh.”
“Allah tidak akan menerimamu lagi.”
Jangan dengarkan itu. Itu semua kebohongan.
“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.”
(QS. An-Nisa: 76)
Jangan biarkan rasa putus asa meracuni hatimu. Jangan biarkan perasaan tidak pantas menghalangimu untuk mendekat kepada Allah.
Karena yang sebenarnya terjadi adalah: Allah tidak pernah berhenti mencintaimu.
Kau bisa membawa dosa sebanyak pasir di lautan, sebanyak bintang di langit, dan Allah masih akan mengampunimu jika kau mau bertaubat.
Allah tidak ingin menghukummu.
Allah tidak ingin mencampakkanmu.
Allah ingin menyelamatkanmu.
Karena itu, bangkitlah.
Kembali pada-Nya dengan hati yang penuh harapan.
Basahi bibirmu dengan istighfar.
“Dan barang siapa yang bertaubat dan beramal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
(QS. Al-Furqan: 71)
Malam ini, saat dunia tertidur, saat hanya kau dan Allah yang terjaga, sujudlah.
Katakan pada-Nya:
“Ya Allah, aku telah berbuat dosa, aku telah salah, aku telah menjauh dari-Mu. Tapi kini aku datang, aku mengetuk pintu-Mu, aku menangis di hadapan-Mu. Aku tidak punya siapa-siapa selain Engkau, tidak ada yang bisa menolongku selain Engkau. Aku ingin kembali, aku ingin menjadi hamba-Mu yang Engkau cintai. Ya Allah, jangan tutup pintu ampunan-Mu dariku.”
Dan percayalah…
Allah akan menerimamu.
Allah tidak butuh alasan untuk mencintaimu.
Allah tidak butuh syarat untuk mengampunimu.
Allah hanya butuh satu hal darimu: tulusnya hatimu untuk kembali.
Tak ada dosa yang lebih besar dari rahmat-Nya.
Tak ada kesalahan yang lebih besar dari kasih sayang-Nya.
Maka kembalilah.
Sekarang.
Sebelum ajal menjemput, sebelum waktu habis.
Allah menunggumu. Allah mencintaimu. Allah ingin melihatmu kembali dalam pelukan rahmat-Nya.
Jangan biarkan setan menipumu dengan keputusasaan. Jangan biarkan masa lalumu menghancurkan masa depanmu.
Karena Allah…
Selalu menerima hamba-Nya yang kembali.
“Maka, apakah mereka tidak mau kembali kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma’idah: 74)





