Apa Alasan Imam Hasan Al-Mujtaba Berdamai dengan Mu’awiyah?

SHIAHINDONESIA.COM – Salah satu yang menjadi pertanyaan di antara kita terkait dengan para imam maksum adalah, mengapa mereka tidak memiliki arah sosial-politik yang tetap dan sama?

Jawabannya adalah, bahwa setiap kondisi selalu mengalami perubahan, di mana perubahan itu menuntut arah politik mereka untuk diubah. Kita tahu, bahwa mereka adalah pemimpin umat, baik untuk urusan dunia maupun akhirat, maka mereka berpolitik menyesuaikan zaman dan kondisi yang dialaminya saat itu, sesuai kondisi yang ada.

Menjadi sebuah hal yang alami, bahwa kondisi kehidupan seorang imam maksum berbeda dengan imam maksum yang lain, bahkan untuk para imam yang hidup satu zaman, ada kemungkinan memiliki perbedaan dan kebijakan masing-masing dalam bersikap dan berpolitik. Perbedaan kondisi inilah yang menuntut para imam untuk mengubah strategi dalam berpolitik.

Di sisi yang lain, salah satu tugas mulia para imam maksum adalah untuk menjaga syariat Allah Swt dan kemaslahatan di tengah umat manusia, yang dalam praktiknya, kitab bisa melihat strategi dalam berpolitiknya, yaitu ada masanya mereka bergerak dan melawan musuh, ada masanya pula mereka diam dan berdamai dengan musuh, semua itu dilakukan sesuai dengan kondisi saat itu.

Kita bisa melihat, bagaimana Rasulullah Saw. berdamai dengan orang-orang musyrik dan Yahudi, dan dalam kondisi yang lain ia berdamai dengan orang-orang Musyrik, yang kemudian perdamaian itu kita kenal dengan ‘perdamaian Hudaibiyah’.  Pun dengan Imam Ali as., yang memilih diam di hadapan para khalifah kala itu dalam rentang waktu 25 tahun. Diamnya Imam Ali bukan karena ia merasa tidak layak di hadapan para khalifah atau tidak memiliki kompetensi dengan mereka, namun lebih kepada memikirkan kemaslahatan umat dan dalam rangka misi menjaga agama Allah Swt.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Imam Hasan Mujtaba, yang kala itu berdamai dengan Mu’awiyah yang notabene jelas-jelas sebagai musuh keluarga nabi. Apa yang membuat Imam Hasan berdamai, setidaknya memiliki beberapa alasan, di antaranya sebagai berikut.

  1. Untuk menjaga dirinya dan para pengikutnya
  2. Tidak adanya dukungan dari para pengikutnya untuk berperang dangan Mu’awiyah atau dengan kata lain, umat kala itu tidak memiliki kesiapan, baik dari sisi kemiliteran dan yang lainnya.
  3. Mencegah dari peristiwa berdarah
  4. Untuk menjaga agama Allah

Setidaknya, itulah  yang menjadi alasan mengapa Imam Hasan Mujtaba memilih diam di hadapan Mu’awiyah. Diam di sini bukan berarti takut dan tidak melakukan apa-apa, namun lebih kepada ‘kerja cerdas’ yang dilakukannya demi menciptakan kemaslahatan di tengah umat dan tidak menciptakan kekacauan, hanya karena ia gegabah dalam mengambil sikap. Imam benar-benar memperhitungkan dengan matang dampak yang akan terjadi, bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk umat dan agama Allah yang mulia.

Inilah alasan kenapa arah politik para imam kita berbeda-beda, sebab mereka bergerak menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Apa yang terjadi saat itu, maka dengan cara yang sesuai di zaman itulah mereka bersikap dan bertindak, yang tujuannya demi kemaslahatan umat dan agama Allah Swt.

Kami turut berdukacita atas hari syahadah Imam Hasan Al-Mujtaba, yang syahid pada 28 Safar 50 Hijriah.

Salam kepadamu  Ya Karima Ahlulbait.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top